<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671</id><updated>2011-10-31T15:05:11.235+07:00</updated><title type='text'>[blog tanobatak]</title><subtitle type='html'>sebagian atau keseluruhan dari isi blog ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber. pencantuman sumber sedapat mungkin dilakukan sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban dengan tujuan untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan semata. penggunaan/ pengutipan  isi situs ini oleh pihak ketiga selayaknya menghubungi sumber yang tertera. penyalahgunaan materi diluar itu, bukan merupakan tanggung jawab penyusun weblog ini.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tanobatak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-114042981370279350</id><published>2006-02-20T17:03:00.000+07:00</published><updated>2006-02-20T17:03:33.743+07:00</updated><title type='text'>Arsitektur Tradisional Batak</title><content type='html'>Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Suku Batak Toba adalah masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal sebagai penduduk asli disekitar Danau Toba di Tapanuli Utara. Pola perkampungan pada umumnya berkelompok. Kelompok bangunan pada suatu kampung umumnya dua baris, yaitu barisan Utara dan Selatan. Barisan Utara terdiri dari lumbung tempat menyimpan padi dan barisan atas terdiri dari rumah adat, dipisahkan oleh ruangan terbuka untuk semua kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa-desa di daerah Danau Toba, meskipun saat ini telah kehilangan dibandingkandengan bentuk desa masa lampau, tetapi ciri yang umum masih ada bahkan pada desa-desa yang kecil, yaitu dikelilingi oleh sebuah belukar bambu. Pohon-pohon bambu sangat tinggi dan seringkali sulit untuk melihat rumah-rumahnya dari luar desa itu, kecuali didaerah yang berbukit. Di sekitar Balige, poros bangunan yang panjang mempunyai arah Utara-Selatan sedang di daerah bukit poros bangunan yang panjang sering diorientasikan secara melintang ke arah sudut-sudut yang tepat ke lereng-lereng bukit. Di daerah Samosir, poros bangunan yang panjang diarahkan ke Timur-Barat. &lt;br /&gt;Pada mulanya Huta, Lumban, atau kampung itu hanya dihuni oleh satu klan atau marga dan Huta itu pun di bangun oleh klan itu sendiri. Jadi sejak mulanya Huta itu adalah milik bersama. Sebagaimana ciri khas orang Batak yang suka gotong royong, demikianlah mereka membangun Huta. Oleh karena Huta didiami oleh sekelompok orang yang semarga, maka ikatan kekeluargaan sangat erat di Huta itu. Mereka secara gotong royong membangun dan memperbaiki rumah, secara bersama-sama memperbaiki pancuran tempat mandi, memperbaiki pengairan, mengerjakan ladang dan sawah, dan bersama-sama pula memetik hasilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya Huta hanya didiami beberapa anggota keluarga yang berasal dari satu leluhur. Disebabkan oleh pertambahan penduduk, kemudian dibangunlah rumah dekat rumah leleuhur atau ayah yang pertama. Demikian seterusnya bangunan rumah makin bertambah, sehingga terbentuk perkampungan yang lebih ramai. Sering pula kampung itu terdiri dari beberapa kelompok kampung-kampung kecil, yang hanya dipisahkan pagar bambu yang ditanam dipinggiran kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya usaha beberapa orang dari anggota masyarakat dalam satu kampung untuk memisahkan diri dan membentuk kampung sendiri, dapat membuat berdirinya Huta lain. Suatu Huta yang baru, hanya dapat diresmikan kalau sudah ada ijin dari Huta yang lama (Huta induk) dan telah menjalankan suatu upacara tertentu yang bersifat membayar hutang kepada Huta induk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo. Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan kadang-kadang dilekatkan tanduk kerbau, sehingga rumah adat itu menyerupai kerbau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggung kerbau adalah atap yang melengkung, kaki-kaki kerbau adalah tiang-tiang pada kolong rumah. Sebagai ukuran dipakai depa, jengkal, asta dan langkah seperti ukuran-ukuran yang pada umumnya dipergunakan pada rumah-rumah tradisional di Jawa, Bali dan daerah-daerah lain. Pada umumnya dinding rumah merupakan center point, karena adanya ukir-ukiran yang berwarna merah, putih dan hitam yang merupakan warna tradisional Batak. &lt;br /&gt;Ruma Gorga Sarimunggu yaitu ruma gorga yang memiliki hiasan yang penuh makna dan arti. Dari segi bentuk, arah motif dapat dicerminkan falsafah maupun pandangan hidup orang Batak yang suka musyawarah, gotong royong, suka berterus terang, sifat terbuka, dinamis dan kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruma Parsantian didirikan oleh sekeluarga dan siapa yang jadi anak bungsu itulah yang diberi hak untuk menempati dan merawatnya. Di dalam satu rumah dapat tinggal beberapa keluarga , antara keluarga bapak dan keluarga anak yang sudah menikah. Biasanya orangtua tidur di bagian salah satu sudut rumah. Seringkali keluarga menantu tinggal bersama orangtua dalam rumah yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos yang terdiri dari adanya tritunggal benua, yaitu : Benua Atas yang ditempati Dewa, dilambangkan dengan atap rumah; Benua Tengah yang ditempati manusia, dilambangkan dengan lantai dan dinding; Benua Bawah sebagai tempat kematian dilambangkan dengan kolong. Pada jaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar-kamar dan naik ke rumah harus melalui tangga dari kolong rumah, terdiri dari lima sampai tujuh buah anak tangga. Bersambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Sebelum meletakkan pondasi lebih dahulu diadakan sesajen, biasanya berupa hewan, seperti kerbau atau babi. Caranya yaitu dengan meletakkan kepala binatang tersebut ke dalam lubang pondasi, juga darahnya di tuang kedalam lubang. Tujuannya supaya pemilik rumah selamat dan banyak rejeki di tempat yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiang yang dekat dengan pintu (basiha pandak) yang berfungsi untuk memikul bagian atas, khususnya landasan lantai rumah dan bentuknya bulat panjang. Balok untuk menghubungkan semua tiang-tiang disebut rassang yang lebih tebal dari papan. Berfungsi untuk mempersatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku). Pintu kolong rumah digunakan untuk jalannya kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangga rumah terdiri dari dua macam, yaitu : pertama, tangga jantan (balatuk tunggal), terbuat dari potongan sebatang pohon atau tiang yang dibentuk menjadi anak tangga. Anak tangga adalah lobang pada batang itu sendiri,berjumlah lima atau tujuh buah. Biasanya terbuat dari sejenis pohon besar yang batangnya kuat dan disebut sibagure. Kedua, tangga betina (balatuk boru-boru), terbuat dari beberapa potong kayu yang keras dan jumlah anak tangganya ganjil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang-tiang depan dan belakang rumah adat satu sama lain dihubungkan oleh papan yang agak tebal (tustus parbarat), menembus lubang pada tiang depan dan belakang. Pada waktu peletakannya, tepat di bawah tiang ditanam ijuk yang berisi ramuan obat-obatan dan telur ayam yang telah dipecah, bertujuan agar penghuni rumah terhindar dari mara bahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adat Batak Toba pada bagian-bagian lainnya terdapat ornamen-ornamen yang penuh dengan makna dan simbolisme, yang menggambarkan kewibawaan dan kharisma. Ornamen-ornamen tersebut berupa orang yang menarik kerbau melambangkan kehidupan dan semangat kerja, ornament-ornamen perang dan dan sebagainya. Teknik ragam hias terdiri dari dua cara, yaitu dengan teknik ukir teknik lukis. Untuk mengukir digunakan pisau tajam dengan alat pemukulnya (pasak-pasak) dari kayu. Sedangkan teknik lukis bahannya diolah sendiri dari batu-batuan atau pun tanaga yang keras dan arang. Atap rumah terbuat dari ijuk yang terdiri dari tiga lapis. Lapisan pertama disebut tuham-tuham ( satu golongan besar dari ijuk, yang disusun mulai dari jabu bona tebalnya 20 cm dan luasnya 1x1,5 m2). Antara tuham yang satu dan dengan tuham lainnya diisi dengan ijuk agar permukaannya menjadi rata. Lapisan kedua, yaitu lalubaknya berupa ijuk yang langsung diambil dari pohon Enau dan masih padat, diletakkan lapis ketiga. Setiap lapisan diikat dengan jarum yang terbuat dari bambu dengan jarak 0,5 m. &lt;br /&gt;Sebelum mendirikan bangunan diadakan musyawarah terlebih dahulu. Hasil musyawarah dikonsultasikan kepada pengetua untuk memohon nasihat atau saran. Setelah diadakan musyawarah, tindakan berikutnya adalah peninjauan tempat. Apabila tempat tersebut memenuhi persyaratan, maka ditandai dengan mare-mare yakni daun pohon enau yang masih muda dan berwarna kuning, yang merupakan pertanda atau pengumuman bagi penduduk disekitarnya bahwa tempat tersebut akan dijadikan bangunan. &lt;br /&gt;Tahap pertama adalah pencarian pohon-pohon yang cocok kemudian ditebang dan dikumpulkan disekitar tempat-tempat yang akan didirikan rumah. Kemudian bahan-bahan tersebut ditumpuk ditempat tertentu agar terhindar dari hujan dan tidak cepat lapuk atau menjadi busuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendirikan suatu rumah adat biasanya memakan waktu sampai lima tahun. Sudah barang tentu memakan biaya banyak, karena banyaknya hewan yang dikorbankan, untuk memenuhi syarat-syarat dan upacara-upacara yang diadakan, baik sebelum mendirikan bangunan (upacara mengusung bunti), pada waktu mendirikan bangunan (upacara parsik tiang) pada waktu memasang tiang, dan panaik uwur (pada waktu memasang uwur) maupun pada waktu bangunan telah selesai, yaitu upacara memasuki rumah baru (mangopoi jambu) dan upacara memestakan rumah (pamestahon jabu) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. &lt;br /&gt;Daerah yang ditempati oleh suku Batak Simalungun terletak diantara daerah Karo dan Toba di Sumatera Utara. Pada waktu ini sudah hampir tidak terdapat lagi desa-desa tradisional dari suku Batak Simalungun, yang dahulunya merupakan sebuah desa yang besar sekali dikelilingi oleh pohon-pohon beracun. Desa tersebut dibangun di atas sebuah bukit, dan sulit sekali untuk dimasuki kecuali melewati terowongan-terowongan yang langsung dapat mencapai tengah-tengah desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur tradisional dari suku Batak Simalungun masih dapat dipelajari dari empat jenis bangunan yang masih ada, dalam bentuk Balai Buttu (pintu gerbang rumah), Jambur (gudang), Bolon adat (rumah raja) dan Balai Bolon Adat (gedung pertemuan dan pengadilan). Balai Buttu dicapai dengan anak tangga dari kayu, luasnya kira-kira 6m2 dan tingginya 6 m. Dasarnya adalah balok-balok horisontal yang dibangun dalam bentuk persegi, di susun di atas empat buah batu kali dengan alas ijuk diantara batu dan papan . jambur digunakan untuk menyimpan beras, tetapi dipakai juga sebagai tempat tinggal tamu laki-laki dan tempat dimana para bujangan tidur. &lt;br /&gt;Fungsi dari bangunan ini seperti yang ada di Pematang Purba, tampaknya telah menyimpang dari penggunaan aslinya dan terlihat pada tungku perapiannya. Bagian atas menunjukkan bahwa kegunaan utamanya telah menjadi tempat tinggal dan bukan dipergunakan sebagai tempat penyimpanan beras. Bangunan ini kira-kira luasnya 25 m2 dan tingginya 7m. Strukturnya di atas dua belas batu kali yang tiga menyilang ke depan dan empat dari depan ke belakang. Lantai yang lebih rendah hanya 75 cm dari tanah dan ditopang tiga lapis palang balok. Lumbung digantungkan di atas tungku di tingkat atas, dimana penggunaan utama dari bangunan tersebut tetap sebagai tempat penyimpanan beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Balon Adat semula digunakan untuk tempat pertemuan-pertemuan dan untuk membahas masalah penting dalam hukum adat. Sistem pembangunannya sama seperti Balai Buttu, tetapi dalam skala lebih besar. Perbedaan utamanya adalah pada tiang penyangga struktur atap yang diletakkan di atas balok lantai. Tiang berdiameter 35 cmdan dibuat dari kayu yang sangat keras. Dasar dari tiang ini sangat penting dan ditutupi dengan ukiran, lukisan dan tulisan yang berhubungan dengan hukum adat. Bagian depan (Timur) adalah pintu, lebarnya 80 cm dan tingginya 1,5 m, dikelilingi dengan ukiran, lukisan dan tulisan dan dengan dua kepala singa pada ambang pintu. &lt;br /&gt;Potongan yang lebih rendah dari dinding yang miring pada setiap sisi pintunya dipenuhi dengan papan tiang jendela vertikal yang membiarkan masuknya cahaya dan angin. Rumah Balon Adat (rumah raja) terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang besar dibangun pada tiang-tiang vertikal, sedangkan yang kecil disusun pada tumpukan balok horisontal, pintu masuk pada sisi sebelah Timur diapit oleh balkon atas dan bawah, menopang pada sambungan dari bagian atap ke bagian depan bangunan. Ujung atapnya sederhana, dua puluh tiang yang menopang lantai dibentuk menjadi ortogal dan dicat dengan motifgeometris hitam putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti bangunan lainnya, bangunan ini mempunyai lantai ganda dengan gang yang menurun ke pusat pada lantai yang lebih rendah. Lantai yang rendah berada 2,80 m dari tanah dan gang digantungkan dengan rota yang diikat pada dua pusat kayu, dilengkapi dengan kumpulan papan yang terbentuk dengan indah sebagai dekorasinya. Tungku perapian dibangun dari sisa pembakaran kayu dan dipenuhi dengan tanah. Di atas tungku dipasang ayunan dimana peralatan memasak disimpan dan bahan makanan dikeringkan serta diasapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu pada ujung sebelah Timur kamar raja berisi ruangan tidur kecil dan dua tungku api. Konstruksi pada bagian bangunan ini sama dengan rumah pertemuan (Balai Balon adat) kecuali struktur lantainya sedikit rumit sebagai akibat dari tungku tersebut. Penutup atap keseluruhan adalah jalinan ijuk pada kaso dan papan kecil dari bambu. Bumbungan dikat dengan ijuk dengan hiasan kepala kerbau pada puncaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bangunan Simalungun susunan strukturnya terdiri dari tiang-tiang bergaris tengah 40 sampai 50 cm. Sebagian besar adalah balok-balok dan tiang-tiang yang dibiarkan dalam potongan bundar yang ditebang dari hutan. Kayu yang digunakan pada umumnya adalah kayu keras, kayu tongkang dan kadang-kadang keseluruhan bambu digunakan dalam jalinan ijuk yang diikat dengan rotan atau bambu belah. Struktur tersebut ditata di atas batu-batu kali yang besar kecuali untuk rumah raja. Tiang-tiangnya ditanam di dalam tanah. Pusat tiang terpenting dari gedung pertemuan diukir dari kayu keras yang tebal. Paku tidak digunakan dalam konstruksi, hanya pasak dan tali ijuk baji (sentung). &lt;br /&gt;Bangunan rumah adat Batak Karo merupakan sebuah bangunan yang sangat besar, terdiri dari empat sampai enam tungku perapian, satu untuk setiap unit keluarga besar (jabu) atau untuk dua jabu. Oleh karena itu antara empat sampai duabelas keluarga dapat tinggal di rumah tersebut dan dengan ukuran rata-rata keluarga besar terdiri dari lima orang (suami, istri dan tiga orang anak). Rumah adat Batak Karo dapat ditempati oleh dua puluh sampai enam puluh orang. Anak-anak tidur dengan orangtua sampai menjelang usia dewasa, pada pria dewasa (bujangan) tidur di bale-bale lumbung dan para gadis bergabung dengan keluarga lain di rumah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adat Batak Karo berukuran 17x12 m2 dan tingginya 12m. Bangunan ini simetris pada kedua porosnya, sehingga pintu masuk pada kedua sisinya kelihatan sama. Hal ini sulit untuk membedakan yang mana pintu masuk utamanya. Rumah adat Batak Karo dibangun dengan enam belas tiang yang bersandar pada batu-batu besar dari gunung atau sungai. Delapan dari tiang-tiang ini menyangga lantai dan atap, sedangkan yang delapan lagi hanya penyangga lantai saja. Dinding-dindingnya juga merupakan penunjang atap. Kedua pintumasuk dan kedelapan jendela dipasang di atas dinding yang miring, di atas lingkaran balok. Tinggi pintu setinggi orang dewasa dan jendela ukurannya lebih kecil. Pintu mempunyai daun pintu ganda sedangkan jendela mempunyai daun jendela tunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian luar dari kusen jendela dan pintu umumnya diukir dalam versi yang rumit dari susunan busur dan anak panah. Atap dijalin dengan ijuk hitam dan diikatkan kepada sebuah kerangka dari anyaman bambu yang menutupi bagian bawah kerangka dari pohon aren atau bambu. Bumbungan atap terbuat dari jerami yang tebalnya 15 sampai 20 cm. Bagian terendah dari atap pertama di bagian pangkalnya ditanami tanaman yang menjalar pada semua dinding dan berfungsi sebagai penahan hujan deras. Ujung dari atap yang menonjol ditutup dengan tikar bambu yang sangat indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi utama dari ujung atap yang menonjol ini adalah untuk emmungkinkan asap keluar dari tungku dalam rumah. Pada bagian depan dan belakang rumah adalah panggung besar yang disebut ture, konstruksinya sederhana dari potongan bambu melingkar dengan diameter 6 cm. Panggung ini dugunakan untuk tempat mencuci, menyiapkan makanan, sebagai tempat pembuangan (kotoran hewan) dan sebagai ruang masuk utama. Jalan masuk menuju ture adalah tangga bambu atau kayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pokok dari tungku perapian adalah untuk memasak, dibuat antara dua lantai sehingga bagian dasarnya bersandar di atas bambu dan ujungnya adalah setingkat dengan lantai utama. Sisi-sisi dari bagian pokok tersebut dibuat dari sisa-sisa kayu bakar dan ditempatkan pada tanah yang keras. Sepanjang pertengahan dari rumah adalah gang yang sempit setingkat dengan lantai dasar, dan sepanjang sisi-sisi dinding dibangun tempat tidur. &lt;br /&gt;Interior dari rumah sangat gelap karena jendela-jendelanya yang kecil serta asap dari perapian yang telah menghitamkan seluruh papan dan kayu-kayu. Tempat penyimpanan makanan dan peralatan rumah tangga diletakkan dibagian atas rumah, dimana balok bulat yang menghubungkan tiang-tiang penunjang yang menembus lantai pada setiap sisi rumah dan menunjang struktur atap dan podium. Lumbung untuk menyimpan padi, yang dalam bahasa daerah Batak disebut jambur, didirikan dalam tiga tingkatan. Selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-114042981370279350?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/114042981370279350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/114042981370279350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2006_02_01_archive.html#114042981370279350' title='Arsitektur Tradisional Batak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-113746700968740128</id><published>2006-01-17T10:03:00.000+07:00</published><updated>2006-01-17T10:03:35.193+07:00</updated><title type='text'>Batak mythology</title><content type='html'>by : Micha F. Lindemans&lt;br /&gt;source : &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/b/batak_mythology.html"&gt;myth&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Traditional Batak religion has all but disappeared today, but numerous works on the subject give a good idea of it. The religious beliefs of the Batak of Sumatra prior to their adoption of Islam or Christianity were shaped by the fusion of two major influences: the Old Megalithic and Hindu influences, which contributed to the formation of the ancient Batak culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Indian influence can be found in the most essential elements of their traditional religious belief, such as the formation of the universe, creation myths, the existence of the souls and its survival after death, shamanist traditions, and others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Batak believed that the universe was divided into three levels: the upper-world, called Banua Ginjang, the middle-world, called Banua Tonga, and the under-world, which was called Banua Toru. Cosmic harmony depended upon the cooperation between the three levels. In this, the middle-world, that of humanity, played an essential role as both bridge and regulator between the upper and the lower worlds. The upper-world was the abode of a multitude of gods, while the under-world was inhabited by demons and spirits of the earth and fertility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The creator of the universe was known as &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/m/mulajadi_na_bolon.html"&gt;Mulajadi na Bolon&lt;/a&gt;. He was assisted by a whole pantheon of lesser gods, distributed among the seven levels of the upper-world. His children constitute a sacred triad, which consisted of &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/b/batara_guru.html"&gt;Batara Guru&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/s/soripada.html"&gt;Soripada&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/m/mangala_bulan.html"&gt;Mangala Bulan&lt;/a&gt;. These three divinities were venerated by the Batak as a triform unity under different names: Debata Sitolu Sada ("the three devatas in one") or Debata na Tolu ("the three gods"). In the order of presidence in the Batak pantheon, they come immediately after the supreme god Mulajadi na Bolon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other important deities were &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/d/debata_idup.html"&gt;Debata Idup&lt;/a&gt; (the "living god") and &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/p/pane_na_bolon.html"&gt;Pane na Bolon&lt;/a&gt;, who ruled the middle-world. A host of lesser divinities occupy the seven different levels of the upper-world. These too are more or less related to the Indian divinities. Among those divinities are, for instance, &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/b/boraspati_ni_nato.html"&gt;Boraspati ni Nato&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.pantheon.org/articles/b/boru_saniang_naga.html"&gt;Boru Saniang Naga&lt;/a&gt;. At a lower level exist a multitude of spirits who inhabit lakes, streams, and mountains. In traditional Batak animism, still alive to some extend today, all were venerated simultaneously; the supreme god, the lesser gods, the nature spirits, and the Begu or souls of the ancestors.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-113746700968740128?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/113746700968740128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/113746700968740128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2006_01_01_archive.html#113746700968740128' title='Batak mythology'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-112719986761178302</id><published>2005-09-20T14:04:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T14:08:06.223+07:00</updated><title type='text'>Kisah Para Malim Tanah Batak</title><content type='html'>[Sumber : &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0509/19/tanahair/2062963.htm"&gt;Kompas, 19 September 2005&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Parmalim adalah gerakan spiritual untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan kuno yang terancam agama baru yang dibawa Belanda. Gerakan ini lalu menyebar ke tanah Batak menjadi gerakan politik atau parhudamdam yang menyatukan orang Batak menentang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan itu muncul sekitar tahun 1883 atau tujuh tahun sebelum kematian Si Singamangaraja XII, dengan pelopornya Guru Somalaing. Dalam perkembangannya, gerakan yang menempatkan Si Singamangaraja sebagai pemimpin tertinggi tersebut telah memicu perlawanan politik dalam bentuk pertempuran-pertempuran kecil di berbagai kawasan Batak Toba, sekaligus perlawanan teologis terhadap zending. Gerakan ini pun terus melakukan perlawanan pascakematian Si Singamangaraja XII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai stigma lalu dilekatkan Belanda kepada pengikut Parmalim untuk mengerem laju gerakan ini, mulai dari sebutan kaum pembangkang, penyembah pagan, hingga pelaku kanibalisme atau pemakan sesama manusia. Para penganut Parmalim diburu. Berbagai upacara keagamaan mereka pun dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1895 (tujuh tahun setelah kematian Si Singmangaraja XII), Guru Somalaing ditangkap Belanda dan kemudian dibuang ke Kalimantan pada tahun berikutnya. Gerakan Parmalim pun mulai memudar walau tidak habis. Raja Mulia Naipospos, tokoh spiritual, yang disebut-sebut mendapat restu dari Si Singamangaraja XII, kemudian memegang tongkat kepemimpinan Parmalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Parmalim pun kembali memusatkan diri pada spiritual dan tata cara hidup berdasarkan adat. Tongkat kepemimpinan ini diwariskan turun-temurun dan kini dipegang oleh Raja Marnakkok Naipospos, cucu Raja Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pusat kegiatan keberagamaan kaum Parmalim dipusatkan di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu Boti, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata parmalim sendiri bisa dipisahkan dalam dua kata, yaitu par dan malim. Par dalam bahasa Batak Toba merupakan awalan aktif yang berarti orang yang mengerjakan atau menganut sesuatu. Malim sendiri berasal dari kata bahasa masyarakat di pesisir pantai yang beragama Islam, baik Melayu maupun Minangkabau, yang berarti pemuka agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mualim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal usul kata malim bagi masyarakat Melayu berasal dari bahasa Arab mualim yang artinya pintar dalam pengetahuan agama. Parmalim juga berkonotasi dengan para malim atau sekumpulan orang yang pengetahuan agamanya luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kosakata parmalim ditengarai karena adanya interaksi antara Guru Somalaing dengan orang-orang Melayu dan Aceh, yang banyak membantu peperangan Si Singamangaraja XII melawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parmalim sendiri, menurut Raja Marnakkok Naipospos yang saat ini menjadi Raja Ihutan atau pemimpin tertinggi kaum Parmalim, adalah ajaran tradisional Batak. Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Batak, nenek moyang kami telah memiliki ajaran kepercayaan tersendiri. Inti ajaran kami adalah bagaimana bisa mempersembahkan hidup kepada Mula Jadi Nambolon (Tuhan), dan bagaimana cara hidup bermasyarakat dengan baik. Prinsip-prinsip ajaran kami diajarkan oleh Raja Si Singamangaraja, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Monang Naipospos, salah seorang tokoh Parmalim yang lain, ciri khas dari kepercayaan Parmalim adalah kearifan lokal mereka dalam menjaga alam. Para pengikut Parmalim dilarang menebang pohon, kecuali menanam tunas baru dengan jumlah lebih banyak. Mereka juga tidak boleh merusak tunas-tunas kecil saat merobohkan pohon besar. Manusia telah diberi hak untuk mengelola alam. Kita telah didukung alam untuk hidup, maka kita juga harus mendukung alam untuk hidup, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hingga kini prinsip- prinsip kepercayaan Parmalim sering disalahtafsirkan oleh masyarakat luas. Parmalim masih dianggap sebagai ancaman atas kemapanan. Hingga kini, para pengikut Parmalim belum bisa memperoleh akta catatan sipil sebagaimana warga negara yang lain. Mereka tak mendapatkan akta catatan sipil untuk kelahiran dan pernikahan sehingga kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem kemasyarakatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monang Naipospos mengatakan, upaya diskriminasi terhadap pengikut Parmalim awalnya dilakukan oleh penjajah karena Si Singamangaraja XII melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sejak itulah Belanda mendiskreditkan kami dengan citra buruk, termasuk disebutkan kami sebagai orang tidak beradab yang makan manusia. Padahal, makan babi, anjing, atau darah saja dilarang, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kami menjadi warga negara yang terpinggirkan karena hak-hak kami selaku warga negara belum terpenuhi. Pemerintah Kabupaten Tobasa (Toba Samosir) tidak mau memberikan catatan sipil kepada kami, dengan alasan pencatatan terhadap warga penghayat kepercayaan tidak ada dalam perundang-undangan, seakan penghayat kepercayaan di luar bingkai hukum negeri ini. Padahal, golongan Tionghoa sudah bisa mendapatkannya, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marnakkok mengatakan, jumlah pengikut Parmalim di Tobasa mencapai 1.500 keluarga atau sekitar 6.000 jiwa. Sebagian besar pengikut Parmalim itu belum mendapat akta catatan sipil. Pengikut Parmalim yang mendapatkan akta kelahiran biasanya harus mencantumkan salah satu dari lima agama yang diakui pemerintah dalam identitas mereka. Kami dikerdilkan sistem yang masih diskriminatif, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses keberagamaan negara ini agaknya memang belum selesai....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-112719986761178302?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/112719986761178302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/112719986761178302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_09_01_archive.html#112719986761178302' title='Kisah Para Malim Tanah Batak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-112719979178670069</id><published>2005-09-20T14:03:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T14:11:29.766+07:00</updated><title type='text'>Parmalim di Huta Tinggi</title><content type='html'>Oleh: Ahmad Arif&lt;br /&gt;[sumber : &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0509/19/tanahair/2062769.htm"&gt;Kompas, Senin 19 September 2005&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 09.00 pertengahan Juli 2005 di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu Boti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Ribuan pengikut Parmalim dari berbagai belahan Nusantara berkumpul. Mereka sibuk menyiapkan upacara syukur atas panen tahun ini. Tak ada komando, tetapi semuanya tergerak untuk ikut menyiapkan upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, para pengikut Parmalim kembali menggelar Sipahalima. Upacara yang dilakukan setiap bulan kelima dalam kalender Batak ini dilakukan untuk bersyukur atas panen yang mereka peroleh. Upacara ini juga merupakan upaya untuk menghimpun dana sosial bersama dengan menyisihkan sebagian hasil panen untuk kepentingan warga yang membutuhkan. Misalnya, untuk modal anak muda yang baru menikah, tetapi tidak punya uang atau menyantuni warga yang tidak mampu makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang bersama, sekitar pukul 13.00, seluruh peserta kemudian berkumpul di halaman depan bale partonggoan atau balai peribadatan. Raja Marnakkok Naipospos, yang menjadi Raja Ihutan (pemimpin spiritual umat Parmalim saat ini), memimpin keseluruhan upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama upacara, para penganut Parmalim mengenakan pakaian adat. Kaum laki-laki yang sudah berkeluarga mengenakan tali-tali (sorban) berwarna putih, sarung, dan jas berselempang ulos. Sementara pria lajang mengenakan sarung dan baju biasa berselempang ulos. Kaum wanita mengenakan sarung bermotif batik, kain kebaya, ulos, dan menggelung rambut ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Marnakkok memimpin doa-doa kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan pencipta langit dan bumi), doa untuk Debata Natolu, yaitu Batara Guru, Debata Sori, dan Bala Bulan, serta doa untuk Siboru Deak Parujar, doa untuk Naga Padoha Niaji, doa untuk Saniang Naga, doa untuk Raja Uti, doa untuk Tuhan Simarimbulu Bosi, doa untuk Raja Na Opatpuluh Opat atau semua nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui agama- agama tertentu, doa untuk Raja Sisingamangaraja, doa untuk Raja Nasiak Bagi yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi Raja Sisingamangaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik senantiasa mengiringi doa-doa yang dipanjatkan penuh kusuk itu. Bagi masyarakat Batak, musik dipercaya sebagai media untuk menyampaikan doa agar sampai ke alam spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara berakhir menjelang senja dan sebelum ditutup, seekor sapi jantan berwarna hitam disembelih sebagai kurban. Setelah dimasak, seluruh peserta ritual makan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sipahasada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Sipahalima, ritual tahunan yang rutin dilakukan oleh pengikut Parmalim adalah Sipahasada. Upacara yang dilakukan pada awal upacara Tahun Baru dalam kalender Batak itu dilakukan untuk memperingati kelahiran para pemimpin spiritual mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelum upacara dilaksanakan, umat Parmalim di berbagai tempat melakukan puasa selama 24 jam. Dan sebagai pembuka dan penutup puasa, mereka melakukan ritual mangan napaet atau memakan makanan yang pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan makanan dalam ritual mangan napaet terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum dimakan, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus. Ritual mangan napaet merupakan simbol untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi, salah satu pemimpin spiritual Parmalim. Setelah ritual mangan napaet yang dilaksanakan di punguan (komunitas) masing-masing, mereka menuju bale pasogit atau tempat peribadatan bersama di Huta Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Sipahalima, Raja Marnakkok Naipospos juga yang memimpin upacara Sipahasada. Sebelumnya, di dalam bale partonggoan atau tempat peribadatan telah disiapkan pelean (sesajen). Pelean ini berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa. Lazimnya dalam tradisi adat Batak kuno, bahan- bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih. Paling tidak, dalam pelean harus ada urapan, air suci, dan dupa, ujar Monang Naipospos, tokoh Parmalim Huta Tinggi. Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) bale partonggoan secara berantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean. Pascaritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin doa- doa. Semua peserta ritual kusuk berdoa. Bahkan, sebagian terlihat menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah stigma negatif dan hambatan sosial karena tiadanya pengakuan agama mereka oleh negara, tetap saja mereka berusaha melakukan ritual sesuai dengan keyakinan dengan penuh takzim. Masalah keyakinan memang tak bisa dibelenggu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-112719979178670069?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/112719979178670069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/112719979178670069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_09_01_archive.html#112719979178670069' title='Parmalim di Huta Tinggi'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-111278726837037934</id><published>2005-04-06T18:34:00.000+07:00</published><updated>2005-04-06T18:34:28.370+07:00</updated><title type='text'>Menyelami ritual Parmalim di Tanah Batak</title><content type='html'>sumber : Rubrik Pariwisata di &lt;a href="http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&amp;_dad=portal30&amp;_schema=PORTAL30&amp;vnw_lang_id=2&amp;ptopik=A33&amp;cdate=02-APR-2005&amp;inw_id=354200"&gt;harian bisnis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 02/04/2005&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumatra Utara saat ini masih memiliki sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh agama dan budaya asli daerah. Agama Parmalim, yang sudah sengaja diisolasi ratusan tahun, hingga kini mampu bertahan dengan pusatnya di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual-ritual dalam Parmalim sudah berlangsung lama dalam tradisi Batak Kuno dan saat ini masih dipertahankan, meski kelembagaan Parmalim yang dipusatkan di Kompleks Bale Pasogit baru resmi berdiri 3 Agustus 1921, setelah mendapat persetujuan WKH Ypes, Controleur van Toba waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah, Parmalim Hutatinggi dirintis Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956). Saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos, cucu Raja Mulia Naipospos. Penganut Parmalim Hutatinggi tercatat sekitar 6.000 jiwa (1.500 KK) dan tersebar di 50 komunitas di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hutatinggi, terdapat kompleks bernama Bale Pasogit (balai asal-asul). Ada empat bangunan berarsitek Batak yang terdapat dalam kompleks itu yakni, Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Bagi umat Parmalim, Bale Pasogit merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motof batak yang sarat dengan arti khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kompleks itu pula, dua kali dalam setahun, umat Parmalim menggelar upacara keagamaan besar Sihapa Sada (upacara menyambut tahun baru sekaligus memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim) dan Sipaha Lima (upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Parmalim sangat terbuka dengan orang luar, dan tidak segan-segan menjawab semua pertanyaan dari tamu tentang agama dan budaya mereka. Bahkan mereka menginzinkan beberapa ilmuwan, budayawan ataupun seniman untuk meneliti Parmalim, sepanjang dilakukan secatra jujur dan tidak menggunakan hasilnya untuk tujuan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karakter yang paling menonjol dari penganut Parmalim Hutatinggi dan diakui masyarakat sekitarnya adalah kaya akan kearifan lokal. "Parmalim masih sangat mempertahankan kearifan dalam mengelola lingkungan hidup, yang terlihat jelas dari prilaku umat Parmalim sehari-hari," ujar Surung Simanjuntak, putra daerah batak yang sudah tidak menganut Parmalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monang Naipospos, Tokoh Parmalim, mengatakan Parmalim menekankan lingkungan hidup pada dasarnya memberikan dukungan terhadap kelangsungan hidup manusia, sehingga sewajarnya manusia juga memberi dukungan terhadap lingkungan hidup. "Air adalah sumber kehidupan, maka kita harus memberi dukungan terhadap semua hal yang mendukung pelestarian air."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat menebang pohon misalnya, Parmalim memiliki tata cara tertentu, dimana si penebang harus berusaha agar pohon jangan sampai menimpa anak pohon lain. Jika penebang tidak bisa melaksanakan syarat ini, penebang pohon harus diganti orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun ketika memetik umbi-umbian yang menjalar, umat Parmalim harus menyisakan tunas sehingga bisa tumbuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan sesuatu, Parmalim mengenal istilah parsolamo (pembatasan). Tingkat kedewasaan seseorang dinilai dari seberapa besar ia bisa membatasi diri. Misalnya dalam mengkonsumsi makanan, umat Parmalim dilarang makan babi, anjing, darah, dan barang curian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parmalim juga masih setia menggunakan kalender batak (parhalaan), yang tahun ini perayaan tahun baru Upacara Sipaha Sada jatuh pada Maret. Upacara di Bale Pasogit ini merupakan ritual yang sangat penting, sehingga diikuti segenap umat dari berbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisingamangaraja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat upacara, mereka juga mendoakan para raja-raja Parmalim terdahulu seperti Sisingamangaraja dan penghargaan kepada pemimpin di seluruh dunia, yang disebut dengan filosofis yang artinya pemimpin dari empat penjuru dunia dan empat segi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelum upacara itu, umat Parmalim melakukan puasa selama 24 jam. Sebagai pembuka dan penutup puasa, mereka melakukan ritual mangan napaet (menyantap makanan yang pahit) sebagai simbol untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi (salah satu pemimpin spiritual Parmalim) ketika menegakkan agama Parmalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan makanan dalam ritual itu terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum disantap, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus. Sebelum melakukan Upacara Sipaha Sada, ada selang satu hari yang digunakan umat untuk beristirahat yang biasa disebut robo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengikuti upacara ini, para penganut Parmalim mengenakan busana khusus dan berbeda-beda. Pria mengenakan jas berselempang ulos dari jenis ragi hotang dan sarung ulos dari jenis bintang maratur. Pria yang sudah menikah menggunakan sorban yang disebut tali-tali berwarna putih menandakan kesucian. Pemimpin umat menggunakan tali tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan tiga warna yang melambangkan tiga kepribadian Batak, yaitu hitam berarti kepemimpinan dan tanggung jawab, merah berarti ilmu pengetahuan adalah kekuatan dan putih yang melambangkan kesucian. Tiga warna ini, selain menjadi warna pakaian dan ulos, juga terlihat dari desain pada rumah adat batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan wanita mengenakan sarung (ragi) yang berbentuk ulos dari jenis runjat, kebaya, selendang (hande-hande) dari jenis yang bervariasi, yaitu sadum, bintang maratur dan mangiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang unik, perempuan diwajibkan menggunakan sanggul toba (gulungan rambut ke dalam) sebagai warisan para wanita batak ratusan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat tengah hari, ritual dimulai. Raja Marnakkok Naipospos yang menjabat sebagai Raja Ihutan (pemimpin spiritual umat Parmalim saat ini) memasuki Bale Partonggoan. Sebelumnya, di dalam Bale Partonggoan telah disiapkan pelean (sesajen) berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya dalam tradisi adat Batak Kuno, bahan-bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih, meski tidak wajib melainkan kemampuan orang yang melakukan upacara. Pelean yang wajib harus urapan, air suci dan dupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) Bale Partonggoan secara berantai. Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin Upacara Sipaha Sada yang berlangsung dengan hikmat dan menghabiskan waktu sekitar lima jam, meliputi penyembahan dan kotbah dari Ihutan. Malam harinya acara di lanjutkan dengan pesta muda mudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Erna Sari Ulina Girsang - Kontributor Bisnis]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-111278726837037934?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/111278726837037934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/111278726837037934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_04_01_archive.html#111278726837037934' title='Menyelami ritual Parmalim di Tanah Batak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-111097120413296071</id><published>2005-03-16T18:06:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T14:13:26.066+07:00</updated><title type='text'>Bertahan dengan Bisnis Tuak</title><content type='html'>JIKA Anda melintasi Jalan Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang, cobalah melihat deretan pohon kelapa yang berada persis di samping Lembaga Pemasyarakatan Pemuda Tangerang. Di pucuk sebagian pohon kelapa yang ditanam di lahan milik Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia itu tampak jeriken- jeriken plastik berwarna putih dengan kapasitas lima liter menggantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JERIKEN itu dimiliki dan dipasang oleh Farulian Tampubolon (35), warga Perumahan Medang Lestari, Legok, Tangerang, dan saudaranya, Burhanudin Tampubolon (21) yang tinggal di Jalan Achmad Yani. Dua pria itu menggunakan jeriken untuk menampung nira dari pohon kelapa yang mereka sadap. "Sekarang kami menyadap 20 pohon. Setiap pohon yang disadap kami membayar Rp 10.000 per bulan kepada petugas LP (lembaga pemasyarakatan) yang mengelola lahan ini," kata Farulian Tampubolon. Di lahan itu ada lebih dari 100 pohon kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampubolon bersaudara menggunakan nira yang didapat dari penyadapan itu untuk bahan baku utama membuat tuak, minuman khas suku Batak yang banyak dijual di lapo, warung yang menjual makanan Batak. Mereka mulai menyadap pohon kelapa yang ada di Jalan Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna sejak Agustus 2003. "Waktu itu usaha bengkel sepeda motor kami bangkrut. Ketika jalan-jalan dan melihat banyak pohon kelapa, tiba-tiba muncul ide untuk membuat tuak dari nira pohon kelapa," kata Farulian, yang sudah tinggal di Tangerang sejak 1989. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat untuk membuat tuak semakin kuat ketika mereka melihat di Tangerang banyak lapo. "Bagi kami orang Batak, lapo yang tidak menyediakan tuak seperti sayur tanpa garam. Hambar," kata bapak tiga anak yang mengaku sudah sering membuat tuak dari nira aren selama masih di kampungnya.&lt;br /&gt;UNTUK memperoleh nira, Tampubolon bersaudara harus memanjat pohon kelapa untuk menyadap manggar (bakal buah kelapa) yang umurnya sekitar tiga bulan. Artinya, manggar sudah tua, tetapi belum muncul kelapanya. Manggar muda belum banyak niranya, sementara yang sudah keluar kelapanya sudah tidak bisa disadap. Penyadapan dilakukan dengan memotong ujung manggar sekitar lima sentimeter. Setelah itu, selama tiga hari setiap pagi dan sore ujung manggar tersebut dipotong lagi sekitar satu sentimeter hingga akhirnya mengeluarkan nira. "Nira baru keluar kira-kira tiga hari setelah pemotongan pertama," ujar Farulian Tampubolon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengeluarkan nira, pelepah yang membungkus manggar lalu dibuka. Manggar selanjutnya disatukan dan diikat kuat lalu diarahkan ke bawah supaya nira dapat menetes. Tetesan nira itulah yang kemudian ditampung di jeriken-jeriken itu. Manggar yang baik, katanya, dapat terus meneteskan nira hingga satu bulan. Sementara yang kurang baik, penyadapan hanya bisa berlangsung dua minggu. Manggar yang baik, ujar Farulian Tampubolon lebih lanjut, biasanya dimiliki pohon kelapa lokal berumur di atas enam tahun yang daunnya tampak mengilap dan turun ke bawah. "Di setiap pohon, dalam waktu yang sama sebaiknya hanya ada dua manggar yang disadap. Sebab, jika terlalu banyak manggar yang disadap, kualitas dan kuantitas nira yang dihasilkan akan berkurang," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, antara pukul 08.00 hingga 10.00, nira yang sudah ditampung itu diambil dan kemudian diolah. Sorenya mereka harus kembali memanjat untuk memotong manggar agar nira tetap menetes. Dalam sehari dua bersaudara itu hanya bisa memanjat menyadap 20 pohon. Lebih dari itu, mereka mengaku tidak kuat. "Untuk memaksimalkan nira yang didapat, setiap dua minggu sekali kami mencari manggar baru untuk disadap. Jadi, meski pohon yang disadap terbatas, jumlah nira yang kami peroleh relatif stabil, setiap hari antara 25 sampai 30 liter," kata Farulian Tampubolon. NIRA hasil sadapan yang berwarna putih seperti susu itu lalu disaring hingga benar-benar bersih. Penyaringan kadang harus dilakukan sampai tiga kali karena nira yang diambil dari pucuk pohon kelapa sering bercampur dengan sisa-sisa potongan manggar atau lebah pencari nira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersih, di dalam nira yang rasanya manis itu lalu dimasukkan potongan kulit pohon raru yang khusus didatangkan dari Sumatera Utara. Sebab di Tangerang pohon itu tidak ada. "Satu ikat besar kulit raru yang dapat digunakan sekitar dua bulan, harganya Rp 120.000," kata Burhanudin Tampubolon.&lt;br /&gt;Kulit raru dapat digunakan hingga empat kali. Setelah itu harus dibuang karena sarinya sudah habis, ditandai dengan layu dan warnanya berubah dari cokelat segar menjadi keputih-putihan. Setelah direndam selama enam sampai delapan jam di dalam nira, kulit raru diambil lagi dan nira sudah berubah menjadi tuak yang siap dikonsumsi. "Jika kulit pohon raru yang direndam terlalu banyak, tuak akan berwarna cokelat dan rasanya terlalu pahit. Kalau kurang, tuak akan manis dan berwarna putih," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dari 30 liter nira hasil sadapan, dapat dibuat 45 botol tuak yang setiap botolnya dijual Rp 2.000. "Tuak buatan kami dapat bertahan sekitar dua hari. Setelah itu, tuak harus dibuang karena rasanya sudah masam," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI umumnya perajin kecil, Tampubolon bersaudara mengaku tidak pernah menghitung secara pasti berapa keuntungan yang mereka dapat dari usaha pembuatan tuak ini. "Uang yang kami peroleh langsung habis buat makan dan sekolah anak-anak. Jadi, tidak sempat lagi dihitung," tutur mereka. Soal kualitas, mereka menjamin tuak buatannya aman dikonsumsi. Namun, belakangan ini mereka sering kecewa oleh ulah sebagian lapo yang mencampur tuak buatan mereka dengan air matang. Akibatnya, pelanggan yang meminum tuak itu bisa terserang diare. "Sebagian besar pemilik lapo ingin mendapatkan untung sebesar mungkin. Akibatnya, kami yang sering menjadi korban. Tuak kami dianggap bermasalah karena membuat diare hingga tidak laku," kata Burhanudin Tampubolon. Banyaknya lapo yang nakal itu membuat mereka berdua hampir setiap bulan harus mencari lapo baru yang mau menampung tuak buatannya. "Jika lapo mulai memulangkan tuak karena katanya tidak laku, lapo itu biasanya sudah mencampur tuak kami dengan air. Kalau sudah begitu, kami akan tinggalkan lapo tersebut," kata Burhanudin Tampubolon.(M Hernowo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-111097120413296071?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/111097120413296071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/111097120413296071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_03_01_archive.html#111097120413296071' title='Bertahan dengan Bisnis Tuak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-110984856718090808</id><published>2005-03-03T18:16:00.000+07:00</published><updated>2005-03-03T18:16:07.180+07:00</updated><title type='text'>Tinjauan Buku</title><content type='html'>Sebuah buku berjudul, "Perempuan di antara Berbagai Pilihan Hukum: Studi Mengenai Strategi Perempuan Batak untuk Mendapatkan Akses kepada Harta Waris melalui Proses Penyelesaian Sengketa" oleh penulis: Sulistyowati Irianto dan diterbitkan oleh "Yayasan Obor Indonesia : Jakarta dikupas &lt;a href="http://www.jai.or.id/jurnal/2004/73/09tinjbk73.pdf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-110984856718090808?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110984856718090808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110984856718090808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_03_01_archive.html#110984856718090808' title='Tinjauan Buku'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-110984836584597948</id><published>2005-03-03T18:06:00.000+07:00</published><updated>2005-03-03T18:12:45.846+07:00</updated><title type='text'>Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira</title><content type='html'>Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah artikel ilmiah dari seorang berkebangsaan Jepang bernama Shigehiro IKEGAMI. Selama enam tahun sejak tahun 1992, beliau mempelajari dinamika sosial dan&lt;br /&gt;kebudayaan dalam masyarakat Batak Toba. Selama penelitian tersebut, beliau bergaul dengan masyarakat dan mengikuti beberapa upacara adat secara langsung, sehingga menyadari pentingnya minuman tuak (nira) di kalangan masyarakat Batak Toba baik dalam&lt;br /&gt;kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara adat. Dapatkan artikel selengkapnya nya &lt;a href="http://sizcol.u-shizuoka-ken.ac.jp/~kiyou/11_3/11_3_5.pdf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-110984836584597948?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110984836584597948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110984836584597948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_03_01_archive.html#110984836584597948' title='Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-110967968477313718</id><published>2005-03-01T19:21:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T14:16:45.016+07:00</updated><title type='text'>Analisis Dari Sudut Prinsip Serta Urgensinya Dalam Merajut Integrasi Dan Identitas Bangsa</title><content type='html'>Oleh :Anwar saleh daulay *)&lt;br /&gt;sumber : http://www.karyas.com/&lt;br /&gt;Online article: &lt;u&gt;http://www.karyas.com/p/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=4 &lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak: Suku Batak memiliki adat budaya yang baku yang disebut Dalihan Na Tolu yang dapat menembus sekat-sekat agama/kepercayaan mereka yang dapat berbeda-beda. Adat budaya Batak ini memiliki tujuh nilai inti yaitu kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Nilai hamoraan (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Nilai uhum (law) mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya dalam menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari ketaatan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat. Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia selain memiliki wilayah yang luas, juga mempunyai puluhan bahkan ratusan adat budaya. Salah satu diantaranya adalah adat budaya Batak Sumatera Utara, sesungguhnya setiap adat budaya merupakan potensi yang bernilai guna bilamana dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Rahmani Astuti (1992:145) mengatakan bahwa nilai adat budaya sangat berguna untuk mengaktualkan nilai-nilai estetika dalam kehidupan kita, dan sekaligus ia dapat dijadikan sebagai intrumen penjaga identitas dan perekat kesatuan bangsa. Dewasa ini bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, diantaranya adalah terusiknya aspek integritas dan identitas bangsa yang sangat majemuk. Indikasi terhadap terjadinya disintegrasi telah muncul di beberapa tempat seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, dll. Mereka menuntut keseimbangan keuangan pusat dan daerah bahkan menuntut kemerdekaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan masalah bangsa tersebut, pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah cara memelihara integritas dan identitas masyarakat kita yang terancam luntur itu? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui problema yang melatarbelakanginya. Di antara problema yang ada mengungkapkan bahwa latar belakang timbulnya diintegrasi dan erosi identitas adalah berkaitan dengan gaya (style) kebijakan pembangunan masa lalu (baca: masa orde baru) yang antara lain (1) penerapan sentralisme dalam segala hal, (2) uniformisme terhadap banyak pranata sosial budaya, (3) derasnya intervensi budaya asing. Akibat dari kebijakan itu adalah terganggunya potensi budaya lokal sebagai alat pembina jiwa integritas dan identitas bangsa yang terkenal dengan semboyan bhineka tunggal ika. M. D. Harahap (1986:24) mengatakan bahwa beberapa daerah ternyata memiliki sejumlah mekanisme kepemimpinan dan kearifan sebagai bagian dari nilai adat budaya. Dalam konsep adat budaya daerah terdapat beberapa kearifan lokal dan sejumlah kepemimpinan lokal yang kesemuanya potensial dalam menata masyarakat damai dengan identitas dan integritas bangsa yang kuat. Akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung melemahkan potensi daerah, dan dikaitkan dengan realitas terganggunya kerukunan khidupan bangsa, maka sudah selayaknya nilai-nilai adat budaya dihidupkan kembali untuk memperkuat jiwa integritas dan identitas bangsa. Dengan cara mengenalkan dan mensosialisasikannya kembali adat budaya di tengah-tengah masyarakat diharapkan masyarakat Indonesia memiliki landasan adat budaya sehingga mampu menangkal pengaruh-pengaruh yang merusak sistim nilai-nilai sosial budaya. Dalam usaha mengenalkan adat budaya daerah itulah maka adat budaya Batak Dalihan Na Tolu disajikan. Untuk melakukan pengkajian, penilaian, dan pengenalan kembali adat budaya batak dewasa ini dicoba disoroti dengan cara menjawab pertanyaan: dimana, apa, mengapa, dan bagaimana adat budaya Batak itu. 1.1. Dimana Wilayah Adat Budaya Batak Suku batak mempunyai lima sub suku dan masing-masing mampunyai wilayah utama, sekalipun sebenarnya wilayah itu tidak sedominan batas-batas pada zaman yang lalu. Sub suku dimaksud yaitu: (1) Batak Karo yang mendiami wilayah dataran tinggi Karo, Deli Hulu, Langkat Hulu, dan sebagian tanah Dairi; (2) Batak Simalungun yang mendiami wilayah induk Simalungun; (3) Batak Pak Pak yang mendiami wilayah induk Dairi, sebagian Tanah Alas, dan Gayo; (4) Batak Toba yang mendiami wilayah meliputi daerah tepi danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, dan Silindung, daerah pegunungan Pahae, Sibolga, dan Habincaran; dan (5) Batak Angkola Mandailing yang mendiami wilayah induk Angkola dan Sipirok, Batang Toru, Sibolga, Padang Lawas, Barumun, Mandailing, Pakantan, dan Batang Natal. (Nalom Siahaan: 1982:X). Menurut tarombo (silsilah) orang Batak, semua sub-sub batak itu mempunyai nenek moyang yang satu yaitu si Raja Batak (W. W. Hutagalung, 1990:7). Dari si Raja Batak inilah bekembang sub-sub suku Batak yang mengembara ke wilayah-wilayah teritorial di atas sejalan dengan perkembangan pemukiman baru atau perkotaan yang semakin meluas. Setiap pembukaan kampung baru biasanya diringi dengan penabalan marga baru terhadap orang yang membuka perkampungan tersebut. Cara ini terutama dilaksanakan dilingkungan sub-sub suku Batak Toba, sehingga dengan demikian jumlah marga dilingkungan suku Batak Toba adalah relatif lebih banyak jumlahnya, berbeda dengan jumlah marga pada sub suku Batak Mandailing Angkola yang relatif lebih sedikit jumlahnya karena tidak menerapkan cara penebalan marga baru. Marga dilingkungan suku Mandailing Angkola adalah hanya belasan jumlahnya, yaitu Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batu Bara, Dasopang, Daulay, Dalimunthe, Dongoran, Hutasuhut, Pane, Parinduri, Pohan, Pulungan, Siagian, Rambe, Rangkuti, Ritongga, dan Tanjung (St. Tinggibarani, 1977 : iii). Sedang marga pada subsuku Batak Toba adalah puluhan jumlahnya. Semua sub suku Batak yang disebut di atas telah meluas dan tersebar di Sumatera Utara, berintegrasi dengan suku-suku bangsa lainnya. Di berbagai tempat di luar Sumatera Utara suku Batak banyak dijumpai sebagai perantau dan di daerah rantau suku batak biasanya tetap terikat dengan adat budaya sukunya. Misalnya di Sumatera Barat antara lain banyak terdapat di Rao, Lembah Malintang, dan Lubuk Sikaping (Kabupaten Pasaman); Lima Kaum (Kabupaten Tanah Datar); dan Lubuk Bagalung (Kabupaten Padang Pariaman). Di Propinsi Riau banyak terdapat di Tambusai, Rambah, Rokan, Tandun, dan Kota Darusalam Kabupaten Kampar. Kebanyakan perantau suku Batak di kedua propinsi ini adalah suku Batak Angkola Mandailing. Nalom Siahaan (1982:48) mengatakan bahwa sekalipun di rantau suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, seperti berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Mereka mengadakan pertemuan secara berkala dalam bentuk adat ataupun silaturahmi. Mobilitas orang Batak yang cukup tinggi mengantarkan mereka ke berbagai penjuru tanah air di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia. Di negeri jiran ini, yakni negara bagian Perak, terdapat nama kampung yang sama dengan kampung asal para migran Mandailing Angkola seperti kampung Sihepeng. Di negeri jiran itu juga mereka mendirikan paguyuban kedaerahan yang bernama Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia (Harahap. E.St, 1960:27). Adat budaya Batak sebenarnya sudah dikenal sebagai bagian budaya Nusantara sejak zaman Majapahit. Hal ini dengan jelas diungkapkan oleh sejarawan Majapahit Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya Negarakertagama yang bertarikh 1365 M, yang menyebutkan ada tiga daerah budaya Batak Mandailing, yaitu Angkola, Mandailing, dan Padanglawas. (Harahap B. Hamidi, 1979:8) Dari catatan sejarah diketahui bahwa berbagai pengaruh luar sudah lama memasuki wilayah daerah Batak. Pada Batak Angkola Mandailing pengaruh yang kuat adalah dari dunia Islam. Sedang di daerah Batak Toba pengaruh yang kuat adalah dari misi Kristen pada permulaan abad 19. Tidak dapat disangkal bahwa berbagai pengaruh yang berlangsung berabad-abad telah menjadikan akulturasi dalam suku Batak dengan berbagai variasi dalam adat budaya Batak seperti langgam bahasa, dialek, pakaian adat, dan lain-lain. Namun demikian ada nilai inti (core values) yang tetap baku dan berlaku bagi seluruh sub suku Batak di wilayah dimanapun ia berada, yaitu adat Dalihan Na Tolu, dimana adat ini dapat menembus sekat-sekat agama/kepecayan kedalam suatu kesatuan sosial. 1.2. Apa Nilai Inti Budaya Batak Itu? Nilai inti budaya (core values of culture) suatu bangsa atau suku bangsa biasanya mencerminkan jati diri suku atau bangsa yang bersangkutan. Sedangkan jati diri itu maksudnya merupakan gambaran atau keadaan khusus seseorang yang meliputi jiwa atau semangat daya gerak spiritual dari dalam. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa nilai inti budaya Batak cukup luas. Dari berbagai kajian terhadap sejumlah ungkapan kata-kata, aksara orang Batak yang diikuti dengan pengalaman adat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dilihat adanya tujuh macam nilai inti budaya suku Batak. Ketujuh nilai inti budaya Batak dimaksud ialah kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Secara ringkas nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Kekerabatan Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Hal ini terlihat baik pada Toba maupun Batak Angkola Mandailing dan sub suku Batak lainnya. Semuanya sama-sama menempatkan nilai kekerabatan pada urutan yang paling pokok. Nilai inti kekerabatan masyarakat batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu. Hubungan kekerabatan dalam hal ini terlihat pada tutur sapa baik karena pertautan darah ataupun pertalian perkawinan. (2) Agama Nilai agama/kepercayaan pada orang Batak tergolong sangat kuat. Sedang agama yang dianut oleh suku batak amat bervariasi. Menurut data (Departemen Agama Sumatera Utara, 1999) ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam seperti Angkola Mandiling, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah Batak yang prosentase penganut agamanya berimbang seperti wilayah Batak Simalungun. Secara intensif ajaran agama telah disosialisasikan kepada anak-anak orang Batak sejak masa kecilnya dengan penuh pengawasan. Diantara pengajaran agama (khususnya Islam) yang diberikan ialah belajar membaca/mengaji al-Quran sejak kecil. Belajar ibadah dilaksanakan di rumah ibadah. Dalam pengaturan upacara perkawinan nuansa keagamaan cukup menonjol, demikian juga dalam suasana kematian. Fenomena keagamaan kadang-kadanng menjadi lebih kuat dari fenomena adat, khususnya di lingkungan suku masyarakat Mandailing Angkola. Tampilnya nuansa agama lebih dominan di lingkungan masyarakat Mandailing Angkola karena didukung oleh sarana pendidikan agama yakni pondok pesantren yang banyak jumlahnya didaerah itu. Diketahui bahwa 32 dari 70 pondok pesantren di Sumatera Utara terdapat di wilayah Mandailing Angkola, Padanglawas, dan Sipirok. Bukti pengaruh agama Islam yang dominan dalam kehidupan masyarakat Batak Mandailing Angkola terlihat dalam perjodohan/perkawianan semarga dapat diterima di sana (meskipun jarang terjadi). Padahal perkawinan semarga secara jelas dilarang dalam adat Batak, karena dinilai sumbang atau inces. Diterima kawin semarga oleh mereka jelas merupakan kuatnya keyakinan agama yang membolehkan itu. Siapa yang dapat dijodohkan dan siapa yang tidak dapat dijodohkan jelas disebutkan dalam Islam, misalnya dalam al-Quran surat an-Nisa 23-24 dengan jelas disebut siapa yang boleh dinikahi, tidak ada dalam ayat itu larangan kawin semarga, kecuali muhrimnya. (3) Hagabeon Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Dengan lanjut usia diharapkan ia dapat mengawinkan anak-anaknya serta memeperoleh cucu. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap, jika belum mempunyai anak. Terlebih lebih anak laki-laki yang berfungsi untuk melanjutkan cita-cita orang tua dan marganya. Hagabeon bagi orang Batak Islam termasuk keinginannya untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Namun mengenai jumlah anak yang banyak (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) yang telah berakar lama, telah mengalami pergeseran dari bersifat kuantitas pada anak yang berkualitas, mempunyai ilmu dan keterampilan hidup sekalipun jumlahnya tidak banyak. Peranan program KB (Keluarga Berencana) yang dilancarkan pemerintah cukup dominan dalam merubah pandangan tersebut. Seseorang makin bertambah kebahagiaannya bila ia mampu menempatkan diri pada posisi adat di dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya perjuangan yang berdiri sendiri tetapi ditopang oleh keteladanan dan pandangan yang maju. (4) Hamoraan Adapun nilai (kehormatan) menurut adat Batak adalah terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan/jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya bila tidak didukung oleh keutamaanspiritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong/memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang mora (terhormat). (5) Uhum dan Ugari Nilai uhum (law) bagi orang Batak mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari ketaatan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, dan janjinya dipandang sebagai orang batak yang sempurna. Keteguhan pendirian pada orang Batak sarat bermuatan nilai-nilai uhum. Perbuatan khianat terhadap kesepakatan adat amat tercela dan mendapat sangsi hukum secara adat. Oleh karena itu, orang Batak selalu berterus terang dan apa adanya tidak banyak basa-basi. (6) Pengayoman Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu. Tugas pengayom ini utamanya berada di pihak mora dan yang diayomi pihak anak boru. Sesungguhnya sesama unsur Dalihan Na Tolu dipandang memiliki daya magis untuk saling melindungi. Hubungan saling melindungi itu adalah laksana siklus jaring laba-laba yang mengikat semua pihak yang terkait dengan adat Batak. Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman dari sesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak. Karena merasa memiliki pengayom secara adat maka orang Batak tidak terbiasa mencari pengayom baru. Sejalan dengan itu, biasanya orang Batak tidak mengenal kebiasaan meminta-minta pengayom/belas kasihan atau cari muka untuk diayomi. Karena sesungguhnya orang yang diayomi adalah juga pengayom bagi pihak lainnya. (7) Marsisarian Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Secara bersama-sama masing-masing unsur harus marsisarian atau saling menghargai. Di dalam kehidupan ini harus diakui masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga saling membutuhkan pengertian, bukan saling menyalahkan. Bila terjadi konflik diantara kehidupan sesama masyarakat maka yang perlu dikedepankan adalah prinsip marsisarian. Prinsip marsisarian merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik/pertikaian. 4. Mengapa Adat Budaya Dalihan Na Tolu Dilestarikan Suatu suku bangsa akan lenyap bilamana mereka tidak memiliki pegangan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pegangan dimaksud adalah adat budaya yang terdapat pada suatu masyarakat . Oleh karena itu, nilai adat budaya perlu dikenalkan agar masyarakat sekarang dan yang akan datang mampu berprilaku sesuai tuntutan adat budaya yang dijunjung. Kita mengajarkan adat budaya kepada generasi muda selain sebagai sumbangan nyata, juga sebagai upaya membantu tegaknya tertib sosial kepada angkatan muda. Pengalaman pahit atau manis yang dialami oleh satu suku bangsa/etnis memang dapat mengembangkan nilai adat yang dilakukannya dan sejauhmana dia konsisten dengan nilai adatnya. Dalam kaitan itulah mengapa adat Dalihan Na Tolu (DNT) diajarkan dilingkungan suku Batak. Ia merupakan adat istiadat yang bertalian erat dengan sistem kekerabatan suku batak. Adat DNT secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20). Dengan perkawianan terjadilah ikatan dan integrasi diantara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar gunanya dalam menjawab persoalan hidup sehari-hari. Cukup banyak fungsi adat ini bagi masyarakat pendukungnya, diantaranya pati dohan holong yang artinya menunjukan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun/etik. Dari fungsinya yang penuh kehidmatan maka adat DNT dapat diterima oleh setiap etnis Batak sekalipun mereka berbeda-beda agama. Mereka yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha kadang-kadang begitu erat ikatannya karena konsep adat telah terbentuk sejak mulai lahirnya kelompok masyarakat yang identitas utamanya adalah adanya marga. Dengan marga itu orang Batak akan setia tehadap ketentuan adatnya di manapun mereka berada (Nalom Siahaan 1982:5). Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Sebagaimana diketahui marga bagi orang Batak diturunkan secara patrinial artinya menurut garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam marga yang sama markahanggi (semarga). Orang batak yang semarga merasa bersaudara kandung sekalipun mereka tidak seibu-sebapak. Mereka saling menjaga, saling melindungi, dan saling tolong-menolong (St. Tinggi Barani P. Alam 1977:5). Fungsi lainnya dari adat DNT adalah pengenalan garis keturunan hingga jauh ke atas yang disebut tarombo (silsilah). Kekuatan kekerabatan terwujud dalam pemakaian tutur atau sapa. Tutur itu berisi aturan hubungan antar perorangan atau antar unsur dalam DNT. Tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Tidak kurang dari limapuluh macam tutur dalam kekerabatan Batak. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakannya. Tutur kekerabatan itu sekaligus menentukan prilaku apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul. Jika seseorang memanggil tutur tulang yaitu mertua atau saudara laki-laki dari ibu kepada seseorang, maka sipemanggil adalah bere (anak) dari tulang tersebut. Konsekwensinya akan ada hak dan kewajiban diantara mereka secara timbal balik. Tegaknya hak kewajiban diantara mereka sekaligus menentukan etika yang harus mereka jaga. Mereka harus menjaga etika dalam bersenda gurau. Demikian juga, tutur antara parumaen (istri anak atau menantu) terhadap amang boru (mertua laki-laki) ada etika adatnya yang masing-masing harus menjaganya, S. De Jong (1970:7) mengatakan bahwa di bawah payung yang sama yaitu adat, manusia menjaga hak dan kewajiban tutur. Pada orang yang berbeda agama kadang terdapat sikap hidup yang sama. Alasannya cukup sederhana, yakni karena mereka semua pertama-tama merupakan orang Jawa atau Batak yang berpegang pada adat. Dari gambaran adat DNT di atas, dapat dimengerti bahwa adat DNT dapat dibentuk dalam mengatur mekanisme integritas dan identitas antar marga (clan) di suatu kampung. Akan tetapi meskipun telah berkembang melintas batas daerah Batak namun konsep dasar adat DNT berlaku sama di setiap wilayah dan tempat. Hal ini bisa terwujud karena tutur dalam DNT amat menjaga adanya etika. Dari luasnya hubungan kekerabatan dalam adat Batak maka dapat dilihat tumbuhnya harosuan (keakraban) dan nilai ini sangat mendasar dalam segala pergaulan. Nilai keakraban itu tidak sekedar teori, tapi diaplikasikan dalam bentuk mekanisme sosial adat DNT sampai sekarang. Selain itu, yang senantiasa efektif penggunaanya dalam adat Batak adalah mengenai urusan siriaon dan sikukuton. Siriaon adalah kegiatan yang berkenaan dengan upacara adat bercorak kegembiraan seperti pesta perkawinan, mendirikan dan memasuki rumah baru, sedangkan siluluton adalah kegiatan adat yang bersifat duka cita seperti kematian. Dua macam peristiwa tersebut dipandang tidak dapat terlaksanan dengan baik tanpa partisipasi seluruh komponen adat DNT. (M.D. Harahap 1986:93). Setiap warga Batak yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat DNT. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan siriaon dan siluluton di tengah-tengah masyarakat secara adat DNT. Karena bila salah satu unsur dari adat DNT tidak hadir maka suatu pekerjaan adat di pandang tidak sah dan tidak kuat. 5. Bagaimana cara Melestarikan Adat DNT Melestarikan suatu adat budaya dapat mempergunakan berbagai langkah seperti pemberian contoh/keteladanan, demontrasi, pemberian tugas, umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat dipergunakan dalam melestarikan adat DNT. Caranya tidak harus berurutan tetapi dapat digunakan cara yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah seperti memberi contoh maka adat yang semula hanya sebagai pengetahuan, dapat digiring menjadi sikap dan kemudian berubah wujud menjadi diamalkan dan dipraktikkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. Tayar Yusuf (1997:49) mengatakan dengan metode demonstrasi, yakni memperlihatkan bagaimana untuk melakukan jalannya suatu proses akan semakin lancarlah jalannya suatu adat. Disebut juga to show artinya mempertunjukkan suatu hal. Dengan latihan pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai (Tayar Yusuf, 1997:64). Metode latihan/pembiasaan juga banyak membantu pemahaman adat yang dilatih tentunya adalah hal-hal yang bersifat praktis, operasional seumpama melatih Markobar (berbicara adat) di tengah-tengah suatu acara baik adat siriaon ataupun siluluton. Yang dimaksud dengan umpan balik ialah dengan mengadakan suatu acara adat terhadap seseorang yang kurang begitu menjiwai adat, dengan harapan setelah ia mengikutinya maka dengan sendirinya ia menjadi pelaksana dan pendukung yang aktif. Secara gradual pengenalan adat akan dapat berjalan terus-menerus. Sedangkan sebagai tindak lanjut ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk acara adat. Penilaiannya adalah apakah suku-suku pemangku adat Batak sudah mewariskan adat budaya daerah disertai dengan contoh teladan terhadap masyarakat pendukungnya. Kelemahannya selama ini adalah kurangnya keteladanan dan latihan, umpan balik dalam adat batak. Apakah karena derasnya pengaruh arus budaya luar yang cenderung materialistis dan kurang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan turut mempengaruhi tidak berjalannya penanaman nilai-nilai adat budaya daerah, termasuk adat budaya batak? Jawabannya diserahkan pada pembaca. 6. Simpulan Adat budaya daerah, termasuk adat budaya Batak Dalihan Na Tolu dapat digunakan sebagai sarana dalam mempertahankan integrasi dan identitas bangsa, terutama di kalangan suku-suku yang ada di daerah secara luas. Di sana-sini pelaksanaan adat DNT semakin mengalami pendangkalan. Pendangkalan dimaksud ditandai dengan semakin berkurangnya perhatian masyarakat generasi muda mengenal dan melaksanakannya. Diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam memberi pengenalan dan pengamalan adat budaya daerah sebagai khasanah budaya nasional pembinaan adat budaya daerah/lokal dalam situasi bangsa menghadapi tantangan globalisasi menjadi penting guna menumbuhkan dan menguatkan kembali dalam berbangsa/bernegara. -------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;Pustaka Acuan &lt;br /&gt;Astuti Rahmani. 1992. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel Al-Quran dan Saint, Bandung : Mizan. &lt;br /&gt;Departemen Agama Sumatera Utara. 1999. Peta Keagamaan Propinsi Sumatera Utara, Medan. &lt;br /&gt;Harahap M.D. 1986. Adat Istiadat Tapanuli Selatan. Grafindo Utama, Jakarta. &lt;br /&gt;Harahap B. Hamidi. 1979. Jalur Migrasi Orang Purba di Tapanuli Selatan. Majalah Selecta no. 917.&lt;br /&gt;Harahap. E St. 1960. Perihal Bangsa Batak: Bagian Bahasa. Jawatan Kebudayaan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. &lt;br /&gt;Hutagalung, W.M. 1990. Pustaka Batak: Tarombo Dohot Turi-Turian Ni Bangso Batak, Tulus Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;Nalom Siahaan. 1882. Adat Dalihan Na Tolu: Prinsip dan Pelaksanaannya, Grafindo, Jakarta.&lt;br /&gt;St. Tinggibarani P. Alam 1977. Burangir Nahombar: Adat Tapanuli Selatan, Balai adat Padangsidempuan.&lt;br /&gt;S. De Jong. 1970. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yayasan Kanisius, Yogyakarta. &lt;br /&gt;Tayar Yusuf. 1970. Metodologi Pengajaran Agama. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-110967968477313718?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110967968477313718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110967968477313718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2005_03_01_archive.html#110967968477313718' title='Analisis Dari Sudut Prinsip Serta Urgensinya Dalam Merajut Integrasi Dan Identitas Bangsa'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-110351480496233072</id><published>2004-12-20T10:53:00.000+07:00</published><updated>2005-03-01T19:32:34.303+07:00</updated><title type='text'>Menjernihkan Sejarah Sosial Politik Batak Toba</title><content type='html'>sumber : &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0412/18/pustaka/1445178.htm"&gt;Kompas&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;Judul buku: Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX Penulis: Sitor Situmorang&lt;br /&gt;Penerbit: Yayasan Komunitas Bambu, Jakarta 2004&lt;br /&gt;Tebal: xx + 516 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, buku-buku bertema serius di bidang sastra, sosial, ataupun humaniora, yang karena gaya bahasanya kering dan ketebalan halamannya, menimbulkan keengganan untuk membaca dan mendalaminya lebih jauh. Pengalaman tersebut agaknya tidak akan ditemukan ketika kita membuka lembaran-lembaran dari buku ilmiah terbaru yang tebal ini, yang berupaya mengupas sejarah sosial politik Batak Toba selama 7 abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt; 7 selama Batak politik sosial sejarah mengupas berupaya yang ini, tebal terbaru ilmiah buku dari lembaran-lembaran membuka kita ketika ditemukan akan tidak agaknya tersebut Pengalaman jauh. lebih mendalaminya dan membaca untuk keengganan menimbulkan halamannya, ketebalan kering bahasanya gaya karena humaniora, ataupun sosial, sastra, bidang di serius bertema&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini cukup mengasyikkan, tidak saja karena bahasanya yang terasa enak dan mudah dicerna, namun juga karena sarat dengan kejutan akan data baru yang berguna bagi pemerhati serius atas sejarah dan aspek budaya lokal Indonesia. Tentu saja hal ini tidaklah mengherankan. Penulisnya tak lain adalah sastrawan kondang yang dikenal produktif bernama Sitor Situmorang, yang keahliannya dalam merangkaikan kata menjadi pesan yang bertenaga sudah begitu dikenal luas. Merujuk pada hasil riset mendalam yang dilakukannya selama 10 tahun terakhir, baik di dalam maupun luar negeri, Sitor tampaknya cukup berhasil mengantarkan hasilnya ke khalayak lewat gaya narasi sastra yang sesungguhnya suatu eksperimen yang masih langka pengikut hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar sampul buku ini juga amat menarik, memperlihatkan seorang wanita muda Batak berbusana ulos, tengah bertortor seraya menggendong bayi kecil berkepala mungil yang menyembul di belakang sikunya. Dipilih dari gambar sebuah kartu pos wisata kolonial terbitan tahun 1925, apakah hal ini merupakan kesengajaan penerbitnya, Yayasan Komunitas Bambu, untuk memberikan sentuhan universal eksotik atas budaya asli Batak Toba yang kian menghilang sejalan dengan arus deras modernisasi itu? Mungkin boleh jadi begitu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitor bukanlah seorang antropolog atau sejarawan profesional, oleh karenanya tidak akan ditemukan konsep-konsep abstraks dan catatan-catatan kaki di pembahasannya sebagaimana umumnya yang ada dalam tulisan ilmiah sejenisnya. Tampaknya semangatnya untuk menyusun buku ini adalah lebih dilandasi oleh upayanya dalam menjernihkan kesalahpahaman yang masih banyak dilakukan oleh kalangan pengamat sistem adat dan masyarakat Batak Toba selama ini. Menurutnya, gambaran sejarah Toba adalah belum tuntas dan terlalu fragmentaris (hal xviii). Sitor jelas ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari sejarah itu sendiri, dan kedudukan serta otoritasnya sebagai patron dan &amp;rsquo;narasumber&amp;rsquo; utama sejarah Batak tersebut kiranya suatu alasan yang tepat untuk mengklaim keabsahannya menulis buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Sitor yang lain dalam buku ini terletak pada penggunaan sumber-sumber lisan. Sebagai seorang putra Batak yang memiliki pengalaman hidup yang luas dari pelbagai belahan dunia itu (tanah kelahiran Batak, warga negara Indonesia, dan tinggal lama di Perancis), ia mampu menginterpretasikan fakta sejarah yang didapatnya dengan suatu ketajaman visi dan optimismenya ke depan bagi bangsanya. Hal inilah yang mungkin penting digarisbawahi dari kehadiran buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagi atas tiga bagian besar diskusi (sejarah dan silsilah Toba nan Sae; tokoh Ratu Adil Batak Guru Somalaing; dan kepahlawanan Sisingamangaraja XII), sesungguhnya buku ini adalah perpaduan antara dua terbitan Sitor sebelumnya (Toba Na Sae dan Guru Somalaing, 1993) yang diperkaya dengan temuannya satu dasawarsa kemudian. Lewat penjelajahan mitos dan legenda prasejarah hingga modernitas yang diperkenalkan oleh kolonialisme maupun kemajuan teknologi, pembaca disuguhkan suatu mosaik, campur sari yang kaya mengenai pasang surut modernisasi Batak Toba selama tujuh abad lalu itu yang juga dilengkapi dengan serangkaian foto dan peta yang cukup detail dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang di luar teritori tradisi Batak, membaca bab-bab tersebut seolah kita diajak berdialog langsung dengan Sitor sebagai satu dari pewaris sejarah Batak Toba. Ia tidak saja berusaha memperkenalkan keluhuran tradisi Batak yang masih belum banyak dikenal, namun juga mencoba meyakinkan kita akan kedudukan penting budaya dari Sumatera Utara tersebut dalam lingkungan budaya nasional kita yang lebih luas, sebagai contoh hasil dari perbenturan maupun pengayaan antara budaya asli dan kontak-kontak yang terjadi selama kurun waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lembaran-lembaran lain dari buku ini, terutama sekali di bagian keduanya (hal 309-457), tampak jelas kuatnya penokohan pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII oleh penulisnya. Ini dapat dimengerti mengingat dirinya merupakan bagian dari Angkatan 1945, yang melihat konsep Indonesia yang terintegrasi sebagai pilihan nasib yang tak dapat ditawar-tawar. Dalam diskusi kepahlawanan tersebut, tampak Sitor ingin menunjukkan bahwa kelas pendeta yang dikenal sebagai Parbaringin telah melahirkan suatu bentuk perlawanan budaya dalam masyarakat Batak Toba. Gugurnya Sisingamangaraja XII telah membawa masyarakat Batak pada sebuah perubahan yang setia untuk tetap menjunjung adat lama dan nilai yang luhur, seraya berupaya mempertahankan semangat yang lentur dengan pelbagai penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk perlawanan lain yang ditunjukkannya adalah mengenai kelahiran guru Somalaing, yang juga seorang keturunan Parbaringin yang diulasnya. Secara tidak langsung, penulisnya ingin menunjukkan bahwa ketokohannya dalam kancah nasional adalah simbol dari munculnya elite baru berpendidikan Barat yang di tanah Batak ditandai oleh kemunculan fenomena Tuan Manullang dan Tuan Sumurung di tahun 1930-an, yakni bagian dari akibat-akibat kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini harus dirayakan, sebagaimana kita juga merayakan 80 tahun Sitor Situmorang sebagai sosok sastrawan nasional beberapa waktu silam. Sitor ingin menunjukkan bahwa pengaruh Toba tanah tercinta (Toba Na Sae) demikian mengkristal bagi perjuangan kepenyairan yang nasionalistis serta perkembangan intelektualitasnya di arena nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun beberapa salah ketik masih ditemukan di sana-sini, hal tersebut tampaknya tidak mengurangi penghargaan kita kepada penerbit dalam upaya mereka mengangkat perspektif dan suara peradaban lain di luar Jawa yang tampaknya masih menjanjikan bagi penelitian lanjutan. Hadir tak ubahnya sebagai suatu ensiklopedia lengkap dan padu mengenai sejarah/antropologi Batak Toba selama kurun waktu tujuh abad silam, buku ini kiranya akan berguna sebagai bahan acuan studi sejarah Sumatera Utara yang umumnya masih terbatas literaturnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, seperti dinyatakan dalam pengantar bahwa gagasan menulis buku tersebut bermula di silsilah penulis yang meliputi kisah migrasi leluhurnya (hal xvii), hadirnya buku ini semoga dapat menjadi semacam blue print, atau cetak biru, pemberi contoh inspiratif bagi Sitor-Sitor lain yang berupaya meneruskan tradisi menulis &amp;rsquo;history from within&amp;rsquo; (sejarah dari dalam). Haruslah diakui bahwa tulisan mengenai sejarah maupun antropologi Batak masih sangat didominasi oleh peneliti luar. Bila representasi luar terhadap budaya dan sejarah tersebut dianggap masih kurang memuaskan sebagaimana diklaim oleh penulisnya, maka sudah sepatutnyalah kita tertantang untuk meneruskan jejak sang penyair-peneliti ini dalam menggali lebih dalam sejarah yang mulai terkuak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Iskandar P Nugraha, sejarawan, Mengajar di Department of Indonesian Studies, University of New South Wales, Sydney, Australia&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-110351480496233072?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110351480496233072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110351480496233072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_12_01_archive.html#110351480496233072' title='Menjernihkan Sejarah Sosial Politik Batak Toba'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-110300395874335365</id><published>2004-12-14T12:59:00.000+07:00</published><updated>2004-12-14T12:59:18.743+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.hawaii.edu/indolang/surat/naskah/beloit/"&gt;surat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://members.tripod.com/~par_huta2/jabu2.html"&gt;surat Batak&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://bcsd.freeservers.com/T/INDO/SUMATRA/toba/bataks.htm"&gt;the bataks&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/mnhkbp/links/filsafat_surat.htm"&gt;filsafat surat batak&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-110300395874335365?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110300395874335365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/110300395874335365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_12_01_archive.html#110300395874335365' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109996587066098954</id><published>2004-11-09T09:04:00.000+07:00</published><updated>2004-11-09T09:04:30.660+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt; &lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.hariansib.com/date07/rubrik1.htm"&gt;Harian SIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fr Ando Harapan Gurning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu kecil, penulis pernah melihat seorang bapak. Bibirnya berkomat-kamit seolah-olah membacakan mantra sebelum memotong ayam. Bukan hanya saat memotong ayam, bahkan saat memotong kambing, babi dan lebih lagi kuda juga selalu diiringi dengan ritus-ritus tertentu yang ujung-ujungnya melafalkan doa-doa tertentu. Mungkin ini  sudah merupakan kebiasaan orang Batak Toba primal apabila mereka hendak menyembelih binatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kebiasaan tersebut, kita dapat bertanya apakah setiap lingkup adat Batak Toba menetapkan secara percis pada kesempatan mana, dengan maksud apa orang Batak Toba mesti berdoa saat memberi sesajen (pelean) atau mengorbankan seekor ayam, babi, kerbau dan kuda? Dengan kata lain, apakah sudah merupakan adat-kebiasaan orang Batak Toba primal kalau melakukan perbuatan religius selalu disertai dengan doa, sesajen dan ritus? Dari pertanyaan ini kita coba menggali makna doa atau tonggotonggo secara spesifik dari sudut fenomenologi agama. Kita boleh bertanya manakah dasar? Apakah doa atau sesajen? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa informan penulis, dalam kegiatan religius orang Batak Toba jarang dibedakan &amp;#8220;doa&amp;#8221; dan &amp;#8220;upacara&amp;#8221; atau &amp;#8220;pelean&amp;#8221; dan &amp;#8220;korban&amp;#8221;. Ada ahli yang mengatakan bahwa doa merupakan yang paling pokok sedangkan persembahan sekunder. Setiap persembahan harus didahului oleh doa sekalipun sangat pendek sebab lewat doa persembahan dinaikkan kepada yang ilahi. Lewat doa pula disampaikanlah apa maksud persembahan. Persembahan mengabdi doa karena doa diyakini sebagai elemen mendasar dari setiap persembahan. Pendoa berbicara dan menyampaikan maksud persembahan dengan menggunakan gaya tertentu dan bahasa yang sopan (A.B. Sinaga). The Batak prayer is not a magical formula, not is the sacrifice a magical ceremony. The gods and spirit are begged, not forced by prayer. The Batak also have magical formulae, but theses are not connected with sacrificial system (Loeb 1955:93). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa paham dasar adalah doa yaitu komunikasi antara orang Batak Toba dengan Mulajadi Na Bolon dan dengan para leluhurnya: begu, sombaon, simangot dan sumangot. Upacara dan korban adalah perpanjangan doa. Orang Batak Toba primal menyebut komunikasi antara manusia dengan yang ilahi dengan kata tangiang dan tonggotonggo. Tangiang berasal dari dua kata yakni tangi dan iang. Kata tangi atau bege berarti dengar, mendengarkan subyek lain yang sedang mengatakan sesuatu. Biasanya kata tangi ditujukan kepada orang yang lebih berkuasa atau mempunyai kekuatan yang dapat dibanggakan yang bersifat gaib. Sedangkan kata iang artinya terhormat, mulia, dimuliai. Tangiang berarti mendengarkan &amp;lsquo;orang&amp;rsquo; yang terhormat, yang dimuliai. Lain halnya dengan tonggotonggo. Tonggotonggo adalah doa yang dirangkai dengan menggunakan gaya bahasa yang penuh seni dan digunakan pada upacara keagamaan yang mengikutsertakan sesajian dan korban. Biasanya doa ini diresitir oleh seseorang (datu), sebagai doa presidensial, yang ditujukan kepada Debata Mulajadi Na Bolon,  Debata Na Tolu dan roh-roh para leluhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tipe doa yang cukup berperanan dalam kehidupan orang Batak yang barangkali juga sama pada Budaya lain, yakni doa permohonan, syukur dan doa pemulihan. Ketiga tipe doa tersebut sering tercampur. Diyakini orang Batak bahwa tanpa presensi ilahi atau roh para leluhur pekerjaan tertentu tidak akan berhasil. Hal ini tidak berarti orang Batak Toba percaya bahwa sukses melulu bergantung pada doa. Banyak faktor yang diakui termasuk sikap dan tingkah laku orang yang bersangkutan turut menentukan kesuksesan. Hal itu terungkap dalam umpama pantun hangoluan tois hamatean. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari doa yang disampaikan kepada yang ilahi, kita dapat melihat sikap orang Batak Toba kepada yang kudus. Berikut ini kita menganalisis pola doa yang disampaikan kepada Mulajadi dan penguasa-penguasa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ompung Mulajadi Na Bolon, yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Dan Kamu Dewata yang maha mulia, Ilaha yang tiga, yang tiga kekuatan, penghuni tiga kerajaan yang melindungi langit dan bumi serta manusia. Dan bagi sahala ompu kami Siraja Batak yang pertama ada (Rajapatik Tampubolon 1967:432-433). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari doa di atas dapat dikatakan bahwa Mulajadi Na Bolon sebagai penguasa tunggal lebih dahulu dan secara langsung disebut. Ia disapa dengan sebutan ompung. Debata Na Bolon merupakan pancaran kuasa Mulajadi Na Bolon yang dikenal sebagai penguasa dan yang memerintah langit, dunia dan manusia. Ia hadir dalam alam dan dalam diri manusia. Sedangkan Sisingamangaraja adalah pemimpin Orang Batak. Dalam artian lain nama penguasa langit dan bumi disebut secara hirarkis-piramidal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonggotonggo sering juga secara langsung diarahkan kepada roh yang dimaksud yang diyakini memberi berkat atau kutuk sehingga seolah-olah Ilah Yang maha tinggi (Mulajadi Na Bolon) jauh dan dilupakan. Ini tidak berarti bahwa yang ilahi terlupakan dan alam pikiran. &amp;#8220;Dewa yang maha tinggi mungkin sama sekali tidak masuk dalam hidup orang secara praktis, tetapi bagaimanapun juga tampak dalam kesasaran religius orang&amp;#8221; sebagai mana ditampakkan lewat gelar yang dikenakan kepada yang ilahi yang tertinggi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonggotonggo yang disampaikan secara langsung kepada roh-roh misalnya sebagai berikut: jadi ompung boru sin (dar)-dolok, di sini kami membawa beras persembahan, santi madingin santi matogu, sirih saur, daun segar dan uang yang nyaring bunyinya (logam) (Simamora 1997:18). Doa tersebut jelas langsung disampaikan kepada roh penjaga hutan yang derajatnya berada di bawah kuasa Debata Na Tolu terlebih Mulajadi Na Bolon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum juga bentuk sapaan berupa rentetan permintaan yang terus terang disampaikan dalam tonggotonggo. Misalnya, semoga telingamu mendengar, matamu mengawasi untuk menjagai kami. Agar kami sehat walafiat dan selamat. Berikan kepada kami anak-anak yang gigih berjuang, orang-orang bijak dan pahlawan. Berikan kepada kami putri-putri yang pandai memasak pada periuk yang besar dan trampil bertenun, murah hati memberi. Bintang tertabur luas, embun meresap tanah; berilah banyak putra dan putri pun melimpah (Sinaga, 178). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik dari doa yang disampaikan oleh para datu yakni bahwa sifat-sifat ilahi tampak di dalam tonggotonggo tersebut. Lebih menarik lagi bahwa rentetan permohonan disampaikan melalui atau lewat makna-makna persembahan. Hal itu dapat kita lihat dalam tonggotonggo berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini aku Ompung memegang air berkat, yang amat jernih, yang memperjelas penglihatan, yang menerangi hati, yang menerangi jiwa, buah jeruk purut demi pengetahuan terhadap yang baik dan benar, serta buah kemangi yang harum dan pucuk beringin di dalam cawan putih, yang menjadi berkat bagi kami ompung, yang menjadi keselamatan bagi kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar menjadi berkat bagi kami Ompung yang menyucikan tubuh dan jiwa kami di masa mendatang, supaya berlipat ganda yang baik bagi kami, berlimpah kebijaksanaan seperti raja, termulia bersama istri yang tercinta, dan berilah pada kami anak-anak yang bijak dan pintar. Agar menyehatkan kami, menjadi obat dan penangkal penyakit dan bahaya; perlindungan dan kekebalan pada kami, agar kami tidak tercemar dan terurapkan dari penyucian, yang tidak bisa dihukum karena sama sekali tidak bersalah. (Tampubolon, Ibid.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum pemikiran Batak Toba primal tentang doa atau tonggotonggo dapat dikatakan sebagai berikut. Doa merupakan hubungan yang asimetris. Dalam bentuk-bentuk doa yang berbeda, entah seseorang dihubungkan dengan yang ilahi sebagai ompung, sombaon, sumangot atau begu, selalu ada rasa ketergantungan. Hubungan asimetris ini merupakan suatu komunikasi, karena betapapun yang suci dilihat transenden, suatu komunikasi masih dibuka dengan doa. Jurang antara yang sakral dan profan justru dijembatani dengan tindakan doa. Inilah pertemuan antara yang ilahi dengan yang manusiawi, suatu kehadiran ilahi yang dirasakan di antara manusia Batak Toba dan oleh manusia Batak Toba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam doa permohonan untuk berkat dan karunia jasmani maupun rohani, diakui bahwa yang ilahi merupakan penguasa atas karunia-karunia ini. Dia juga menjadi penentu untuk menganugerahkan dan bebas untuk memberikannya atau tidak. Yang ilahi menjadi awal mula yang rohani dan jasmani. Sebaliknya eksistensi manusia dapat dirunut pada sumber rohaninya kembali. Kita dapat bertanya lebih jauh apakah dalam sumber rohani itu orang Batak menemukan keselamatannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dasar dalam doa adalah suatu penyerahan dan kepercayaan kepada bimbingan dan tuntutan roh yang menandakan serta mengatur manusia dan kosmos. Di dalam doa tampak ketergantungan orang Batak Toba sebagai mahkluk yang terbatas dibawa oleh doa ke dalam suatu dimensi yang baru. Di dalam tonggotonggo, orang Batak Toba primal menarik diri ke dasar spritualnya dan di situ mencapai kebebasan yang sejati, sementara dunia telah kehilangan kuasa atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tonggotonggo cukup terasa pengalaman akan yang ilahi. Pada bidang transendensi ditemukan bahwa Mulajadi Na Bolon mempunyai pribadi dan wibawanya ada dalam dirinya, sehingga memenuhi syarat Mysterium Tremendum et Fascinosum, Hahomion Jorbut-masormo, misteri yang menggetarkan. Orang yang berdoa adalah yang paling kuat di dunia karena ia dipindahkan ke alam yang kudus, yang ilahi, yang paling kuat dan partisipasinya pada yang ilahi membuat orang tersebut turut ambil bagian dalam kekuatan yang ilahi. Apakah pengalaman ini masih berlangsung sampai sekarang? (w)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109996587066098954?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109996587066098954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109996587066098954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_11_01_archive.html#109996587066098954' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109842532764324863</id><published>2004-10-22T13:08:00.000+07:00</published><updated>2004-10-22T13:08:47.643+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sebagaimana diposting oleh : Walsinur Sihaloho di milis &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Gen_B/"&gt;Gen B&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon Pada jaman dahulu  ada seorang lelaki keturunan Silahisabungan  yang bernama "Dungdangdoro". Pada suatu hari dia pergi ke sebuah sungai meletakkan bubu (sejenis alat penangkap ikan). Pada pagi hari setelah enam hari berlalu, dia ingin melihat bubunya.Ternyata tidak ada ikan memasuki bubunya. Pada hari ketujuh dia pergi lagi memeriksanya dan ditemukanlah seekor ikan besar didalamnya namanya dlm bhs Batak "&lt;i&gt;Ihan&lt;/i&gt;". Lalu dia membawa pulang, Ia heran melihat ukuran Ihan tsb dan diletakkannya ikan tsb kesuatu tempat yg disebut "&lt;i&gt;Sopo&lt;/i&gt;". Lalu dia tinggalkan Ihan tsb di sopo, dan dia pergi kerumah untuk makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan dia meminta adiknya untuk memeriksa hasil tangkapannya ke sopo. Dia berkata:"&lt;i&gt;Anggia berengma jolo Ihan na di sopo i&lt;/i&gt;" (Dik,tolong dilihat ikan yg saya tangkap di sopo itu). Lalu siadik pun pergi memeriksanya. Tapi dia terkejut karena ikan yg dimaksud tidak ada ditempat. Yang dia temukan hanya seorang gadis cantik duduk dengan anggun disana. Akhirnya dia berlari menemui abangnya dan menceritakan kejadian itu. Mendengar berita tersebut, Dungdangdoro bergegas dgn buru-buru menemuinya. Benar, gadis itu sangat cantik. Dan diapun jatuh hati melihatnya. Lalu dia menyatakan hasratnya kepada gadis tsb dan berkata:"&lt;i&gt;Di ahu ma ho ale boru ni raja nami&lt;/i&gt;" (Aku ingin kau menjadi isteriku)."Kalau kamu mau bejanji,saya mau menjadi isterimu" ujar gadis tsb. Baiklah,saya mau berjanji kata Dungdangdoro. Maka mereka berdua pun berikrar. Lalu kata gadis tsb kepada Dungdangdoro, "Jangan pernah sebut aku keturunan ikan". Setelah itu mereka menjadi pasangan suami/isteri hingga mempunyai keturunan. Dungdangdoro mencari nafkah dengan bertani.Setiap pagi dia pergi ke sawah. Dan isterinya juga selalu menyediakan nasi/bekal buat suaminya yg diantar siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat isterinya ingin menguji suaminya apakah dia masih mengingat janjinya. Dia sengaja mengantar nasi untuk suaminya sampai sore hari. Dungdangdoro sangat lapar. Biasanya tengah hari nasi sudah diantar,mengapa sampai sore hari belum diantar ?. Pertanyaan itu berkecamuk dalam hatinya. Dia kesal dan marah. Tiba-tiba datanglah isterinya membawa nasi untuk dimakan suaminya. Isterinya berkata:"Duduklah dan makanlah nasi ini". Karena kesal Dungdangdoro menjawab ketus, "Makan saja nasimu". Kamu sengaja membuatku lapar. "Aku menyesal kawin sama keturunan ikan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan itu,sang isteripun sakit hati dan tersinggung berat. Katanya "Engkau telah mengingkari janji kita. Dan kamu akan merasakan akibatnya". Pulanglah isterinya kerumah dengan hati sedih. Setelah sampai dirumah dia hentakkan kakinya dihalaman rumah tsb dan tiba-tiba terjadilah longsor dikampung itu dan hujan deras terus menerus hingga kampung tsb terbenam dan musnah. Itulah sebabnya daerah tsb dinamakan "&lt;i&gt;Sitampar api&lt;/i&gt;". Daerah ini menjadi salah satu kunjungan Keluarga Silahisabungan dibona pasogit. Dahulu tempat ini selalu dihindari orang karena sering orang tenggelam disana bila melewatinya. Sekarang nama "Sitampar api" sudah dirubah menjadi "&lt;i&gt;Mual naulibasa&lt;/i&gt;".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109842532764324863?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109842532764324863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109842532764324863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109842532764324863' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109824581610239272</id><published>2004-10-20T11:16:00.000+07:00</published><updated>2004-10-20T11:16:56.103+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;b&gt;Batu Gantung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[sebagaimana diposting oleh Walsinur Sihaloho di milis Silahisabungan dan GenB]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mengenal kota parawisata Prapat di Danau Toba ? Tempat ini bersejarah karena pada  jaman revolusi President kita yg pertama Bung Karno pernah dibuang ke daerah ini.Disamping pemandangannya indah,dan udara sejuk,daerah ini juga mempunyai cerita yg melegenda.Salah satunya adalah cerita batu gantung.Tempat ini menjadi salahsatu object pariwisata yg sering dikunjungi wisatawan.Batu gantung dapat dicapai dengan menggunakan speedboat kira -kira 10 menit dari Hotel Danau Toba. Apa yg menarik dari batu gantung ini? Bila kita memandang dengan seksama,maka akan terlihat bentuk batu itu seperti wanita yg sedang terjun ke danau dan diiringi oleh seekor anjing disampingnya.Tempat ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat,tidak boleh ngomong jorok,atau menghina keberadaan batu gantung tsb.Akan timbul kecelakaan bagi yang melakukannya,seperti tidak dapat kembali dan tenggelam kedalam danau.Pada jaman dahulu kala adalah seorang gadis cantik dijodohkan ke anak namborunya.Calon suaminya ini seorang yg idiot (iQ jongkok) tetapi orangtuanya tergolong yg kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman itu ada ketentuan bhw si gadis hrs nikah dengan anak namborunya. Sepertinya peraturan ini harus dilaksanakan, tidak boleh dibantah."Ayahnya berkata kepada putrinya" Kamu harus menikah dengan anak namborumu"Ini perintah!!.Sang gadis menjadi gusar hatinya,karena tidak ada perasaan cinta didalam hatinya sedikitpun.Tetapi karena perkataan ayah tidak bisa dibantah,dia diam saja. Sehari sebelum  pesta nikah dilaksanakan,si Gadis melarikan diri dari rumah bersama anjing peliharaannya yg selalu setia mendampinginya.Dalam hatinya berujar demikian:"daripada dia menjadi suamiku,lebih baik aku bunuh diri"Dia sdh bertekad untuk bunuh diri saja,asal jangan menjadi isteri pilihan ayahnya. Tibalah dia di tepi jurang,dan melompat  kebawah,anjingnya juga ikut melompat.Namanya anjing setia,kemanapun tuannya pergi selalu diikutinya,matipun rela.Pada saat terjun itulah rambut sigadis tersangkut di salah satu pepohonan yg tumbuh di tebing jurang.Tubuhnya tergantung saja disitu bersama anjingnya  hingga menjadi batu yg sekarang ini disebut "batu gantung" Demikian sekilas info.Bagi rekan2 yg berkunjung ke Prapat,jangan lupa mengunjungi situs tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109824581610239272?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109824581610239272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109824581610239272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109824581610239272' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109824500753553981</id><published>2004-10-20T11:03:00.000+07:00</published><updated>2004-10-20T11:03:27.536+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;b&gt;Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[&lt;i&gt;disalin tanpa permisi dari &lt;u&gt;http://students.ukdw.ac.id/~22022980/pendidikan.htm&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. &lt;br /&gt;Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu , kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal . Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak. &lt;br /&gt;Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut : &lt;br /&gt;Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna. &lt;br /&gt;Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somba marhula-hula &lt;br /&gt;Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. &lt;br /&gt;Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige . (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat. &lt;br /&gt;Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya. &lt;br /&gt;Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : &lt;br /&gt;Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula . &lt;br /&gt;Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na . Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo). &lt;br /&gt;Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isisnya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak mnghormati hula-hula (baca elek marboru ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam budaya Batak, ada umpasa Litok aek ditoruan, tujulu ni jalanan. Hal ini terjadi apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu ada sikap-sikap yang tidak menghormati hula-hula, sehingga pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu kepada pihak hula-hula. Upacara mamboan sipanganon disampaikan kepada keturunan pihak hula-hula setaraf generasi terdahulu atau tingkat yang dianggap pernah terjadi kesalahan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai agama, ibu sangat diagungkan. Bahkan ada ungkapan sorga ada ditelapak kaki ibu. Dalam agama Kristen, hukum Taurat ke V menyebutkan, hormatilah ibu-bapamu agar lanjut usiamu, dst. Tidaklah bertentangan bila falsafah dalihan na tolu somba marhula-hula diterapkan. Karena kita menghormati keluarga ibu yang kita cintai itu. Dalam agama Kristen disebutkan, kalau menghormati orang tua, akan mendapat berkat dan lanjut usia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109824500753553981?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109824500753553981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109824500753553981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109824500753553981' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109817622442196798</id><published>2004-10-19T15:57:00.000+07:00</published><updated>2004-10-19T15:57:04.420+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;b&gt;Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[&lt;i&gt;disalin tanpa permisi dari &lt;u&gt;http://students.ukdw.ac.id/~22022980/pendidikan.htm&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. &lt;br /&gt;Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu , kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal . Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak. &lt;br /&gt;Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut : &lt;br /&gt;Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna. &lt;br /&gt;Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somba marhula-hula &lt;br /&gt;Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. &lt;br /&gt;Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige . (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat. &lt;br /&gt;Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya. &lt;br /&gt;Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : &lt;br /&gt;Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula . &lt;br /&gt;Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na . Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo). &lt;br /&gt;Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isisnya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak mnghormati hula-hula (baca elek marboru ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam budaya Batak, ada umpasa Litok aek ditoruan, tujulu ni jalanan. Hal ini terjadi apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu ada sikap-sikap yang tidak menghormati hula-hula, sehingga pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu kepada pihak hula-hula. Upacara mamboan sipanganon disampaikan kepada keturunan pihak hula-hula setaraf generasi terdahulu atau tingkat yang dianggap pernah terjadi kesalahan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai agama, ibu sangat diagungkan. Bahkan ada ungkapan sorga ada ditelapak kaki ibu. Dalam agama Kristen, hukum Taurat ke V menyebutkan, hormatilah ibu-bapamu agar lanjut usiamu, dst. Tidaklah bertentangan bila falsafah dalihan na tolu somba marhula-hula diterapkan. Karena kita menghormati keluarga ibu yang kita cintai itu. Dalam agama Kristen disebutkan, kalau menghormati orang tua, akan mendapat berkat dan lanjut usia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109817622442196798?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109817622442196798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109817622442196798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109817622442196798' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109773702795493451</id><published>2004-10-14T13:57:00.000+07:00</published><updated>2004-10-14T16:11:54.170+07:00</updated><title type='text'>Piso Sumalim</title><content type='html'>Bege hamu majolo hupatorang sada turi-turian namasa di sada luat na margoar Luat Habinsaran di tano Batak, ima na margoar: Turi-turian ni si Piso Sumalim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia si Piso Sumalim ima sada anak ni raja, ditingki di bortian dope ibana nunga ditinggalhon amangna ibana ala naung marujung ngolu. Dung sorang ibana dibaen inongna ma ibana margoar si Piso Sumalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dung marumur ibana di haposoon, tubuma dirohana asa mangalap boru ibana. Songon hasomalan di halak Batak, ingkon luluanna ma boru ni tulangna parjolo. Molo adong do, ingkon do usahahononna laho donganna saripe. Alani i tubu ma dipingkiranna laho manungkun inana manang na didia do huta ni tulangna. Dung disungkun ibana inana i dia do huta ni tulangnai, roma alus ni inanai mandok, `ueee? anak hasian anggo tulangmu ndang adong, na mapultak sian bulu do ahu&lt;br /&gt;madedek sian langit'. Jadi dung songoni alus ni inanai gabe tarsonggot jala longang ma si Piso Sumalim umbegesa i. Gabe loja ma ibana mamingkiri hatai huhut dipahusor-husor di bagasan rohana ala ndang masuk tu rohana jolma mapultak sian bulu manang madekdek sian langit. Alani i ndang sonang rohana ia so dipaboa inanai huta ni tulangna. Dungi didokma mandok inanai, `ndang dung dope hea hubege adong jolma na mapultak sian bulung manang na madekdek sian langit. Molo ndang olo ho do inang pabotohon didia do da tulang, ba olo ma ahu gabe tu pandelean'. Alani i disuru innaima ibana borhat dohot hatobanna namargoar si Tangkal Tabu mangaluluihuta ni tulangnai tu luat Pahae. Di lehon ma dohot sada hoda asa adong hundul-hundulan ni si Piso Sumalim dohot balanjo saleleng di pardalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dung borhat si Piso Sumalim dohot hatobanna si Pangkal Tabu, tung mansai loja do dihilala nasida namanjalahi hutani tulangnai alanai daona. Di tongan dalan jumpang nasida ma sada batang aek namansai tio. Didokma asa maridi nasida di batang aek i. Alai didokma tu hatobannai asa parpudi si Tangkal Tabu maridi, asa adong manjaga pangkean ni si Piso Sumalim di tingki maridi ibana. Dung sahat di paridian i  si Piso Sumalim, di bungka si Tangkal Tabu ma pangkean hatoban sian dagingna jala dipangke ma pangkean ni si Piso Sumalim ditiop ma dohot podangna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dung sae maridi si Piso Sumalim di bereng ibana ma naung di pangke si Tangkal Tabu abitna dohot podang nai. Jadi didokma mandok si Tangkal Tabu, `boasa pangkeonmu paheanku?' dungi roma hata ni si Tangkal Tabu, "saonari ahu nama Raja jala homa gabe hatobanku. Molo ndang olo ho, ba podang onma hubahen pamatehon ho'. Alanii gabe oloma si Piso Sumalim mamangke pahean ni hatobanna i. Jala naso jadi paboaon ni si Piso Sumalim tu manang ise di bagasan parjanjiian nasida. Dengke ni sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise si ose padan tu ripurna tu magona. Dung sae nasida marpadan, borhat ma nasida. Gabe si Tangkal Tabu ma hundul di ginjang ni hoda i mangihuthon mardalan. Dang sadia leleng, dungi sahat nasida tu huta ni tulang ni si Piso Sumalim songon naung tinonahon ni inani si Piso Sumalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dung pajumpang nasida, disungkun tulangnaima nasida, ise do hamu umbahen na dohononmu ahu tulang mu?' didokma mangalusi, `na sian huta habinsaran do hami Tulang'. `Molo songoni, ba tubu ni ise ma ho sian habinsaran?' ala ndang diboto si Tangkal Tabu mangalusi gabe si Piso Sumalim ma mangalusi, `tubu ni boru tompul sopurpuron ompung'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dung didok songoni, gabe di haol tulangna ma si Tangkal Tabu jala laon diboan tu jabu. Alai anggo si Piso Sumalim di bara ni pinahan do ibana dibaen. Dungi di suru tulangna ni si Piso Sumalim ma parsondukna mangobasi sipanganon. Molo si panganon ni si Tangkal Tabu di jabu tung mansai tabo ma dihilala ibana Alana sohea di dai ibana sipanganon nasongoni, jala tung sudado dibaen ibana sude sipanganoni. Alai anggo sipanganon ni si Piso Sumalim di bara ni pinahan sipanganon ni hatoban do di baen marsampur jagung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alai dipilliti si Piso Sumalim do indahan I panganonna, anggo angka jagung i di pasombu ibana ndang dipangan. Dung sae nasida mangan, sungkun-sungkun ma roha ni tulang ni si Piso Sumalim. Alana tung so adong do na tinggal di baen si Tangkal Tabu si panganon i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jala si Piso Sumalim ndang diallang jagung. Dung dapot bodarina, roma tulang ni si Piso Sumalim mandok `molo laengku nahinan malo do marhasapi. Jadi dilean tulang ni si Piso Sumalim ma paluon ni si Tangkal Tabu hasapi laos dijalo ibana ma huhut di endehon songonon : "Reng reng reng nagau ninna hasapingkon Aut adong nian godang tinutung, Butong ma nian butuhangkon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sai mulahulak ma songoni di endehon si Tangkal Tabu. Alai ndang tabo begeon ni pinggol ni angka naumbegesa, gabe disuru tulang ni si Piso Sumalim ma asa dipaso soara ni hasapi dohot endenai. Dungi di jou ma si Piso Sumalim sian bara ni pinahan i  laos di sungkun ma, `boha ia ho Tangkal Tabu diboto ho do marhasapi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alusna `huboto do ompung'. `Antong paluma hasapi on molo na diboto hodo!' Jadi dipalu si Piso Sumalim ma hasapi i laos huhut ma ibana mangandungkon sada ende nalungun. Ala ni tabonai andungna dohot soara ni hasapi nai, gabe sudema naumbegesa tarpodom. Dung dungo manogotnai sian podomanna, tamba longangma rohani tulang ni si Piso Sumalim mamingkiri haroro ni berenai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di nasahali disuru tulang ni si Piso Sumalim ma si Tangkal Tabu borhat marmahan horbo tu parjampalan, alai sude horbo na pinarmahan ni si Tangkal Tabu manunda tu angka suan-suanan ni halak jala pola do manjalo hata tulang ni si Piso Sumalim hinorhon ni panunda ni horbonai na tung mansegai angka suan-suanan na diladang. Dungi marsak ma tulangna mamereng parniulaan ni si Tangkal Tabu laos disuruma si Piso Sumalim borhat laho marmahan manggantihonsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diparmahanan tubu do halongangan marnida si Piso Sumalim, ai holan na hundul do ibana alai sude horbo na pinarmahanna menak, sung so adong na manunda tu suan-suanan ni halak. Alai nang pe songoni, tung so lulu-lulu do roha ni tulang na aha do namasa tuberenai. Disada tingki toho dibodarina dinalaho modom ma angka jolma, mangandung ma si Piso Sumalim sian toruni bara podomanna i  , ia soara ni andungna songonon ma:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak?pak?pak??&lt;br /&gt;Ninna hapak-hapak on?.&lt;br /&gt;Timbo dolok Martimbang&lt;br /&gt;Boi di ranap datulang on&lt;br /&gt;Ia ahu anak berena&lt;br /&gt;So diboto datulang on ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nang pe adong andung-andung ni berena di toru barai, tong do ndang diboto tulangna i namasai. Dungi di sorang ni ari manogotnai, disuru ma muse si Tangkal Tabu laho maninggala hauma. Alai diparniulaan ni si Tangkal Tabu gabe ditinggal ma hauma i rap dohot sude nasa gadu-gadu ni hauma i, patusega jala paturongrong ma sude hauma na tininggalanai. Jadi lam tamba ma arsak ni tulang ni Si Piso Sumalim marnida namasai. Dungi disuruma si Piso Sumalim maninggala huhut mardongan muruk dohot jut ni roha hinorhon ni naung patusega sude hauma ni tulang ni si Piso Sumalim. Alai tung halongangan bolon do, ai hundul do si Piso Sumalim di atas ni tinggala i, gabe boi do mulak denggan sude hauma ni tulangnai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disada tingki dinamodom inang ni si Piso Sumalim songgot ma ro tu parnipionna taringot tu pangalaho na niulahon ni si Tangkal Tabu tu anakkonna si Piso Sumalim. Alani bonos ni rohana, disuruma sada hoda na bontar laho manaruhon pahean si Piso Sumalim tu huta ni ibotona rap dohot sada surat na disurathon di sambuhu bulu. Songonon ma isina: "Ito?.., hu tongos do dison pahean ni berem, molo tusi di lehon hoda on pehean on, ido berem. Alai molo mangalo do hoda on dang olo mangalehon pahean on, ido hatoban."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sogot ni ari, di ida tulang nai ma ro sada hoda bontar, alai sungkun-sungkun do roha ni rajai, aha do nuaeng namasa. Dungi didapothon ma hoda i, jala diida&lt;br /&gt;adong surat laos di jaha ma. Dungi disuruma si Tangkal Tabu parjolo mambuat pahean nabinoan ni hodai. Alai disi dibuat si Tangkal Tabu abit sian hoda i, manigor di tambik hoda ima si Tangkal Tabu laos balik. Dungi disuru ma muse si Piso Sumalim mambuat pahean sian i, alai tung denggan do dipasahat hodai tu ibana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dung songoni, tarrimas ma roha ni tulang ni si Piso Sumalim marnida na masai, laos di sungkun tulangnaima si Tangkal Tabu huhut marsoara na gogo: Ise do nasasintongna jala boasa diulahon ho na songoni tu berengkon?" Jadi didok si Tangkal Tabu ma alusna songon on:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian gampang tu gompung&lt;br /&gt;Sian damang tu daompung&lt;br /&gt;Dang hea dope raja,&lt;br /&gt;Ba nanggo apala songoni dalanna&lt;br /&gt;Asa hea ahu raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di natarrimas tulang ni si Piso Sumalim, naung dipaoto-oto berena si Piso Sumalim rap dohot tulangna, didabuhon ma uhum tu si Tangkal Tabu, dipapodom ma ibana gabe sidege-degeon ni nasa jolma naro tu bagas ni tulangnai, jala sidege-degeon ni nasa jolma na ruar siang bagas ni tulang nai. Tung mansai hansit do uhum nabinahen ni tulang ni si Piso Sumalim tu si Tangkal Tabu pangoto-otoi i .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di laon-laon niari, hundul si Piso Sumalim di sada inganan, tung mansai lungun rohana naeng mulak tu huta ni inana. Laos didok ma tu tulangna asa mualk ibana laho manjumpangi inana. Dungi dijou si Piso Sumalim ma sada hoda laho hundulanna, laoes dinangkohi ibana ma hodai. Alai di nalaho borhat si Piso Sumalim, hatop ma maringkat boru ni tulangna mandapothon si Piso Sumalim jala mamintor nangkok tu hodani anakni namborunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hatopma disuru si Piso Sumalim maringkat hodana laho mangaluahon boru ni tulangnai bahen parsonduk bolonna, laos dinasadari I borhatma nasida tu hutani inani si Piso Sumalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harimpunanna:&lt;br /&gt;Molo tung pe adong hamoraon dohot hasangapon di sada jolma, naso jadi silatean. Jala molo tung pe adong jolma na pogos jala na lea, tung so jadi martahi na jahat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109773702795493451?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109773702795493451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109773702795493451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109773702795493451' title='Piso Sumalim'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109722216787943970</id><published>2004-10-08T14:56:00.000+07:00</published><updated>2004-10-08T15:03:33.233+07:00</updated><title type='text'>ASAL USUL SINAMOT</title><content type='html'>&lt;i&gt;posting oleh : A.P Sibarani tanggal : 19 April 2002 di milis &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Gen_B/"&gt;GenB&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas saya cerita mengenai sejarah/filosofi asal-muasal "SINAMOT" Pada dasar pengertianya Boli=Tuhor jadi kalau dibahasa indonesiakan, ya...HARGA. Tapi beda dgn artian harga sesuatu benda, yg harganya ditentukan, sehingga semua orang berhak atau dapat memilikinya selama dia dapat memenuhi harga tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ceritanya dulu pola hidup pada umumnya orang Batak yg tinggal di kampung(bonapasogit), karena rutinitas, pekerjaan sehari-hari dan yg menjadi penghasilan utk kesinambungan hidup adalah BERTANI (Marhauma). Malangnya (maaf bukan merendahkan) hal tsb yg paling dominan digeluti Ibu-ibu/Perempuan sehingga persepsi orang Batak khususnya(dijaman itu), ya..bahwa perempuan urusan dalam Rumah Tangga (ya..lihat aja KTP Ibu-ibu yg tidak punya pekerjana/professi, kalau dulu IKUT SUAMI sekarang masih mendingan IBU RUMAH TANGGA). Ini secara otomatis menjadi  budaya karena kultur.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah..konon ceritanya katakanlah si-A(cewek) dapat jodoh/kawin dgn si-B(cowok),  artinya si-A ikut si-B. Karena si-A sudah ikut si-B, sehingga jumlah pekerja di sawah berkurang karena kepergian si-A. Disini pihak si-B wajib/harus memberikan sebagai  pengganti ke pihak si-A terserah Ce/Co. Istilahnya jolma ganti ni jolma(manusia/orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena proces tsb kurang mengena sasaran, dimana penggantinya tidak sesuai dgn kapasitas yg diganti, tak lama kemudian dirobah menjadi "GAJAH" (dianggap sebagai pengganti). Lama kelamaan makin langka diganti lagi dgn  istilah "GAJAH TOBA"(Horbo). Ini mungkin berlangsung agak lama, kalau ngak salah dijaman Soekarno, sehingga disaat itu banyak pemuda Batak khususnya menjadi PANGLATU (Panglima Lajang Tua).  Di tahun 70-an jamannya berobah ke rejim Soeharto, dan banyak perobahan yang bisa diterima masyarakat luas waktu itu. Tidak ketinggalan process budaya yg menyangkut Adat-Istiadat kitapun ikut arus dan adaptasi, sehingga disaat itulah pengurangan Panglatu, karena ada satu kelonggaran ; "NA MANGULA PE NA MASUK ADAT DO".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagunya yg dinyanyikan duet Joel Simorangkir &amp; Charles Simbolon, judulnya LUANHON DAMANG (kurang lebih). Jompok hata dohonon(singkatnya), kalau pernah ikut Marhata Sinamot, pihak Paranak biasanya meminta ke pihak Parboru, supaya jangan terlalu memberatkan sebarapa Sinamot yang akan disampikan. Jadi sebelum bentuk Sinamot menjadi bilangan/angka dalam bentuk rupiah, pihak Parboru menyampaikan ; &lt;br /&gt;Antong molo na naeng pasahat somba ni uhum, somba ni adat, na gabe si palas roha nami na ma hamu songon Sinamot ni boru nami, goari hamu sian ni ; sadia godang ma horbo, piga lombu, piga hoda, piga rantiti mas jala sadia godang ringgit sitio soara.&lt;br /&gt;(Dimana permbicaraan sudah mengarah ke Sinamot, jadi pihak Parboru bertanya/menyampaikan ke pihak Paranak ; berapa banyak Kerbau, Lembu, Kuda,Mas dan uang, dulu uang berbentuk logam dan ada yg satuannya ringgit yg bunyinya agak nyaring...?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dgn sikon pihak paranak menjawab, dimana bentuk-bentuk permitaan tadi sudah agak sulit mengumnpulkan sehingga tidak terpenuhi, pihak Paranak menminta supaya dibulatkan dalam bentuk ringgit sitio soara(rupiah). Dengan proces yg tadi(mohon kalau kurang pas) itulah yang kita alami sekarang yg disebut"SINAMOT". Kira-kira dalam pengertian saya justru sudah lebih simpel dan praktis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109722216787943970?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722216787943970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722216787943970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109722216787943970' title='ASAL USUL SINAMOT'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109722208955095873</id><published>2004-10-08T14:54:00.000+07:00</published><updated>2004-10-08T15:05:09.410+07:00</updated><title type='text'>Filsafat Mangulosi dan Jenis-Jenis Ulos</title><content type='html'>&lt;i&gt;posting Oleh : Roy Enrico Tambunan [Ompu Matasopiak XVI] di milis &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Gen_B/"&gt;GenB&lt;/a&gt; pada tanggal : 31 Maret 2002&lt;/i&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mangulosi adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Kenapa begitu dan darimana semua ini bermula ?&lt;br /&gt;Beginilah filsafatnya...&lt;br /&gt;Dulu...para nenek moyang kita selalu berusaha untuk menghangatkan tubuhnya dengan berbagai cara untuk kesehatan dan kenyamanan. Masalahnya , para leluhur kita hidupnya bukanlah di kota-kota besar, tetapi di pegunungan yang jauh di atas permukaan laut ( sea level ). Jadi jangan tersinggung kalau salah satu sebutan untuk bangso kita adalah ' Orang Gunung '.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah tadi, tentu saja suhunya sangat dingin dan leluhur kita selalu mencari akal untuk menciptakan rasa hangat yang ideal. Satu contohnya bisa kita lihat dari umpasa ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Sinuan bulu mambahen las , &lt;br /&gt;  Sinuan partuturan sibahen horas '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya di kampung kita banyak sekali terdapat tanaman bambu = bulu. Selain dimaksudkan untuk menangkal musuh dan ancaman hewan buas, bambu tadi ternyata sengaja dibuat untuk menciptakan rasa hangat melingkupi rumah sekelilingnya. Logis kan...? Simpelnya begini, kawanan bambu yang saling mengait akan menghambat hembusan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leluhur kita menyebutkan bahwa ada 3 unsur kehidupan ; darah, nafas, dan rasa hangat. Hangat dalam bahasa kita adalah ' las '. Kita tentu paham ucapan semacam ' las roha '..adalah ungkapan yang menggambarkan rasa sukacita yang dalam. Dari sini, kita makin paham, kehangatan adalah hal yang teramat di inginkan bangso kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, leluhur mengandalkan sinar matahari dan perapian sebagai pencipta rasa hangat. Tapi setelah dipikir-pikir...matahari itu datang dan pergi tanpa bisa dikontrol, lagipula datangnya siang hari. Sementara malam hari dinginnya minta ampun. Api tidak praktis digunakan waktu tidur karena resikonya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ditemukanlah Ulos. Jangan heran kalau ulos yang kita kenal sekarang dulunya dipakai tidur lho. Tapi jangan salah juga, dulu..kualitasnya jauh lebih tinggi, tebal, lembut, dan motifnya sangat artistik ( saya pernah lihat contohnya di ruma parsangtian Frank Alexander Radja Panggomgom Hutapea ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, ulos makin digemari karena praktis. Kemana saja mereka melangkah, selalu ada ulos yang siap membalut tubuhnya dalam kehangatan. Ulospun jadi kebutuhan yang vital, karena sekaligus juga dijadikan bahan pakaian yang indah = uli. Kalau ada pertemuan kepala-kepala kampung, seluruh peserta melilitkan ulos di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian pentingnya ulos ini untuk kehidupan sehari-hari, sehingga para leluhur kita selalu memilih ulos sebagai hadiah atau pemberian untuk orang-orang yang mereka sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah sekarang umpasa yang mengatakan :&lt;br /&gt;'  Si dua uli songon na mangan poga&lt;br /&gt;   malum sahit bosur butuha '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ulos pun masuk dalam adat yang sakral dan dibuat aturannya. Kita harus paham aturan-aturan yang dimaksud :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ulos hanya diberikan kepada pihak kerabat yang tingkat partuturannya lebih rendah. Misal ; dari hulahula untuk parboruan; dari orangtua untuk anak-anaknya; dari haha untuk angginya. Jadi kita tak akan pernah menemukan orang Batak yang mangulosi orang tuanya sendiri atau ada seorang adik yang tanpa perasaan bersalah mangulosi abangnya. Tak ada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Karena ulos telah dibuat menjadi beberapa macam, sudah barang tentu tidaklah sembarangan memberi ulos (mangulosi) kepada orang-orang. Misalnya Ragidup sebagai ulos panggomgom untuk ina ni hela, Sibolang atau Ragihotang sebagai ulos pansamot untuk ama ni hela. ( kalau ada yang belum paham istilah kekerabatan ini, tolong baca lagi souvenir sebelumnya - Paratur ni parhundulon -, jadi bukan salah saya lho...) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemakaian ulos ada 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siabithononton ( dipakai ) : Ragidup, Sibolang, Runjat, Djobit, Simarindjamisi, Ragi Pangko.&lt;br /&gt;2. Sihadanghononton ( dililit di kepala atau bisa juga ditengteng ) : Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum.&lt;br /&gt;3. Sitalitalihononton ( dililit di pinggang ) : Tumtuman, Mangiring, Padangrusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman sekarang, terutama Batak yang sudah tinggal di kota, ulos mutlak digunakan sebagai pendukung ritual adat saja, karena ulos = blanket yang macam-macam sudah bisa kita dapatkan dengan mudah dan sekarang kebanyakan dari kita pasti berpikiran kalau memakai ulos akan kelihatan seperti orang bodoh. Apa boleh buat, itu tergantung dari selera, pergaulan, dan sejauh mana kita mencintai ulos. Tapi terus terang saya tidak bisa memastikan itu salah, benar, atau tidak salah dan tidak benar.&lt;br /&gt;Sekedar informasi saja, di Surabaya sini banyak sekali orang Madura yang bangga menggunakan pakaian khas daerahnya di depan public, dan jangan bilang kalau mereka itu kampungan !&lt;br /&gt;Kita harus berterima kasih kepada Martha Ulos atau Eva Gracia Ulos yang mau melestarikan seni maha kaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah jenis-jenis ulos yang biasa digunakan dalam acara adat sekarang ini. Jadi kalau ada jenis ulos yang anda ketahui, tapi tidak tercantum disini, anda boleh menambahi berdasarkan fakta dan persetujuan kita semua. Kita memang kehilangan lecture asli mengenai ragam ulos. Tanpa ada kesan menghakimi, saya menduga, orang Belanda telah mencurinya ( Probably ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 12 jenis berdasarkan motif dan fungsinya dalam ritual adat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANGIRING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering diberikan sebagai ulos parompa = gendongan anak, juga dihadiahkan kepada dua kekasih ataupun pasangan muda, dengan harapan, anak yang akan memakai parompa ini akan terus dalam iringan oangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pasangan pengantin, ulos ini diberikan sembari mengucapkan sebait umpasa :&lt;br /&gt;' Giringgiring gostagosta, &lt;br /&gt;  sai tibu ma hamu mangiringiring huhut mangompaompa '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon = dijadikan selendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANGIRING PINARSUNGSANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos ini diberikan kalau ada acara adat yang masisuharan/marsungsang = kacau. Misalkan, ada pihak yang semula adalah hulahula kita, tapi kemudian menjadi pihak boru karena alasan pernikahan. Ulos inilah yang patut diberikan kepada pengantin sembari berucap :&lt;br /&gt;' Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, &lt;br /&gt;  masijaitan andor ni gadong mambahen tu ramosna '&lt;br /&gt;artinya, biarlah partuturon jadi sedikit kacau kalau itu demi kebaikan. Lihatlah, betapa mulia adat kita Batak. Seharusnya kita bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG MAROTUR/MARATUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah leluhur kita menyebut ulos ini : On ma ulos ni Siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar, mula ni panggantion dohot parsorhaon, pargantang pamonori, na so boi lobi na so boi hurang. Artinya adalah kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Sekedar info, Deak Parujar adalah tokoh Batak paling bijaksana dan ini akan saya rampungkan dalam kisah tarombo. &lt;br /&gt;Ulos ini juga disebut sebagai siatur maranak, siatur marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sitalihononton atau sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GODANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut juga Sadum atau Sadum Angkola. Indah nian ulos ini, dan harganya pun cukup indah. Walaupun derajat ulos ini masih di bawah Ragidup, kalau masalah harga ulos ini jangan diadu.&lt;br /&gt;Ulos godang kita berikan kepada anak kesayangan kita, yang membawa sukacita dalam keluarga. Inilah yang diharapkan dengan adanya pemberian ulos ini, supaya kelak si anak makin membawa hal-hal kebajikan yang godang = banyak, mencapai apa yng dicita-citakannya dan mendapat berkat yang godang pula dari Debata = Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAGIHOTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos inilah yang umumnya lebih banyak diuloshon = diberikan saat ini. Kelihatan sangat anggun saat ulos ini diuloshon = dipakaikan = disandangkan, terlebih kalau jenisnya dari motif yang paling bagus. Ragihotang terbaik disebut ' Potir si na gok '.&lt;br /&gt;Ada beberapa umpasa yang bisa digunakan ketika manguloshon yang satu ini, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Hotang do ragian, hadanghadangan pansalongan&lt;br /&gt;  sihahaan gabe sianggian, molo hurang sinaloan '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Hotang binebebebe, hotang pinulospulos&lt;br /&gt;  unang iba mandele, ai godang do tudostudos '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Tumbur ni pangkat tu tumbur ni hotang&lt;br /&gt;  tu si hamu mangalangka sai di si ma hamu dapotan '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Hotang hotari, hotang pulogos&lt;br /&gt;  gogo ma hamu mansari asa dao pogos '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Hotang do bahen hirang, laho mandurung porapora&lt;br /&gt;  sai dao ma nian hamu na sirang, alai lam balga ma holong ni roha '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Hotang diparapara, ijuk di parlabian&lt;br /&gt;  sai dao ma na sa mara, jala sai ro ma parsaulian '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SITOLUNTUHO/SITOLUTUHO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keistimewaan dari ulos ini, terlihat jelas dalam motif gorganya terdapat tolu = tiga tuho = bidang arsiran. Tak salah lagi ini pasti menggambarkan Dalihan Na Tolu ( baca souvenir sebelumnya ' Paratur ni Parhundulon ' ). Jadi jelaslah tujuan ulos ini diberikan. Setelah wejangan Dalihan Na Tolu diberikan, kita jangan lupa manghatahon = mengucapkan ' sitolu saihot ', yakni :&lt;br /&gt;1. Pasupasu asa sai masihaholongan jala rap saur matua :&lt;br /&gt; ' Sidangka ni arirang na so tupa sirang, &lt;br /&gt;   di ginjang ia arirang, di toru ia panggongonan...&lt;br /&gt;   badan mu na ma na so ra sirang, tondi mu sai masigomgoman '&lt;br /&gt;2. Pasupasu hagabeon :&lt;br /&gt; ' Bintang na rumiris ombun na sumorop&lt;br /&gt;   anak pe di hamu riris, boru pe antong torop '&lt;br /&gt;3. Pasupasu pansamotan :&lt;br /&gt; ' Bona ni aek puli, di dolok Sitapongan, &lt;br /&gt;   sai ro ma tu hamu angka na uli, songon i nang pansamotan '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOLEAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos ini diberikan kepada anak yang kehilangan orangtua nya. Bolean = membelaibelai, dimaksudkan untuk mangapuli = membelai hati si anak agar selalu tabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIBOLANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut juga sibulang dan diberikan kepada orang sibulang = orang yang dihormati karena jasanya. Misalkan ulubalang yang mengalahkan musuh, atau yang bisa membinasakan binatang pemangsa yang mengganggu.&lt;br /&gt;Jaman sekarang, ulos ini diberikan kepada amang ni hela dan ulos ini disebut sebagai ulos pansamot na sumintahon supaya amang ni hela tadi bisa menjadi tempat bersandar dan berlindung, na gogo mansamot jala parpomparan sibulangbulangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Marasar sihosari di tombak ni panggulangan&lt;br /&gt;  sai halak na gogoma hamu mansari jala parpomparan sibulangbulangan '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos sibolang juga sering dipakai untuk menghadiri upacara kematian. Sekaligus ulos ini dililitkan di kepala dari namabalu = isteri/suami yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAGIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sulit dan lelahnya membuat ulos ini, karena motifnya sungguh rumit. Dan memang inilah ulos paling tinggi derajatnya dalam adat kita Batak. Kalau kita cermati rupa gorga dalam ulos ini, seolah-olah semuanya hidup dan bernyawa. Itu sebabnya dinamakan Ragidup ( aragi = hidup ). Inilah ulos simbol kehidupan. Umumnya orang Batak ingin hidup dalam waktu yang lama dan jarang/tidak pernah ada orang Batak yang saya dengar bunuh diri. Orang Batak tak takut hidup dalam kemiskinan yang mendera untuk terus berjuang demi hidup. Kita adalah survivors. itu sebabnya ada umpasa seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Agia pe lapalapa asal di toru ni sobuan&lt;br /&gt;  agia pe malapalap asal ma di hangoluan,&lt;br /&gt;  ai sai na boi do partalaga gabe parjujuon '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian dari ulos ragidup, namanya dan artinya :&lt;br /&gt;- Ada dua sisi tepi sebagai batas, yang menjelaskan kalau semua yang ada di dunia ini ada    batasnya.&lt;br /&gt;- Dua sisi tadi mengapit tiga bagian dan disebut ' badan '. Bagian paling ujung dimana   bentuknya kelihatan sama disebut ' ingananni pinarhalak '. Ingananni pinarhalak terbagi   dua lagi , yakni ingananni pinarhalak baoa dan ingananni pinarhalak boruboru.&lt;br /&gt;  bagian ' badan ' tadi warnanya merah kehitaman dan ditingkahi garis-garis putih yang   disebut ' honda '. Ingananni pinarhalak tadi adalah simbol hagabeon, maranak dan   marboru. Masih terdapat tiga simbol lagi di sana, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Antinganting, adalah simbol hamoraon, karena antinganting biasanya terbuat dari emas.&lt;br /&gt;2. Sigumang = beruang, yakni simbol kemakmuran. Beruang adalah binatang yang bekerja tepat    dan efisien, tidak banyak aksi.&lt;br /&gt;3. Batu ni ansimun, melambangkan hahipason ( ansimun sipalambok, taoar sipangalumi ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di celah ketiga simbol ini, ada lagi macam bunga yang disebut 'ipon', dan di celah iponipon tadi ada yang disebut dengan 'rasianna'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mangarasi = memeriksa Ragidup yang baik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ulos itu kelihatan jernih&lt;br /&gt;2. Tenunannya rapi dan ukurannya benar ( Martha Ulos mungkin tahu, atau Belanda ? )&lt;br /&gt;3. Honda harus berjumlah ganjil.&lt;br /&gt;4. Jumlah ipon harus benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : dibuat baju, sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAGIDUP SILINGGOM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan ulos ini dengan Ragidup biasa adalah bagian ' badan '. Ulos ini punya badan yang kelihatan lebih linggom = gelap. Ulos inilah yang paling tepat diberikan kepada anak yang punya pangkat dan punya kuasa, dengan maksud, kita bisa marlinggom = berlindung di bawah kebijaksanaannya. Ini bisa juga kita berikan kepada petinggi yang mendatangi kampung kita.&lt;br /&gt;Ragidup Silinggom tidak diperjual belikan. Tapi entahlah ada pihak tertentu yang melakukannya. Sebenarnya, ulos jenis ini hanya akan ditenun bila ada pemesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memakainya : sinampesampehon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINUSSAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih termasuk Ragidup. Cara memakainya pun sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURISURI/TOGUTOGU/LOBULOBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ulos yang eksentrik. Rambu-rambunya tidak dipotong hingga kedua ujungnya bersatu sebagaimana layaknya kain sarung. Dan hanya wanita lah yang memakai ulos ini. Dimaksudkan, agar mereka kelihatan sopan karena ini pakaian rumahan. Jenis ini juga paling banyak dijadikan parompa.&lt;br /&gt;Dinamakan lobulobu supaya segala kebaikan marlobu = masuk ke rumah orang yang memakainya. &lt;br /&gt;Apabila ada boruboru yang menggendong ibotonya = adik laki-laki yang kecil, dia akan bersenandung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga&lt;br /&gt;  tibu ma ho ito dolidoli, jala mambahen si las ni roha '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dia menggendong adik perempuannya, dia akan bersenandung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;' Ulos lobulobu marrambu ho ditongatonga&lt;br /&gt;  sinok ma modom ho anggi, suman tu boru ni namora '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari Djambar Hata - oleh Ompu ni Marhulalan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109722208955095873?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722208955095873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722208955095873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109722208955095873' title='Filsafat Mangulosi dan Jenis-Jenis Ulos'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109722183231104592</id><published>2004-10-08T14:50:00.000+07:00</published><updated>2004-10-08T15:14:37.010+07:00</updated><title type='text'>AMPARA</title><content type='html'>&lt;i&gt;posting oleh : St. KE. Sianipar pada tanggal : 24 Juli 2002&lt;/i&gt; di mailing list : &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Gen_B/"&gt;GenB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan Ampara (baca appara) biasanya ditujukan kepada dongan tubu atau dongan sabutuha, secara khusus antara lelaki dengan lelaki. Kami na mardongan tubu Tuandibangarna ( Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar). Melihat uurutan ini, Sianipar adalah adik ketiga marga diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika ada Panjaitan sebut saja ampara Donal ( haha partubu) mengetahui  usia saya lebih tua dari dia, maka dia panggil bapa uda walaupun sebenarnya saya anggi partubu. Meski dia panggil saya bapa uda, tetapi saya tidak elegant panggil dia anak, karena Donal keturunan haha partubu/abang , lihat urutan marga kami tadi. Jadi agar lebih dekat dan tidak merasa bersalah, saya panggil dia ampara. Tetapi, kalau ketemu pada acara paradaton( pernikahan, kematian dll) , saya tidak boleh panggil Donal ampara, harus haha/abang, walaupun usianya jauh dibawah saya misalnya, karena dia sudah berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi na mardongan sabutuha/marga yang sama (SIANIPAR dengan Sianipar atau Tampubolon dengan Tampubolon) belum mengetahui nomor, boleh juga panggil ampara. Tetapi kalau salah satu pihak telah mengetahui nomor/silsilahnya, tidak boleh panggil ampara KECUALI nomor dalam tarombo/silsilahnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mis, Kalau ada marga Sianipar dimilis ini bernomor XV maka kamipun dapat saling menyapa AMPARA. Biasanya, kalau ketemu dengan nomor silsilah yang sama, akan dilanjutkan dengan pertanyaan, NUNGGA MARHASOHOTON/sudah nikah.? ATAU BERAPA USIANYA.?. Hal ini untuk mengambil posisi panggilan. Kalau salah satu usianya lebih tua, maka yang muda panggil abang, tidak boleh bapa uda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan Tampubolon, Silaen dan Baringbing. Ketiga kakak beradik ini dapat memanggil ampara satu sama lain, kecuali masing-masing sudah mengetahui usia, boleh juga memanggil bapa uda , bapa tua. Ampara ini juga kerap dipakai oleh marga yang marpadan. Misalnya marga Panjaitan marpadan dengan Sibuea atau Tampubolon dengan Sitompul. KENAPA, kalau sudah marpadan dianggap marhaha anggi/akak adik. Itu sebabnya marga yang marpadan tidak boleh masibuatan ( kawin mengawin).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109722183231104592?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722183231104592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109722183231104592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_10_01_archive.html#109722183231104592' title='AMPARA'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109626346048093562</id><published>2004-09-27T13:37:00.000+07:00</published><updated>2004-09-28T08:41:06.276+07:00</updated><title type='text'>Sitor Situmorang</title><content type='html'>&lt;i&gt;Sebgaimana dimuat dalam Kolom &lt;b&gt;Lebih Jauh Dengan&lt;/b&gt; di &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/26/naper/1289376.htm"&gt;Kompas Minggu&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG mudah keliru menilai Sitor Situmorang. Logat Batak Toba-nya yang kental membuat sastrawan Angkatan ’45 kelahiran Desa Harianboho, 2 Oktober 1924, ini berkesan galak dan saklijk, tak ada kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan kalau dikatakan, Sitor Situmorang adalah lelaki tua yang periang. Ia jarang mengeluh perihal kemampuan fisiknya. Pada usia 80 tahun seperti sekarang ini, dengan mudah ia lewati lantai berundak yang terdapat di depan kamar tidurnya, tanpa bantuan tongkat sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, beginilah saya cukup berbahagia kalau ada orang yang sewaktu bertemu tiba-tiba memberi salam dengan membaca puisi saya. Dulu Arifin C Noor atau Rendra kalau ketemu selalu begini:/&lt;i&gt;/...Lewat Tarutung dan Siantar/ ada dua jalan batu/ menuju kau// Aku tahu....&lt;/i&gt; Nah kalau begitu, saya pasti tahu itu mereka," tutur Sitor, Kamis (23/9) siang di galeri milik Toety Heraty, di mana ia tinggal selama di Jakarta. Kutipan puisi itu berasal dari karyanya, Jalan Batu ke Danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini pun masih ada sahabat yang menyapanya dengan puisi. Sitor tiba-tiba berdiri dan membacakan penggalan puisinya: &lt;i&gt;//...(di hutan kundalini/ di sumber air amerta/ di lembah dalam dan sepi/ hatiku bercermin sorga)//&lt;/i&gt; "Nah, itu selalu menjadi salam penyair dari Madura bernama Zawawi kalau bertemu dengan saya. Judulnya, Mendaki Puncak Merapi," cerita Sitor begitu ekspresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitor Situmorang ibarat gambaran utuh sejarah perjalanan kesusastraan dan politik di negeri ini. Ia telah menjadi pemimpin redaksi sebuah harian yang terbit di Sibolga, harian Suara Nasional, pada tahun 1943. Padahal, ketika itu ia belum pernah menjadi wartawan. Kemudian ia bergabung dengan kantor berita Antara di Siantar serta tahun 1947 menjadi koresponden harian Waspada Medan di Yogyakarta atas permintaan Menteri Penerangan Muhammad Natsir. Di Yogyakarta-lah ia berkenalan dengan "bapak-bapak Republik"-ini istilah Sitor sendiri-seperti Bung Karno, Hatta, serta para pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wartawan muda yang baru berusia 23 tahun dan meliput Konferensi Federal di Bandung tahun 1947 dengan tuksedo pinjaman dari Rosihan Anwar, nama Sitor Situmorang tiba-tiba dikutip berbagai media dari seluruh dunia. "Itu karena saya interview dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal ciptaan Belanda yang menjadi ajudan Ratu Belanda. Saya tanya, ’bagaimana pendapatnya tentang negara Indonesia’, dia jawab, ’oh terang Republik itu ada, dan tidak bisa dianggap tidak ada’. Esok harinya itu jadi headline dan semua kantor berita asing mengutipnya, karena konferensi belum mulai sudah ada gong begitu," kata Sitor berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja berserakan poster, kertas-kertas undangan, serta beberapa coretan yang belum sempat dirapikan tuan rumah. Rupanya Sitor Situmorang tengah mempersiapkan peringatan ulang tahun ke-80 dengan memamerkan puluhan kumpulan puisi serta dokumentasi-dokumentasi seputar keterlibatannya di dalam peta sastra dan politik di Tanah Air, tanggal 2 Oktober 2004 nanti di Taman Ismail Marzuki (TIM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang di tepi kolam kecil dengan air mancur serta ikan-ikan yang girang. Siang yang berat di jalanan terasa ringan ketika melihat Sitor begitu riang, penuh energi dan imajinasi. Kata-katanya yang lugas sesekali diekspresikan dengan cara memeragakan kandungan omongan yang ingin ia ungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa yang terasa istimewa pada saat-saat memasuki usia 80 tahun seperti sekarang ini dan Anda masih tampak sehat, tetap berapi-api seperti tak kenal kata menyerah?&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Seperti lazim di kita, kalau sudah menjelang 70 tahun biasanya ada upacara-upacara tertentu yang harus dilaksanakan untuk menghormati (adat dan budaya kita). Saya sudah jalan 80 tahun. Dalam adat Batak, karena sudah bercucu, mestinya sudah ada pesta besar untuk merenungkan bahwa hidup itu bersinambung. Jadi, biar lebih ikhlas. (Mungkin) kalau di desa itu nasi tumpeng, di kota bisa pakai (kue) tart... ha-ha-ha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa maksudnya dengan kata ikhlas itu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kedudukan pribadi saya ini ya sebagai sastrawan saja. Kalau masih ada kepala suku, saya ini kepala suku, tapi absen karena tidak tinggal di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bagaimana dengan hal-hal yang bersangkut dengan penciptaan. Apa masih seperti tahun-tahun 50-an, di mana puisi-puisi deras mengalir ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti tanggal 27 (maksudnya 27 September 2004-Red) akan keluar karya-karya saya yang belum dikenal orang. Artinya, itu yang terbaru atau bisa juga yang lama tapi belum dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebenarnya bagaimana Anda memandang dunia kepenyairan? Anda kan menulis puisi sudah lebih dari setengah abad ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada pada kesimpulan saya yang diucapkan pada tahun 1978 di TIM. Semua orang hidup dalam puisi. Jadi, unsur budaya itu salah satu puisi. Puisi ini menyangkut tulisan, bahasa, atau dibacakan. Tapi, sebelum ada tulisan, puisi sudah ada. Itu yang saya bilang, manusia ada di bumi ini lepas dari tafsiran teologis, sudah terus mulai dari Adam dan Eva. Puisi yang dilahirkan dari Adam dan Eva sampai sekarang di lingkungan budaya mana pun, saya alami sebagai pengungkapan dunia kerohanian lewat bahasa. Tapi, bisa juga lewat seni patung atau apa... tapi penyair, artinya kalau ada sajak, ini sajak mana (Tiba-tiba Sitor menanyakan kopian sajak yang kami geletakkan di meja. Ia memerhatikan sejenak... karena konsentrasinya kepada kertas itu, omongannya jadi agak kacau....) Jadi, kalau ada orang sekarang, tapi juga Adam dan Eva mendengar, suatu nyanyian, bisa di desa atau di kota, bisa menangkap apa yang diungkapkan dalam puisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, puisi bukan sekadar susunan kata-kata dan kalimat. Jadi, misalnya, puisi itu kan seperti ada cerita, seperti laporan pengalaman, tetapi dirasakan pembaca, bukan ceritanya yang hebat, tetapi di balik cerita itu seperti ada cerita kias. Ia menceritakan sesuatu yang tidak bisa ditangkap secara prosais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Maksud Anda bisa lebih jelas ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu yang ditangkap pembaca, ide yang menggugah kebatinan manusia. Tanpa bicara tentang batin manusia, membaca puisi adalah sesuatu yang mengaktuilkan penghayatan adanya batin. Dunia batin. Begitu puisi sudah dilupakan, ini dogma saya, tapi manusia lewat kebudayaannya akan tetap melahirkan puisi. Karena itu bagian mutlak dari dunia kebatinan. Ini kesimpulan saya. Katakanlah itu pembenaran saya. Saya sudah lebih dari setengah abad menulis puisi, ditanya uang pensiun sepeser pun saya tidak punya... ha-ha-ha.... Saya hidup sekarang dari istri, mata pencaharian istri saya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa yang membuat Anda bertahan sampai sekarang menjadi pengabdi puisi ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang bernama Sitor itu hanya wadah, dengan kata-kata lain, wadah mewadahi dunia batin. Orang yang tidak mampu menghayati dunia batin, tidak perlu puisi, buang saja semua itu. Puisi tidak ada yang habis. Kalau secara sejarah yang namanya manusia, tidak mungkin tidak ada yang namanya puisi, tapi detik-detik tertentu bisa tidak ada puisi itu... ha-ha-ha. Tapi, kalau sampai ia bilang tidak ada puisi, artinya ada yang tidak beres. Di situ ada relasi antara pembaca dan penyair dengan peranan bahasa. Tidak ada puisi tanpa bahasa. Tapi, bahasa mana pun tidak mampu mengungkapkan kekayaan batin. Begitu berhenti karena tidak ada penyair, bahasa itu tidak akan berkembang. Di situ tempatnya seorang penyair seperti Sitor. Hanya ingat puisi hidup karena ada pembaca, kalau tidak ada pembaca tidak juga ada puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa yang Anda dapatkan dari kehidupan berpuisi itu ? Karena, setahu kami sepulang dari Eropa tahun 50-an awal, Anda justru berhenti jadi wartawan dan memutuskan jadi penyair.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti sosial ada. Saya paling senang ketemu orang di luar acara sastra. Terus oh tahu, terus keluar kata-kata puisi (berdiri seperti mau baca puisi). Oh itu kepuasan luar biasa. Itu lebih hebat dari telaah-telaah para ahli. Maksudnya begini, telaah sastra bagian dari kepentingan kebudayaan, tapi bagi saya sekali lagi, kemarin ada Cakrawala Sastra Indonesia di TIM, di antara puluhan sastrawan muda itu selalu ada kata, //Bulan di atas kuburan//. (Sitor membaca puisinya berjudul Malam Lebaran yang ditulis tahun 1955, tetapi sampai kini terus-menerus jadi perbincangan). Wah, itu saya sudah senang sekali....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi pelukis yang merespons puisi saya, Mawar, yang hanya terdiri dari delapan kata. Dan, itu dipamerkan beberapa waktu lalu di Magelang. Kebetulan saya datang, begini:&lt;i&gt;//Mawar jingga/ Mawar semesta/ Mawar nestapa/ Ciuman buta//&lt;/i&gt;. Ia tulis dan lukis di kanvasnya bunga mawar hitam. (Kata-kata itu diungkapkan Sitor dengan nada penuh kekaguman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitor mengatakan, peristiwa-peristiwa seperti inilah yang terus-menerus menghidupkan energi kreatif di dalam dirinya. Secara tidak langsung energi kreatif itu terus membangkitkan daya hidupnya sehingga tidak menyerah pada gerusan usia. Penyair yang pernah tinggal di Belanda, Perancis, dan Pakistan ini menulis puisi pertama kali tahun 1943 berjudul Kaliurang. Puisi itu dimuat di majalah Siasat pimpinan HB Jassin. Tetapi, kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1953 sepulang dari Eropa ketika ia secara kebetulan bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang waktu itu memiliki penerbit Pustaka Rakjat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di situlah terbit Surat Kertas Hijau. Buat saya diterbitkan oleh Pustaka Rakjat itu sangat bersejarah. Mau beda paham dengan STA tak masalah...," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda sudah hidup di luar negeri lebih dari setengah abad, apa arti kampung halaman dalam karya-karya Anda ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung halaman dalam proses kreatif begini: kampung halaman buat budaya Indonesia adalah desa dalam pengertian primordial. Kampung halaman saya satu, Harianboho. Tetapi, desa saya ada dua, yaitu Harianboho dan Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa penjelasannya ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ tersisa penghayatan kehidupan secara utuh. Tentu saja ada berbagai macam kondisi Paris. Pengalaman sebagai manusia modern ada di Paris, tapi sebagai manusia purba dalam arti positif ada di Harianboho. Ini satu kosmos. Kalau saya hidup di Jakarta ini terpecah-pecah... he-he-he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNIKAHANNYA dengan Tiominar (almarhum) dikaruniai enam anak: Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan Rianti yang semuanya kini tinggal di Jakarta. Sitor kemudian menikah lagi dengan seorang diplomat bernama Barbara Brouwer dan dikaruniai seorang putra bernama Leonard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya di kancah politik diwarnai oleh hal-hal yang menyakitkan. Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan PNI periode 1959-1965 ini, pernah dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Baru di bawah Soeharto. Ia harus mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun (1967-1975) tanpa pernah diadili, dan karena itu ia tidak tahu apa kesalahannya. "Mungkin karena saya anti-Soeharto saja," ketusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hidup di penjara, Sitor tak diperkenankan membawa pulpen atau kertas. "Jangankan menulis, bawa pulpen dan kertas saja dilarang. Masih untung ada sastrawan kita yang diberi mesin ketik," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian dibebaskan, Sitor lagi-lagi harus menjalani tahanan rumah selama dua tahun. Kemudian tahun 1981 ia diangkat sebagai dosen di Universitas Leiden, Belanda, dan pensiun pada tahun 1991. Praktis selama itu ia hidup di luar negeri, terutama di Kota Paris yang ia sebut sebagai desa keduanya setelah Harianboho yang terletak di tepi Danua Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian kembali ke Indonesia karena mengikuti Barbara yang kebetulan mendapat tugas di Jakarta sejak tahun 2001. Sejak bermukim di luar negeri sampai kembali ke Indonesia, pengamatannya tak pernah lekang dari situasi politik di Tanah Air. Sitor adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang secara sadar mengatakan turut serta berpolitik. Ia pernah menjadi anggota MPRS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa pendapat Anda tentang kondisi perpolitikan di Tanah Air sekarang ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bicara tahun 2004, saya amati kita punya cendekiawan, intelegensia kelas menengah sama sekali tak tahu urusan politik, baik yang duduk di partai maupun birokrasi. Dan, itu akibat dari hilangnya pengetahuan sejarah bangsa di kalangan mereka. Dalam pengalaman dan studi politik saya, setiap sistem demokrasi, sosialis, komunis, kapitalis ataupun feodal seperti kerajaan dahulu, (terlihat) setiap abad memiliki kecenderungan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana keberhasilan rezim Soeharto karena dukungan kelas menengah, dan kelas itu pula yang menjatuhkannya, semua bertolak punggung secara kerohanian. Semua demi aji mumpung, oportunis.... Dulu masih ada idealisme. Ada kejelekan memang, tetapi masih hidup suatu inti kelas menengah yang bukan karena mau naik pangkat, tapi masih punya integritas, bisa mengatakan saya tidak mau jual diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda konon sangat marah kalau ada yang menyebut Orde Lama. Kenapa ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan asal sebut Orde Lama. (Nada bicaranya meninggi). Orang-orang pintar pun bilangnya Orde Lama. Pertama-tama kalau kita mau berpikir jernih, harus bersihkan dulu istilah-istilah kita. Misalnya, Orde Baru itu apa, kediktatoran atau apa, mari kita bicarakan sampai ke tingkat universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orde Baru, kata Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan Negara, adalah suatu ideologi neofasis, berhasil menciptakan kediktatoran di bawah Soeharto. Tapi, tidak ada kelompok mana pun yang menjawab itu di depan umum. Jadi, yang diadili dan tertuduh dalam buku itu adalah kelas menengah yang tadinya semua menyalahkan apa yang terdapat dalam Orde Lama. Orde Lama itu identik dengan Soekarno, Soekarno identik dengan PKI, ini pemikiran kelas apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orde Baru yang memegang kekuasaan 32 tahun telah menafikan sejarah nasional. Dengan istilah Orde Lama, sejarah nasional tidak ada, Soekarno tidak ada, Natsir tidak ada itu. Jadi, semua seolah mulai dari nol, dari mitos Orde Baru, yang lain buang semua, (terjadi) depolitisasi, de-soekarnoisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sekarang ada generasi 2000 yang tidak tahu sejarah, karena itu tadi sejarah digelapkan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitor merasa cukup heran mengapa sampai kini tidak ada yang berusaha menjawab apa yang diungkapkan di dalam buku Daniel Dhakidae. "Semua yang menjadi tertuduh dalam buku ini sampai sekarang tidak ada yang merasa perlu menjawab tuduhan jaksa sejarah. Ini tafsir saya, yang dituduh dalam buku itu adalah kelas menengah terpelajar Indonesia yang memperlihatkan kecenderungan sekadar mengabdi, menguntungkan dirinya, dan tanpa idealisme," kata Sitor Situmorang sembari berdiri untuk meyakinkan lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa sih pandangan Anda sendiri tentang Orde Baru dari sudut budaya ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi budaya, perkataan Orde Baru itu istilah ideologi fasis. (Itu) ada di Italia dan Jerman. Dalam bahasa Jerman... (berkata dalam bahasa Jerman). Dan biasanya dikaitkan dengan manusia baru, itu istilah utopis. Jadi, kalau yang utopis sudah mengandung potensi kebohongan. Dia sudah seperti diutus dewo, jadi jenis manusia yang luar biasa. Dan kelompoknya, kelompok luar biasa, tidak bisa bikin salah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tampaknya Anda marah sekali, apa karena pernah dihukum tanpa diadili oleh rezim Soeharto itu ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak, itu terlalu subyektif. Memang saya mengerti mengapa ditangkap Soeharto dari segi politik. Ya, ya saya memang antidiktator.... Nyatanya ratusan ribu orang ditahan bertahun-tahun tidak pernah dimajukan... kamu berbuat kesalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....Soekarno mati sebagai orang sakit-sakitan dalam tahanan Soeharto. Tidak ada orang Indonesia yang mempertanyakan itu, (mungkin) lebih baik dilupakan. Itu oportunisme kita. Manusia yang namanya Soekarno, proklamator, mati dalam tahanan, tapi tidak ada yang pernah nuntut.... Maaf, apa itu, mikul duwur mendem jero. Ini penerapan suatu kearifan leluhur kita untuk memaafkan suatu kejahatan. Tidak bisa itu. Bukan begitu maksud leluhur kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ke depan, bagaimana Anda melihat bangsa ini. Apa masih tersisa rasa optimis ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimis begini, dalam arti apa pun yang dilakukan Orde Baru untuk mengkhianati, modal utama kita adalah masyarakat madani. Masyarakat madani kita terus hidup, cuma tergencet dari urusan-urusan publik, masih terdesak-desak. Ambillah misalnya kelompok Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LSM-LSM, wilayah desa-desa kita, andaikata di sini (negara) bubar, di desa tidak akan bubar. Selama masih ada Muhammadiyah, NU, dan gereja-geraja yang sadar akan tugas kebangsaannya.... Jadi, kekuatan kita bukan hanya idealisme, tetapi kearifan leluhur kita yang masih menyisakan kerukunan masyarakat madani dalam segala keterpurukan material. Ini modal....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara :&lt;br /&gt;KENEDI NURHAN&lt;br /&gt;PUTU FAJAR ARCANA&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109626346048093562?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109626346048093562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109626346048093562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_09_01_archive.html#109626346048093562' title='Sitor Situmorang'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-109626313136636476</id><published>2004-09-27T13:32:00.000+07:00</published><updated>2004-09-28T08:50:16.516+07:00</updated><title type='text'>Pantur Silaban</title><content type='html'>Sebagaimana dimuat dalam Kolom &lt;b&gt;Lebih Jauh Dengan&lt;/b&gt; di &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/19/naper/1276450.htm"&gt;Kompas Minggu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PALING tidak ada empat hal yang berhenti dalam gerak waktu pada diri fisikawan ini: guyonnya yang autentik dan terus mengalir, asap rokoknya yang laten mengepul, butir kapur tulis yang terkelupas oleh papan tempat ia menoreh tanda matematik saban menjelaskan fisika, serta kemeja lengan panjang dan pantalon berukuran pas di tubuhnya yang tak kunjung kusut sepanjang hari. Begitulah Pantur Silaban 25 tahun silam, juga hari-hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terus bergerak adalah usahanya mengenali dan menjelaskan fenomena, sejarah, dan masa depan alam dari tingkat renik sampai jagat raya. Baik untuk disampaikan kepada mahasiswanya maupun sejawatnya pada seminar nasional, simposium internasional seperti tahun-tahun lalu di lingkungan fisikawan teori antarbangsa di Trieste-Italia, Melbourne, dan New York. Doktor fisika Universitas Syracuse, Amerika Serikat (1971) dengan disertasi Null Tetrad Formulation of the Equation of Motion in General Relativity ini mengikuti perkembangan fisika teori dari era Newton, Maxwell, Einstein, sampai Penrose terentang 350 tahun dan sekarang, "Sedang mencari perusakan simetri apa yang bertanggung jawab menciptakan muatan listrik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisikawan pertama Indonesia dalam Relativitas Umum ini tergolong langka di bidangnya, juga di kawasan Asia Tenggara. Guru besar fisika teori ITB per Januari 1995, kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 ini pensiun akhir 2002. Namun, Ketua Departemen Fisika ITB Dr Pepen Arifin mempertahankan Silaban mengajar sampai kapan pun di sana. Ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB Dr Freddy P Zen mempertegas, "Kalau jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan keluarga ia menebang folklor, "Rebung tak jauh dari rumpun." Ayahnya Israel Silaban dan ibunya Regina br Lumbantoruan adalah pedagang buta huruf, tapi Pantur terdidik sampai PhD lalu profesor di lembaga pendidikan terkemuka: ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat putrinya, buah perkawinan dengan Rugun br Lumbantoruan, sarjana dari perguruan tinggi negeri. Anna lulusan Ekonomi Universitas Padjadjaran; Ruth dokter spesialis saraf Universitas Padjadjaran; Sarah lulusan Teknik Sipil ITB dan magister Universitas Teknologi Chalmers, Swedia; dan Mary si bungsu sarjana geologi ITB. Tinggal Mary yang belum berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama putrinya berbau Semit, demikian pula ketiga cucunya: Joshua Bala, Jeremy Binsar Gultom, dan Joseph Gultom. "Saya memang terkesan dengan etos kerja Yahudi," katanya. "Anda tahu Syracuse itu universitas orang Yahudi. Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di sini. Kalau bukan Yahudi, ya pasti orang pintar. You tahu saya bukan Yahudi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joshua untuk cucunya dari nama depan promotor utamanya, Joshua N Godlberg, yang sampai hari ini berhubungan baik dengan keluarganya. "Tahun depan saya ke New York sebab Goldberg 80 tahun," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 30 Agustus lalu Rektor ITB Dr Kusmayanto Kadiman mendaulat Silaban menyampaikan kuliah populer terbuka untuk umum, Umur Alam Semesta, yang dihadiri 300 pengunjung dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebelumnya Anda bilang tak menyinggung Tuhan dalam ceramah itu? Mengapa?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan teologis selalu muncul ketika ditanyakan apa yang terjadi antara permulaan waktu dan Dentuman Besar yang hanya 10&lt;sup&gt;-43&lt;/sup&gt;detik itu. Ada dua pendapat. Yang pertama mengatakan saat itu sudah berlaku hukum-hukum fisika, yang lain mengatakan tidak berlaku. Stephen Hawking, yang kita akui pemikir besar, mengatakan dalam durasi pendek itu Tuhan bersembunyi. Tugas fisikawan mencari persembunyian Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada pendapat yang mengatakan Semesta terbentuk kebetulan saja. Tak ada penciptanya. Saya hanya mau mengatakan selera saya berbeda dengan Hawking. Dia sering menyerempet ke ihwal yang doesn&amp;rsquo;t make sense. Bagi saya, fisika bukan ilmu ketuhahan walau ada yang mengatakan teologi itu cabang fisika. Memang ada tiga pendapat tentang ini. Yang pertama: teologi dan fisika adalah dua hal berbeda. Yang kedua: teologi dan fisika adalah dua cabang dari satu pengetahuan yang nanti menuju kesimpulan sama. Yang ketiga: kedua ilmu itu bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika baca buku Menapak Jalan-Jalan Tuhan, saya jadi kacau dalam segala bidang, termasuk iman. I just want to be myself, I don&amp;rsquo;t want to be a slave of Hawking, Penrose or Einstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Selain mengenai Tuhan, apa yang sering ditanyakan kepada Anda sebagai fisikawan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mempermasalahkan apakah teori Einstein benar atau salah. Saya selalu menjawab sebagai orang yang puluhan tahun bekerja dalam Relativitas Umum, saya tidak pernah mengatakan apakah teori Einstein benar atau salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mau terulang kejadian pada Simposium XI Fisika Nasional di Yogyakarta dulu. Waktu itu fisikawan kita, Prof Achmad Baiquni, masih hidup. Rupanya ada orang yang mengklaim teori Einstein salah. Terus Baiquni minta saya, "Tolong kamu bantah." Saya jawab, "Soal salah-benar teori Einstein, saya tidak tahu. Cuma, kalau ditanyakan teori Einstein itu seperti apa, saya akan coba jelaskan. Yang penting kita jangan menyelewengkan ide-ide Einstein."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, mari kita baca tulisan Einstein dalam The Meaning of Relativity, buku yang ditulis Einstein sendiri, bukan orang lain tentang teori itu. Jawab orang itu, saya tidak mau baca karena dalam bahasa Inggris, bahasa orang kafir. Ini susah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Einstein sering salah dikutip?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya begitu. Ada yang bilang, kesalahan Einstein terletak pada pernyataan: tak ada yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Saya bilang tunggu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua teori dibangun entah oleh prinsip, aksioma, dalil, atau apa saja namanya. Prinsip Relativitas Khusus: semua sistem inersia ekivalen satu sama lain. Artinya, kalau kita punya dua sistem inersia maka yang terjadi di sistem satu dapat terjadi juga di sistem dua. Tegasnya, kalau di sini bisa terjadi pembunuhan, di sana bisa juga terjadi pembunuhan. Segala fenomena fisika yang terjadi di sini bisa juga terjadi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kedua: laju cahaya dalam vakum konstan, tidak bergantung pada pengamat, tidak bergantung pada sumber. Apakah sumbernya loncat-loncat atau pengamatnya menari, laju cahaya konstan. Sepanjang yang saya tahu, Einstein tak pernah mengatakan "dengan catatan bahwa laju cahaya tak bisa dilampaui apa pun". Itu sebabnya ketika fisikawan Sudarshan mengatakan partikel tachyon bergerak melebihi laju cahaya, ia tidak melanggar prinsip Relativitas Khusus. Sifat inheren cahaya yang seperti ini merupakan revolusi pemikiran penting dalam fisika yang dikemukakan Einstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda mengupayakan ungkapan Indonesia untuk menjelaskan gravitasi: kalau sudah milik tak akan ke mana?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lama merenungkan itu. Di alam kita kenal empat macam interaksi: gravitasi, elektromagnetik, kuat, dan lemah. Gravitasi adalah fenomena paling lama dikenal orang, tapi sekarang pun masih misteri. Teori gravitasi pertama berasal dari pandangan Yunani kuno yang mengatakan sebuah benda jatuh ke Bumi karena ia milik Bumi. Mirip dengan ungkapan yang kita kenal: kalau sudah milik tak akan ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mau mengatakan teori Yunani kuno salah. Kemarin saya bilang kepada Dr Freddy, ada kemungkinan teori itu betul. Buktinya: beberapa waktu lalu ponsel saya tertinggal entah di mana. Saya anggap hilang. Orang yang menghubungi saya mengatakan ponsel itu tak pernah diangkat lagi. Saya coba rekonstruksi beberapa kemungkinan di mana saya berada ketika ponsel tertinggal. Di rumah tak ada sebab kalau tak menemukannya, saya coba hubungi dengan telepon rumah untuk mengetahui di mana benda itu sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai menelusuri harga ponsel baru. Punya saya itu murah. Hanya Rp 480.000. Saya pergi ke Jakarta dan ketemu teman, rupanya ponsel itu tinggal di tempatnya. Dia temukan di bawah buku. Saya pikir kalau sudah milik tak akan ke mana ada benarnya. Kok jauh begitu, masih ketemu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jadi mengenai teori, urusannya bukan benar salah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bertanya kepada saya, "Bagaimana Bapak mempelajari sesuatu yang tak Bapak yakini benar?" Saya balik bertanya, "Anda yakin yang Anda pelajari itu semua benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita anggap benar sekarang belum tentu benar 100 tahun mendatang. Sering kita menganggap sesuatu benar karena diungkapkan seorang terhormat, terpandang. Menurut saya, seterhormat apa pun seseorang, banyak yang tak ia ketahui tapi diketahui orang yang sama sekali tak berpendidikan. Saya mau merombak tradisi panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates mengklaim kaki laba-laba enam dan bertahan seribuan tahun. Karena Socrates yang ngomong, sudah jaminan mutu. Begitu toh? Setelah sekian lama seorang ahli biologi-kalau tak salah Lamarck-menghitung. Kaki laba-laba ternyata delapan. Dulu apa saja yang dikatakan Soeharto jaminan mutu, tapi sekarang? Kenapa orang cenderung menghukum Galileo? Karena orang banyak lebih percaya kepada tokoh gereja Katolik waktu itu, yang dengan kebesaran agama mengklaim diri sumber kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda sering bilang kita perlu belajar dari alam menjalani hidup. Apa contohnya?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak. Salah satu, teori atom Bohr yang mengajari kita bahwa alam antikorupsi. Model Bohr begini. Atom terdiri dari inti di pusat dan elektron yang mengitari inti. Orbit kitaran itu dinamakan kulit: pertama, kedua, dan seterusnya. Energi di kulit ke-n dinyatakan dengan E&gt;sav&lt;&gt;dnres&lt; = -13,60eV/n&gt;sav&lt;&gt;up&lt;2&gt;res&lt;. Jadi, energi di kulit pertama -13,60eV, kedua -3,40eV, ketiga -1,51eV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditembak dengan sinar berenergi 10,20eV, elektron itu baru mau pindah dari kulit kedua ke kulit pertama. Dia akan naik ke sini karena dibutuhkan persis 10,20eV, yakni selisih 13,60eV dengan 3,40eV, untuk pindah orbit. Semacam promosi jabatan untuk para birokrat. Tak boleh kurang tak boleh lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau energi diberi 11eV? Elektron akan bilang saya hanya butuh 10,20eV. Yang 0,80eV buang saja. Bagaimana kalau kamu kantongi dulu menunggu tambahan? Dia tidak akan mau. Jadi, alam mengatakan jangan pakai melebihi apa yang kau butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa masalah besar bangsa kita?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu, kualitas kita yang makin rendah dalam ilmu dasar. Saya mau katakan, kualitas lulusan pascasarjana fisika lima tahun terakhir ini lebih rendah ketimbang kualitas sarjana fisika semasa Anda tahun 1980-an. Bayangkan banyak yang tak mengerti bagaimana menginversikan matriks. Dalam hal ini, di ASEAN, Indonesia peringkat 7 dari 10. Di bawah kita hanya Laos, Myanmar, dan Kamboja. Vietnam di atas kita. Sebelum Perang Vietnam punya banyak orang pintar. Saya kira Vietnam hanya bisa dipertandingkan dengan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah tanya, negara mana yang kuat di dunia ini tapi ilmu dasarnya lemah. Enggak ada. Rusia kuat, ilmu dasarnya kuat. Demikian pula Inggris, Perancis, apalagi Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak pernah datang ke saya ingin belajar serius fisika. Penghalangnya justru orangtua mereka. "Kalau lulus, kamu mau makan apa? Paling kamu jadi guru." Begitu ancaman orangtua. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan. Padahal, yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Waktu pilih Fisika, enggak ada masalah dengan orangtua?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, "Kamu terserah pilih apa. Kami hanya bisa bantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka." Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian. Ibu saya, yang buta huruf tapi cekatan menghitung uang, menyarankan saya pilih kedokteran. Rupanya dia lihat setiap mengobati pasien, dokter dapat uang. Waktu itu memang mudah kita memilih mau kuliah apa. Orang masih sedikit. Namun, jangan salah, mutu lulusan SMA dulu jauh lebih baik daripada yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga minat masuk teologi. Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana. Saya masuk Fisika ITB dan lulus dalam tempo 6,5 tahun, waktu minimal saat itu untuk lulus sarjana. Kalau saya ditanya mengapa belajar fisika, jawaban saya: karena memang saya menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pernah berpikir meninggalkan fisika?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Saya pernah baca tulisan Carnegie tentang pengusaha ikan. Suami istri itu pekerja keras, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, lalu berunding bagaimana kalau buka usaha. Setelah melihat geografi mereka tinggal, kesimpulannya: buka usaha ikan. Keduanya berunding memberi nama perusahaan itu: Di sini Kami Menjual Ikan Segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahanya berhasil setelah tekad bertahun-tahun dengan nama begitu. Suatu hari datang pembeli. Katanya, "Panjang sekali merek usahamu. Kamu menjual ikan di sini, bukan di tempat lain, untuk apa kata di sini." Masuk akal. Dicoretlah kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang lagi pembeli lain. "Mereknya kok Kami Menjual Ikan Segar. Sudah pasti kalian yang jual, untuk apa kami?" Dicoretnya kami. Didengarnya orang lain. Hari lain datang lagi pembeli. "Kenapa begitu panjang nama ini, kamu letakkan ikan di sini untuk dijual, untuk apa kata menjual?" Dicoretnya kata itu. Tinggal Ikan Segar. Datang lagi pembeli dan bertanya, "Kamu enggak akan jual ikan busuk?" Dicoretnya segar. Tinggal Ikan. Pembeli terakhir datang, "Dari jauh saya sudah mencium ikan, untuk apa kamu menamakan toko ikan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka gulung tikar. Artinya, sesuatu yang dipikirkan lama, karena mendengar saran orang lain, bisa berubah dan hancur. Tentu tidak salah mendengar saran orang lain, tapi bukan untuk mengubah keputusan yang sudah bertahun-tahun kita pikirkan. Saran itu semua logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar fisika selalu direcoki dengan pertanyaan begini. Kalau kamu fisikawan, berapa sih uang yang kamu dapat? Lihat orang itu tiap tahun bisa ganti mobil, tambah rumah. Kalau dia bisa, masa kamu enggak bisa. Masuk akal juga. Kalau saya harus meninggalkan disiplin Relativitas Umum yang saya kerjakan sampai tingkat PhD, habislah semuanya. Cerita Carnegie itu suatu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda mengajar dengan kapur, sementara dosen lain dengan proyektor dan lain-lain. Mengapa?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan memang ada kebiasaan dosen pakai transparan dan proyektor. Ada satu segi kecil yang menguntungkan di sini. Katanya menghemat waktu supaya bahan yang diajarkan meliput semua yang ditentukan dalam suatu semester. Tapi, dalam belajar ilmu dasar umumnya, fisika khususnya, ada ungkapan Do not cover physics, but discover it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, segi negatif, banyak dosen yang seakan-akan mempersiapkan bahan kuliah dengan transparan atau disket. Mahasiswa habis waktu mencatat. Sesungguhnya dosen itu datang tanpa persiapan. Dia hanya menyorongkan bahan untuk dicatat mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lain. Guru saya mengatakan "Jangan lakukan itu!" Persiapkan dirimu sebaik-baiknya. Yang tak tahu katakan tak tahu, sebab kita tak bisa menebak pertanyaan mahasiswa. Sikap seperti ini paling efisien dengan papan tulis. Roger Penrose sampai sekarang pakai papan tulis. Oktober 2002 waktu seminar di Syracuse, semua orang mengatakan you are the old fashion man karena masih presentasi dengan papan tulis. Dia katakan tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jelas, kalau datang ke kelas dengan persiapan mengajar, Anda justru tak perlu bawa apa-apa. Saya selalu berusaha masuk kelas sarjana maupun pascasarjana tanpa secarik kertas, walau tentang Medan Kuantum dan Relativitas Umum. Yang penting, saya katakan di kelas hari ini kita membicarakan ini, tanya saja yang berhubungan dengan itu sepanjang kuliah. Kalau bisa kita jawab, ya kita jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda punya segudang lelucon. Dari mana?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka dengar dan baca joke yang ada moral ceritanya. Kadang saya ciptakan sendiri. Sering manusia dengan segala cara membenarkan diri. Jarang orang membuka kartu bahwa ini kesalahan saya. Lelucon sering menguliti kita dari bungkus kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kemarin Anda kutip Alexander Solzhenitsyn tentang bahaya kekuasaan. Baca sastra juga?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca buku apa saja. Yang selalu saya ambil pesan moralnya. Dari lagu juga saya dapat. Pernah dengar lirik lagu Amerika: How many ears must one man have before he can hear people cry? Enak lagunya, tapi mari merenungkan artinya. Sebelum bisa mendengar rintihan orang lain, berapa telinga yang harus dia punya? Saya bandingkan dengan kisah Alkitab, Yesus menyembuhkan orang tuli. Kita sekarang tidak mendengar jeritan orang. Kitalah yang tuli. Lalu siapa yang menyembuhkan kita yang tuli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dengar musik klasik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka, entah Bach entah Beethoven. Menurut saya, musik instrumental pun menyuarakan pesan moral melalui nada, irama, dinamika. Hanya saja, mengapa Jerman yang banyak menghasilkan musik, sastra, filsafat yang sarat makna bisa melahirkan Hitler yang beringas dan orang kejam. Barangkali ada kaitan dengan hukum aksi-reaksi dalam fisika: di mana timbul sesuatu yang positif, selalu diusahakan timbul aspek jahat yang akan menghancurkan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang fisika akhirnya dekat dengan soal kehidupan. Bisa kita rasakan dari tulisan Einstein, Weinberg, Capra, Gell-Mann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira benar. Saya selalu katakan orang fisika yang masih muda, masih ingusan, biasanya arogan. Tahu rumus kuantum, dia sombong. Namun, hampir semua orang fisika, makin tua makin merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara: SALOMO SIMANUNGKALIT&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-109626313136636476?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109626313136636476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/109626313136636476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_09_01_archive.html#109626313136636476' title='Pantur Silaban'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867351238210769</id><published>2004-07-01T16:18:00.000+07:00</published><updated>2004-07-01T16:18:32.383+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;b&gt;Nyanyian Seorang Gorga &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oleh Job Palar [Wartawan Sinar Harapan]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sumber:http://eklesia-sinar.blogspot.com/2004/06/nyanyian-seorang-gorga.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nunga leleng hutadingkon tano hatubuankon, &lt;br /&gt;laho ahu mangaranto tu na dao.&lt;br /&gt;arga do bona ni pinasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sudah lama kutinggalkan tanah kelahiranku, &lt;br /&gt;aku pergi merantau ke tempat yang jauh.&lt;br /&gt;Tanah kelahiranku inilah (ternyata) yang paling berharga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dengan bergaya, dia berjalan. Hendak ditunjukkan bahwa dia baru saja melanglang buana dari Eropa sana. Ada kawan memanggil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gorga, Gorga. Ho doi? &lt;br /&gt;(Gorga, Gorga. Kaukah itu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah, Bonar Gultom memiliki nama baru, Gorga. Adegan di atas terjadi di sebuah pertunjukan di Kota Medan, pada 1969. Untuk pertama kalinya, Bonar Gultom muda diminta membuat sebuah pertunjukan besar berupa opera rakyat dengan memanfaatkan seni, musik, dan budaya Batak sebagai latar belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan itu berjudul "Arga Do Bona Ni Pinasa", yang menampilkan sebuah kisah tentang perbenturan budaya yang pada masa itu memang sedang hangat-hangatnya menjadi tema sosial. Alkisah seorang pemuda yang meningkat dewasa, tapi merasa bosan dengan semua yang ada di sekelilingnya. Dia berusaha untuk meninggalkan semua itu dan berhasil. Dia melanglang buana, merantau mencari pengalaman, dan melihat hal-hal yang baru yang menurut pengertiannya semula pasti lebih bagus dari tanah asalnya. Pemuda bernama Gorga ini ternyata tak sanggup mengingkari kenyataan, hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimana pun keadaannya, negeri sendiri tetaplah yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemuda bernama Gorga itu saya yang ciptakan, dan saya yang perankan sendiri. Saya harus mengarang ceritanya sendiri berikut lagu-lagunya. Leila Sitompul memerankan sebagai kekasih Gorga, bernama Marlinang. Keterusanlah sampai sekarang si Marlinang itu menjadi istri saya," Bonar Gultom berkisah dengan wajah cerah. "Sampai sekarang istri saya masih disapa `Ibu Marlinang' dan saya `Pak Gorga'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonar "Gorga" Gultom mengisahkan dengan penuh semangat bagaimana dia harus menciptakan gerak dan mempersiapkan panggung dengan dibantu oleh 120 orang anggota gereja. Mulai dari situlah timbul rasa kepercayaan diri. Anugerah yang diberikan Tuhan, menyanyi dan mencipta lagu, makin disadarinya. Bonar mulai berani memimpin paduan &lt;br /&gt;suara di gereja. Pengakuannya, bakat menyanyi turun dari sang ibu. Hasrat menyanyi Bonar kecil yang meluap-luap melahirkan kisah-kisah nan unik. Suatu hari, saat ia sedang belajar di ruang kelasnya di Kelas 1 HIS (Hollands Inlandsche School), terdengarlah di ruang sebelah murid- murid sedang belajar bernyanyi. "Tanpa sadar, saya ikut nimbrung, nyanyi keras-keras. Guru saya kaget. Dia ingin marah, tapi tak jadi, mungkin karena suara saya yang bagus," Bonar terbahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi akibat peristiwa itu, saya jadi sering maju ke depan kelas untuk bernyanyi." Yang paling berkesan baginya, adalah peristiwa di Siborong-borong saat Jepang berhasil mengusir Belanda dan ganti berkuasa, tahun 1942. Saat itu, Bonar berumur delapan tahun. Tentara-tentara Jepang datang untuk "menculik" dirinya. Latar belakang "penculikan" tak lain hanya karena tentara-tentara itu senang mendengarkan dia bernyanyi. Bocah bernama Bonar ini dibawa keliling-keliling kota, ke restoran- restoran. Dia dinaikkan ke atas meja dan disuruh menyanyi lagu apa saja, baik itu lagu-lagu Batak, lagu-lagu gereja, maupun lagu berbahasa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu yang ketakutan ibu saya. Saya sendirian kan nggak mengerti rasa takut. Jepang-jepang itu suruh saya menyanyi, karena saya suka, ya, menyanyilah saya," katanya. "Tapi ibu saya nggak kehilangan akal. Dia suruh anak-anak muda kampung untuk mengikuti Jepang-jepang itu." Bonar kecil begitu menikmati semua petualangan yang terjadi hanya karena kegemarannya bernyanyi. Sebaris-dua baris lagu berbahasa Jepang masih diingatnya. Bonar Gultom tak pernah terpikir sebelumnya mampu mencipta lagu. Ia menganggap kemampuan itu di luar jangkauannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mulai mencipta lagu setelah majelis gereja dan pimpinan GKPI datang meminta saya membuat pertunjukan tentang Gorga itu. Mereka meminta saya membuat suatu pertunjukan yang jangan bersifat gereja agar cakupannya luas, padahal itu acara cari dana untuk gereja," katanya. "Anehnya, saya rencanakan itu semua nggak sampai satu bulan. Entah kenapa, saya begitu terinspirasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi dan Kesetiaan&lt;br /&gt;Prestasi akademik Bonar Gultom sangat baik, terutama untuk bidang penguasaan bahasa. Bonar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Sempat pula ia mendapat nilai sepuluh untuk bahasa Jawa Kuna, namun sekarang yang dia ingat hanya satu-dua kata saja. Setamat SMA di Medan, Bonar Gultom harus menghadapi tantangan yang cukup berat. Belum jelas baginya, hendak ke manakah kaki ini akan melangkah selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak saya pensiun dari camat, dana terhenti. Tapi terus terang, Tuhan itu sayang sama saya. Saya merasakan betul itu," kata Bonar. Prestasi yang sangat bagus di sekolah ditambah kemampuan menyanyi yang makin terasah membuat Bonar mendapat perhatian yang begitu besar dari para guru. Salah satu gurunya bertanya,"Bonar, kau mau ke mana setelah lulus SMA?"&lt;br /&gt;"Nggak tahu, Pak"&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau kau masuk sekolah guru saja."&lt;br /&gt;"Saya kurang minat jadi guru, Pak."&lt;br /&gt;"Kalau begitu kamu mau ke mana?"&lt;br /&gt;"Kalau boleh, saya mau kerja saja, Pak."&lt;br /&gt;Entah apa yang menggerakkan para guru di SMA itu. Mereka kemudian berkumpul untuk membuat surat lamaran dalam bahasa Belanda, lalu dikirimkan ke seluruh perusahaan-perusahaan di Medan. "Eh, berhasil! Ada maskapai perkebunan, namanya NV Vereenigde Deli Maatschappijen, yang memanggil saya untuk wawancara," Bonar berkisah masih dengan nada terheran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, garis hidupnya menyiratkan hal lain. Wawancara itu bukan sekadar wawancara penerimaan pegawai. "Kau kok masih muda malah mau kerja?" si Belanda yang mewawancarai Bonar bingung. Berceritalah Bonar bahwa orang tuanya sudah tak sanggup membiayainya lagi. Sekonyong-konyong, muncullah pertanyaan yang menjadi tonggak penting kehidupan seorang Bonar Gultom. "Kau masih mau sekolah?" Belanda itu bertanya. "Aku mau!" Bonar menjawab mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami rasa kami membutuhkan seorang ekonom, kau mau?"&lt;br /&gt;"Mau sekali!"&lt;br /&gt;Waktu itu, tahun 1956. Bonar masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Salemba. Diakuinya, masuk universitas saat itu memang tidak sesulit sekarang. Dia cukup memperlihatkan ijazah SMA-nya yang dihiasi angka-angka akademik yang bagus itu, langsung diterima "Pembayaran Rp 24.000 per tahun langsung dibayar si Belanda itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah, saya semacam menjalani ikatan dinas. Si Belanda ini hebat. Dia menghitung semua dengan terperinci apa saja yang saya butuhkan, sampai hal-hal kecil," kata Bonar. Bonar menunjukkan kesetiaan yang luar biasa atas segala yang diberikan perusahaan yang membiayainya itu. Riwayat kariernya tercatat dengan jelas. Perusahaan tempat Bonar mengabdi memang diambil alih oleh pemerintah Indonesia, tapi Bonar tetap berkarya di sana, sampai masa kerjanya habis di Bandung. "Saya menciptakan lagu Sunda waktu saya di sana," katanya sambil mempraktikkan kefasihannya berbahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arbab&lt;br /&gt;Kemampuannya makin terasah saat dia kuliah. Bonar mendapat kesempatan menjadi asisten dari dedengkot paduan suara gereja, E.L. Pohan. "Kita konser tiap tahun. Pak Pohan mempercayai saya untuk memimpin di setengah konser. Kalau dia menjadi dirigen lagu-lagu gereja, giliran saya lagu-lagu daerah. Jadi saya asisten dirigen dia," kata Bonar. Bonar Gultom juga memperlihatkan kehebatan teknik bernyanyi dengan menyabet beberapa gelar dalam festival-festival bergengsi. Sebut saja, Juara I Menyanyi Seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia (1958 dan 1960) dan Juara I Menyanyi Seriosa Bintang RRI baik di Medan maupun di Jakarta (1968). Bonar Gultom mengaku tidak memiliki bekal formal dalam menciptakan lagu atau mengaransir lagu. "Cuma, saya memiliki kepekaan jika mendengar suatu lagu. Saya langsung bisa dapat nada untuk suara sopran, alto, tenor, atau bas, apalagi kalau lagunya bagus." Bonar Gultom telah menciptakan sekitar 120 lagu. Lagu-lagu ciptaannya menjadi langganan lagu wajib dalam berbagai lomba paduan suara. Lagu Bonar Gultom yang melegenda di kalangan paduan suara adalah Arbab. Lagu itu begitu kental dengan nuansa Batak, dengan nada yang lincah dan melonjak-lonjak. Harmonisasi pembagian suaranya-sopran, alto, tenor, bas-begitu enak terdengar. Jika paduan suara menyanyikan dengan suara yang tepat mengena pada nada, akan terasa seperti orkestra. Harmonisasi yang indah inilah yang membuat lagu Arbab menjadi semacam "lagu wajib" bagi paduan-paduan suara gereja, bukan saja dari tanah Batak. "Saya sendiri nggak bisa bilang persis dari mana datangnya ide lagu itu, tapi saya yakin dari Tuhan," katanya."Lagu Arbab saya ciptakan dalam perjalanan menuju TVRI untuk rekaman kaset. Lokasinya waktu itu di Kesawan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saudagar Cina begitu ingin merekam suara Bonar dan kawan- kawan. Baru ada beberapa lagu. Bonar berpikir keras di perjalanan. "Lagu apa yah buat ditambah di rekaman?" Tiba-tiba, berloncatan nada-nada disertai syair dari mulut Bonar. &lt;br /&gt;Da tama endehononku &lt;br /&gt;pamujionku di Debatangku&lt;br /&gt;Ooooo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang kemudian menjadi "lagu kebangsaan" paduan-paduan suara itu pun terlahir ke Bumi. Paduan-paduan suara gereja banyak yang menyanyikan lagu itu namun sudah dalam versi bahasa Indonesia. "Edisi" bahasa Indonesia pun tetap hadir dengan sangat baik dan tak kehilangan "roh"-nya. Tak lain karena Bonar sendirilah yang melakukan penterjemahan.Tanggal 30 Juni 2004, Bonar Gultom genap berusia 70 tahun. Sebuah perayaan untuk menghormati dedikasinya sedang disiapkan oleh handai taulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernyanyi menjadi suatu anugerah yang mengiringi dan sering kali mengubah perjalanan hidupnya. Dengan penuh rasa syukur, Bonar Gultom bertutur, "Tuhan telah mengizinkan saya menikmati hidup ini, sehat, masih bisa saya mencipta lagu, mengajarkan, dan menyanyikannya. Saya juga memiliki keluarga yang horas, selamat, sehat, dan cucu yang &lt;br /&gt;sehat-sehat untuk saya mengisi hari tua ini." Pencapaian Bonar Gultom sampai saat ini sangat tepat tergambar lewat syair lagunya sendiri, Arbab, versi bahasa Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwaku ingin bernyanyi, &lt;br /&gt;serta tubuhku menari-nari&lt;br /&gt;Menunjukkan sukacita&lt;br /&gt;Atas kasih Tuhan kepadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Bonar Gultom pun terus bernyanyi..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867351238210769?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867351238210769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867351238210769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867351238210769' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867246194255839</id><published>2004-07-01T16:01:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:20:29.336+07:00</updated><title type='text'>DALIHAN NA TOLU</title><content type='html'>&lt;b&gt;TOLU SAHUNDULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(The Philosophy of Life)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalihan dapat diterjemahkan sebagai "tungku" dan "sahundulan" sebagai "posisi duduk". Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu: HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya "sejajar", yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya.Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867246194255839?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867246194255839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867246194255839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867246194255839' title='DALIHAN NA TOLU'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867242650073925</id><published>2004-07-01T16:00:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:49:40.610+07:00</updated><title type='text'>Air Terjun Tongging</title><content type='html'>&lt;b&gt;Wisata Air Terjun Tongging Belum Dikelola Profesional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.republika.co.id"&gt;Republika&lt;/a&gt;(2004)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan wisata air terjun Tongging , Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan keindahan panorama alamnya hingga kini belum dikelola secara profesional sehingga bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut masih mengalami kesulitan mencari tempat penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek wisata Tongging yang berjarak sekitar 75 Km dari kota Medan memiliki keindahan panorama alam yang menarik selain kondisi alamnya yang demikian sejuk juga terdapat air terjun di sela-sela gunung Sibayak, wisatawan dapat pula menyaksikan keindahan suasana alam danau Toba, demikian dilaporkan LKBN ANTARA dari Tongging, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah wisatawan yang ditemui sangat mengharapkan agar Pemda Kabupaten Tanah Karo aktif untuk mencari calon investor mengelola obyek wisata air terjun Tongging secara profesional termasuk pembangunan penginapan. "Kami menjadi bingung di lokasi obyek wisata alam yang demikian indah tidak terdapat hotel atau losmen,"tanya sejumlah wisatawan asal Jakarta dan Bogor di lokasi obyek wisata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kata para pedagang cinderamata di Tongging mayoritas turis yang berlibur adalah wisatawan lokal sedang pelancong asing hanya berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju Danau Toba. Jalan menuju kawasan wisata itu cukup bagus bahkan mudah dijangkau dari Tanah Karo dan Brastagi, dari kota Medan bisa ditempuh dalam waktu dua setengah jam dan bila macet sekitar tiga jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panorama alamnya nampak demikian indah air terjun yang diapit hamparan gunung Sibayak dan Danau Toba serta kondisi alam yang sangat sejuk menjadikan kawasan wisata tersebut layak untuk dikembangkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata kenamaan di Sumut selain Danau Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai air terjun dari lokasi puncak memerlukan waktu 1,5 jam berjalan kaki, kondisi ini sangat cocok bagi wisatawan yang memiliki kesenangan berolahraga jalan kaki. Pada hari Minggu dan libur kawasan tersebut banyak dikunjungi wisatawan lokal khususnya remaja dan pemuda serta keluarga.(&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ant/abi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867242650073925?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867242650073925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867242650073925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867242650073925' title='Air Terjun Tongging'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867239735251536</id><published>2004-07-01T15:59:00.001+07:00</published><updated>2004-08-30T11:50:42.733+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Batak </title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;Sumber : disarikan dari buku "LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA" cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan: Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEA BULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867239735251536?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867239735251536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867239735251536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867239735251536' title='Sejarah Batak '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867235210839991</id><published>2004-07-01T15:59:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:31:18.770+07:00</updated><title type='text'>LEGENDA SI RAJA BATAK </title><content type='html'>Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulajadi Na Bolon berkata, "Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!" Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan. "Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?" tanya Tuan Batara Guru. "Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapun akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya," kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata. "Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak. "Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk. Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya,"katanya.Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga. "OK," katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana. Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867235210839991?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867235210839991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867235210839991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867235210839991' title='LEGENDA SI RAJA BATAK '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867223749653795</id><published>2004-07-01T15:57:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:32:13.706+07:00</updated><title type='text'>Marga dan Tarombo</title><content type='html'>MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan "lae/tulang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om), "Bapatua/Amanganggi/Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867223749653795?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867223749653795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867223749653795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867223749653795' title='Marga dan Tarombo'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867221445983870</id><published>2004-07-01T15:56:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:33:49.270+07:00</updated><title type='text'>Horas !</title><content type='html'>Horas adalah salam khas orang Batak yang berarti selamat, salam sejahtera, yang kerap diucapkan dalam kehidupan sehari-hari bila 2 orang atau lebih bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahowu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horas bisa juga berarti selamat jalan/datang, selamat pagi/siang/malam dan lain lain yang maknanya baik. Karena populernya kata horas, orang-orang non Batak juga sering mengucapkan kata tersebut jika bertemu dengan orang Batak.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867221445983870?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867221445983870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867221445983870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867221445983870' title='Horas !'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108867205474588966</id><published>2004-07-01T15:54:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:34:42.023+07:00</updated><title type='text'>Ulos Batak</title><content type='html'>&lt;p&gt;Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) matahari,&lt;br /&gt;(2) api,&lt;br /&gt;(3) ulos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai enggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian adat Batak "mangulosi" (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana. Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak" bisa diartikan penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108867205474588966?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867205474588966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108867205474588966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_07_01_archive.html#108867205474588966' title='Ulos Batak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-108322431854138063</id><published>2004-04-29T14:38:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:19:23.590+07:00</updated><title type='text'>Filsafat Batak </title><content type='html'>...sebagaimana diposting di mailing list Batak Gaul [Batak_Gaul@yahoogroups.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;pengirim : Sumarno Rajagukguk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Mata Guru Roha sisean&lt;br /&gt;2. Girgir Mananginangi, Banghol manghatahon.&lt;br /&gt;3. Na nialap halea on, Na tinuhor Hasangapon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;pengirim : Makjen Simarmata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Sinuan tubu, niumpat melus : Aha na niulam ido nalaho jaloonmu.&lt;br /&gt;2. Ndang marimbar tano hamatean : Unang mabiar laho mangaranto&lt;br /&gt;3. Jumolo ni dilat bibir asa manghatai : asa unang gabe salah manghatahon&lt;br /&gt;4. Tongka : ndang boi dohonon manang ndang boi ulahonon alani nasopatut.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-108322431854138063?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108322431854138063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/108322431854138063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2004_04_01_archive.html#108322431854138063' title='Filsafat Batak '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106938698417117385</id><published>2003-11-21T10:56:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:29:53.416+07:00</updated><title type='text'>Andung-andung atau Mangandung</title><content type='html'>Sumber : Milis Gen-B&lt;br /&gt;posting oleh : Vernando Siagian&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Horas rekan,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang pro-kontra cara ini dipakai dalam mengekpresikan kesedihan saat orang yang dekat dengannya "dipanggil dan diminta laporan pertanggung jawabannya" oleh sang pencipta...&lt;br /&gt;Ngapain pulak kau ini "mangandung" !!, emangnya almarhum bisa dengar !!.. kata sebagian orang..&lt;br /&gt;Dulu waktu beliau masih hidup kau nggak hormat, kau sering buat masalah,.. sudah mati kau "mangandung" pulak.. kata sebagian orang lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mangandung"... salah satu ciri khas orang batak (-terutama jaman dulu ??),.. apakah ini perlu dilestarikan ??, awak nggak bisa jawab bah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;* Andung ni ina, ripe ni na mate i&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Marsiruntuson ma hape damang rajanami. Hudompu nian jolo martonga ni asean sinuantunasta i di pudian ni damang among rajanami. Holan i nama nian rajanami sidangolon di pudian ni damang; aut na martonga ni asean i dipudianmu amonge, detak marsijagaron do punsu ni siubeonta i. Asa i ma na dangol di ahu amonge. Ai so huparningothon be anggo na dangol i. Ai marsituriak do ahu nian dohot punsu ni siubeonta, ingkon jolo martonga ni asean di pudian ni damang siadopan, asa tangi ma sipareonmu da rajanami, sai unang ma malaon matading ahu di pudianmi, among, ai dolok panangkopi situriak ni sinuantunasta punsu ni siubeonta i, ima na so tarsarihon simangkudaphu didadang ari diullus alogo i...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Andung ni parumaen ni na mate i&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ai barani ma ho hape among na umbalos ahu tumadingkon hami na di pudianmon. Boha ma parsimalolongkononku siadosan punsu ni siubeonmi na so martonga ni asean na di pudianmi. Anggo simangarudok nian among, nunga matua bulung di jolojolomi nunga marsinuantunas ahu dua simardung, ima sisumbaon ni damang na di jolo-jolongki marsinuan beu ahu tolu simardung. Ai aut martonga ni asean siadosan detak so bosar do na dangol di bagasan rohangki.&lt;br /&gt;Ia marobur ma damang na umbalos ahu sursar ma na dangol da amonge di bagas pangarohaingki, bosar ma na hansit i. Ai tarduru siadosan sian sain hami siadosan i, so naggo martonga ni asean simangarudokna i. Aha ma simangarudokhu nunga marsinuan beu ahu tolu simardung, marsinuantunas ahu dua simardung i. I ma na dumangol da amonge siadosan punsu ni siubeonmi nanggo tung martonga ni asean i nian di pudianmi asa marobur damang tu situmalin i. I ma da umbahen golap na tiur huparsimalolongkon umbahen urmun na tiur hutailihon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Andung ni anak ni na mate i&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Huandung ma damang i, damang i amoong, among na marsinuan. Ba, di dia ma damang palilungangku da among, ai palilungangku damang mardalan sirumimpang na malilungi dolok simanabun pinalilunganmi, patambor silumuhut paungan situmalin i. Jadi tading ma au among songon durame di balian i. Boa durame di balian da among boi ulahan i. Ba, di dia ma damang palilungangku da among, nanggo sada siatongkinan, nanggo songon na ambat di pintu, songon na jumpang di hite damang i among na mura lupa on di sinuantunas ni damang dohot sinuan beumi dohot sisumbaon ni damang na di jolo jolongki, among...among...among...among...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba di dia ma jalahanku damang among, damang nai parsihol i, parsimangkudap na so tupa sumungkari, na mantat gundur pangalumi ansimun pangalambohi i, damang i among !! Damang among, babiat di pintu, gompul di alaman i, dundang soaloon, tanduk so suharon. Lili so sumogir, banebane so sumungkar i, hupalilungkon parsimangkudap ni damang tu simangarudokki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi digotap ma among songon baion sijalinon i na halonglongan damang au amongoi da sian jolo-jolongki. Jadi malilung ma among harurusan aek silumanlan na songon batu mangulang songon aek mabaor i da sian simalolongki. Among..!! na so tabahen holong oi ! Ba dia ma hatahonongku da among, na haroburan damang i. Ai aut na malo manjomputi ahu nian na songon na seang i na malo mamutihi songon na abur i, putihangku ma i nian sidangolon dibagas siubeongki, na magodang panaguhan among; jadi na so margogo do ahu da among humatahon na hansit i, na haroburan damang on tian jolojolongki. Damang among na lambok malilung i among; ba didia ma damang palilunganku da among ..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Andung ni hela ni na mate i&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Amonge among na sumuan au, dia dibahen marsiruntuson damang among tumadingkon hami na dipudianmon. Boha ma pamutihikku among disituriakmu ditangihon sipareonki; mandabu siajaron ho nian among ditangihon sipareokku; banebane so sumugor i; lili so sumungkar i, i ma na so haputihan ahu da among, ai so adong be mambahen siajaron tu ahu lapalapa i. Ai undoton ma hami hape among, ai nunga marobur damang among; songon solu na buruk ma hami hape among siundoton i, i ma umbahen songon aek mabaor da among siulubalang aek tian simalolonghi. Matompas pe silumatahut sian hita among, ndang adong diandung simanghudaphu, holan pinaribot do i diandung simangkudaphu na so marsinuantunas di tonga ni aseanna i, umbahen so adong among donganku marsituriak na haroburan damang di partaonan parsumalin i. Asa tangi ma sipareonmu da among na tumangihon rindangmu rahar di banua on. Ai tarduru amonge rindangmu simangarudokhi songon handang balian i na di duru ni bale dibalian ni parik i, ai malu so dohot ma pinaribot so marsinuantunas di jolojolona i, asa boa ma pangandungku amonge, among na sumuan ahu, na tangis so marrindang di simangarudokki...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Andung ni boru ni na mate i&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Among marsiruntuson ma ho hape among tumadingkon hami. Ba ise be donganku marsituriak among di sian ni agalangon on; matua bulung pe ho nian among, tangkas marsituriak do ahu marpaiogon di sian ni agalangon on. Hubolushon do ahu nian among na so marsinuantunas dijolo-jolongki, boha ma pinaribot da among na so marsinuantunas bona ni siubeonmi. Marsitingkiran hami among songon holbung i, marsitatapan hami songon dolok-dolok i dohot pinaribot bona ni siubeonmi, tarduru hami among songon handang balian i. Sai unang ma au malaun matading, unang huparningothon i, hami dohot pinaribot bona ni siubeonmi, mahansithu mangapian amonge di dadang ari diullus alogo i...&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106938698417117385?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106938698417117385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106938698417117385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_11_01_archive.html#106938698417117385' title='Andung-andung atau Mangandung'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106566548190750205</id><published>2003-10-09T09:11:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:43:16.186+07:00</updated><title type='text'>Tokoh tortor dan Arsik [dari koran]</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0304/24/naper/273388.htm"&gt;tokoh tortor&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jakartaonline.net/recipe/recipe153.html"&gt;arsik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sedap-sekejap.com/artikel/2001/edisi5/files/jalan2.htm"&gt;penganan medan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106566548190750205?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106566548190750205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106566548190750205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106566548190750205' title='Tokoh tortor dan Arsik [dari koran]'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106549347389788219</id><published>2003-10-07T09:24:00.000+07:00</published><updated>2003-10-07T09:31:14.440+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;a href="http://www.ifrance.com/Sandrine-GERMAIN/Perso/Glossaire_des_mots_Batak.html"&gt;kamus batak prancis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ornamentasi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pu.go.id/publik/bencana/SIATI/ORNAMENTASITOBA.HTML"&gt;toba&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pu.go.id/publik/bencana/SIATI/ORnamenTASISIMALUNGUN.HTML"&gt;simalungun&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106549347389788219?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106549347389788219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106549347389788219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106549347389788219' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106259455766966342</id><published>2003-09-03T20:09:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:54:38.403+07:00</updated><title type='text'>Situs Batak </title><content type='html'>Lagi-lagi tentang Batak ! [Namanya juga situs Batak !]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lagi iseng masukin kata 'orang batak di google. Dan inilah beberapa situs yang aku temui :&lt;br /&gt;a. &lt;a href="http://www.anycities.com/user1/bataksejermanselatan/bataksmeetings2003%20.htm"&gt;Sejarah orang batak &lt;/a&gt;;&lt;br /&gt;b. &lt;a href="http://www.tapanulicoffee.com/"&gt;Kopi Batak&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;c. Orang Batak &lt;a href="http://www.mandailing.org/"&gt;di rantau&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;d. &lt;a href="http://202.159.18.43/jsi/92haliadi.htm"&gt;Gadis Batak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo yang ini, katanya situs resmi pemerintah daerah tingkat dua Tapanuli.&lt;br /&gt;a. &lt;a href="http://www.pemdataput.go.id/"&gt;Tapanuli Utara&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b. &lt;a href="http://www.tapteng.go.id/"&gt;Tapanuli Tengah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;c. &lt;a href="http://www.tapsel.go.id/"&gt;Tapanuli Selatan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106259455766966342?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106259455766966342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106259455766966342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_09_01_archive.html#106259455766966342' title='Situs Batak '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106250383188910585</id><published>2003-09-02T18:57:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:55:47.910+07:00</updated><title type='text'>Keistimewaan Ungkapan Batak (1) </title><content type='html'>Belajar ungkapan &amp;amp; kata penting Batak&lt;br /&gt;-------------------------------&lt;br /&gt;Copyright (c) ForumTapanuli (FT - forumtapanuli@yahoogroups.com)&lt;br /&gt;By: Manaek Sinaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalihan na tolu: tungku nan (yang) tiga&lt;br /&gt;Ini mengandung makna bahwa ada 3 unsur yang menjadi pedoman menjalankan falsafah batak, menjadi asas hubungan kekeluargaan/ kekerabatan pada kehidupan sosial batak.&lt;br /&gt;Ketiga unsur tsb:&lt;br /&gt;-Dongan tubu/ sabutuha (teman semarga)&lt;br /&gt;-Hula-hula (pihak keluarga/marga dari istri)&lt;br /&gt;-Boru (pihak yang mengambil istri dari marga kita/menikahi anak perempuan kita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2a. Ruma Gorga: rumah adat batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2b. Boraspati: cicak&lt;br /&gt;Boraspati merupakan falsafah batak dengan filosofi lengketnya dipermukaan apa saja. Boraspati dipahat sebanyak 2 pada rumah adat batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2c. Baringin: pohon beringin&lt;br /&gt;Gambar pohon beringin ini ada pada rumah adat batak. Leluhur dulu suka duduk dan bertemu di bawah pohon beringin yang sejuk dan nyaman karena daunnya yang lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3a. Hasangapon= kedudukan terhormat, kemuliaan, martabat.&lt;br /&gt;3b. Hagabeon= banyak/ punya keturunan, banyak anak.&lt;br /&gt;3c. Hamoraon= kekayaan atau kemakmuran.&lt;br /&gt;Ketiga kata tsb: 3H, merupakan cita-cita/ harapan orang pada umumnya dari dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Anakhonhi do ha moraon di ahu, anakhonhi do hasangapon di ahu, anakhonhi do na ummarga di ahu.&lt;br /&gt;Artinya: anak-anakku lah kekayaan bagiku, anak-anakku lah kehormatan bagiku, anak-anakku lah yg paling berharga bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Maradu marrenteng lanok di tanggurungku holan manarihon ho. Artinya: sampai bertelur lalat di punggungku hanya untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hugogo pe mansari arian nang bodari holan pasingkolahon gellenghi.&lt;br /&gt;Artinya: kerja keras pun aku siang dan malam hanya untuk menyekolahkan anak-anakku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mulak tondi to jabu&lt;br /&gt;Artinya: kembali roh (semangat) ke rumah, kembali kepada citra hidup semula, back to basic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Manganghat tohuh tu poring, molo mate hahana anggina soring.&lt;br /&gt;Artinya: melompat kodok ke tempat air, kalau kakaknya meninggal adiknya mengganti. Ini merupakan ungkapan adat batak yang meminta adiknya (atau yang dekat/ semarga) menggantikan kakaknya sebagai istri bila kakaknya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pabidang panggagatan: melebarkan bidang ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Roha daging atau hisap-hisap ni daging: hawa nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Nunga piga dakdanak di hamu, piga mai dalahi piga daboru.&lt;br /&gt;Artinya: sudah berapa anakmu, berapa laki-laki berapa perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Indahan di balanga: nasi di kuali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ungkapan-ungkapan bertendensi persatuan/ mufakat sbb:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13a. Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut&lt;br /&gt;Artinya: air sungai besar ke air laut, kebulatan hati untuk mencapai mufakat.&lt;br /&gt;13b. Rim ni tahi do gogona: kebersamaan adalah kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ungkapan-ungkapan bertendensi/ berbau negatif sbb:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14a. Situnjang na robung sidegehon na ompas&lt;br /&gt;Artinya: menyepak yang terjerumus menginjak yang sudah terhempas.&lt;br /&gt;14b. teal: sombong, belagu, banyak tingkah berlebihan&lt;br /&gt;14c. na teal ma ho: sombong amat kamu, kamu berlagak pintar/hebat tetapi sebenarnya tidak (actually it's nothing).&lt;br /&gt;14d. elat: iri, mencela kebaikan orang&lt;br /&gt;14e. late: sirik (iri yg jahat),tidak mau orang lain berhasil&lt;br /&gt;14f. mangalatei: menjerumuskan orang karena iri yg jahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. saur matua: panjang umur&lt;br /&gt;16a. hamajuon: kemajuan&lt;br /&gt;16b. harajaon: kekuasaan&lt;br /&gt;16c. halak na mora: orang yang kaya/ terpandang&lt;br /&gt;16d. halak na bisuk: orang yang arif/ bijak&lt;br /&gt;16e. bisuk: bijak, cerdik, pandai membawa diri&lt;br /&gt;16f. habisukon: kearifan, kebijakan&lt;br /&gt;17. uhum: hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. A: "Aha do na mangatur negara on?"&lt;br /&gt;B: "Hepeng!".&lt;br /&gt;Artinya: A: "Apa yang mengatur negara ini?"&lt;br /&gt;B: "Uang!"&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106250383188910585?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106250383188910585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106250383188910585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_09_01_archive.html#106250383188910585' title='Keistimewaan Ungkapan Batak (1) '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106189578989852627</id><published>2003-08-26T18:03:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:56:50.250+07:00</updated><title type='text'>Batak = Nomaden ?</title><content type='html'>Apakah orang Batak termasuk penduduk yang suka nomaden atau berpindah-pindah ? Pada saat iseng search di Google aku menemukan artikel berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bona.gaptek.net/Batak/node1.html"&gt;Asing sing sooooo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bona.gaptek.net/Batak/node2.html"&gt;"Batak" Artinya Penunggan Kuda?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bona.gaptek.net/Batak/node3.html"&gt;Migrasi Orang Batak Suatu Strategi Hidup Mereka&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bona.gaptek.net/Batak/node4.html"&gt;H O R A S&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106189578989852627?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106189578989852627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106189578989852627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106189578989852627' title='Batak = Nomaden ?'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106189309607635005</id><published>2003-08-26T17:18:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:53:33.216+07:00</updated><title type='text'>Perihal Ulos </title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber : posting "Guntar Sagala" di milis Gen-B&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang:&lt;br /&gt;Pada suatu zaman pernah ulos merupakan barang langka dan sangat berguna di tanah batak. Ulos, yang arti harfiahnya adalah selimut, sangat dibutuhkan di masyarakat bonapasogit yang kebetulan tinggal di daerah pegunungan yang dingin. Juga ulos pernah berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, karena pada waktu itu masih sangat sulit akses terhadap produksi tekstil seperti sekarang. Dan karena dipakai sehari-hari, waktu itu banyak dijumpai ulos yang telah buruk/luntur. Untuk menangkal udara dingin, disamping ulos, Pantas juga dipertimbangkan: Bahwa pada waktu itu nilai-pasar (tukar-menurkar) ulos tergolong tinggi. Ulos mempunyai corak dan tingkatan menurut waktu pemakaian dan harganya (sangat berhubungan dengan kesulitan membuat dan jenis bahannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini menurut rekan-rekan ada beberapa makna/lambang dari ULOS sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#. Ulos Lambang Gengsi&lt;br /&gt;Ulos adalah lambang gengsi (jati diri?) seseorang dalam komunitas batak. Misalnya seseorang yang menganggap dirinya "biasa-biasa saja", dia tidak akan berani memakai ulos yang dinilai oleh khalayak sebagai ulos untuk seseorang yang telah "maduma" (jaya kiri-kanan dan luar-dalam).Karena, jika seorang-biasa memakai ulos yang dinilai sangat agung oleh khalayak, akan dicemoh orang. Sebaliknya, seseorang yang telah maduma akan dicemoh bilamana dia dalam suatu uloan adat tidak memakai ulos yang pantas menurut ukuran kejayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#. Ulos Lambang Kasih sayang&lt;br /&gt;Dengan pertimbangan kegunaan dan nilai-pasar ulos waktu itu, tidaklah sulit menghayati bahwa seorang orang tua memberikan ulos kepada anaknya sebagai perlambang kasih-sayang dan restunya dalam suatu pesta perkawinan. Ingat : Ulos hanyalah perlambang (tanda), bukan perwujudan. Suatu tanda adalah sempurna dan lengkap bilamana pihak-pihak yang terkait dalam semangat saling percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#. Ulos ada Lambang &amp; Comitment&lt;br /&gt;Bisa saja seorang orangtua bersedia memberikan sebidang tanah kepada menantunya yang baru, dan kemudian menantunya itu berkata: "Amang tahu sendiri, kami (serta dengan borumu) akan tinggal di negeri yang jauh dari tempat amang. Bagaimana kami akan mengelola tanah itu. Terima kasihlah amang terhadap semua kebaikanmu." Dengan ulos sebagai tanda kasih, si menantu dan serta pihak marga menantu, dapat merasa bahagia dan "pos roha" bahwa orang tua perempuan siap-sedia dalam hal memberi dan mengasihi bilamana diperlukan. Oleh sebab itu "ulos adalah perlambang, ulos adalah komitmen" .Dari hasil percakapan para anggota Gen_B lebih banyak setuju bahwa Ulos tetap Ulos artinya posisi Ulos tetap tidak bisa di ganti dengan apapun (termasuk cendramata paling berharga) dalam sebuah adat. Alasanya simple sebab Ulos mempunyai nilai adat &amp;amp; sakral, tidak diumbar serta,perlambang kasih dan restu. Dalam perkembangannya makna ulos sebagai perlambang suatu nilai yang luhur mengabur.Tentang Makna: Karena ulos adalah perlambang kasih yang tidak terbatas nilai-pasar, sebab itu&lt;br /&gt;seseorang janganlah memberi ulos karena tuntutan atau tekanan keterpaksaan supaya enak dipandang masyarakat. Tanpa komitmen mengasihi, memberi ulos sebetulnya sudah bertentangan dengan yang dilambangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabe sian ahu tu sude angka Dongan/Anggota Gen_B jala sai anggiat di ramoti Tuhan hita saluhutna.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106189309607635005?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106189309607635005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106189309607635005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106189309607635005' title='Perihal Ulos '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-10614662476400933</id><published>2003-08-21T18:44:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:44:31.923+07:00</updated><title type='text'>Mata Angin [bahasa Batak]</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;posted by : Moderator milis Gen B on Monday, July 22, 2002 10:15 AM&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timur               Purba&lt;br /&gt;Tenggara           Anggoni&lt;br /&gt;Selatan             Dangsina&lt;br /&gt;Barat Daya         Nariti&lt;br /&gt;Barat               Pastina&lt;br /&gt;Barat Laut         Mayobia&lt;br /&gt;Utara               Utara&lt;br /&gt;Timur Laut        Irsanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-10614662476400933?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/10614662476400933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/10614662476400933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#10614662476400933' title='Mata Angin [bahasa Batak]'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106146608691468283</id><published>2003-08-21T18:41:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:52:43.880+07:00</updated><title type='text'>Ritual Batak</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa kejadian yang sering diupacarakan dalam Adat Batak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;posted by : Moderator milis gen-b on Thursday, August 01, 2002 11:54 AM&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Tonggo Raja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyampaikan ulaon yang relatif besar dan melibatkan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pemberian Marga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah proses memberikan marga kepada orang yang bukan Batak. Pada umumnya hal ini dilakukan pada calon mempelai/yang akan melangsungkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Perkawinan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Serangkaian kegiatan/prosesi ulaon dalam rangka perkawinan putra/putri Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Kelahiran Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diselenggarakan bila ada anak lahir dalam keluarga. Biasanya mencakup Mangan Indahan Esekesek, Manupaupa (untuk laki-laki), Paebathon Buhabaju tu Ompung na bao, dan Tardidi (pemberian nama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Penyampaian Ulos Mula Gabe (Tondi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diselenggarakan pada saat kehamilan wanita dalam usia hamil 3 atau 4 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Mangupa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syukuran akibat lepas dari cobaan berat atau karena memperoleh sukses/kebahagiaan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Mambahen Sipanganon Tu Natua-tua dan Manulangi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mensyukuri umur padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Pemindahan Makam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mencakup mangongkal holi dan pesta Tambak. Penghormatan kepada leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Kematian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mencakup kematian Mangkar(belum punya keturunan, Sarimatua dan Saurmatua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Membawa dengke (makanan) serta melakukan penghiburan bagi kerabat/sanak saudara yang menderita kemalangan atau mengalami penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. Mangompoi Jabu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syukuran dalam rangka menempati rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106146608691468283?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106146608691468283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106146608691468283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106146608691468283' title='Ritual Batak'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106137763140577639</id><published>2003-08-20T18:07:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:47:55.720+07:00</updated><title type='text'>Paratur ni Parhundulon </title><content type='html'>sumber : posting Roy Enrico Reyes Tambunan alias Ompu Matasopiak XVI di milis gen-b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu.&lt;br /&gt;Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga. Di akhir bacaan nanti, diharapkan pembaca bisa memahami posisinya masing-masing, dan juga posisi orang-orang di sekeliling kita tercinta.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik ( nice attitude ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selaku orang Batak berbudaya sudah menanamkan ini sejak dulu kala, kita tentu masih ingat petuah nenek moyang kita, seperti :&lt;br /&gt;' Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan '&lt;br /&gt;' Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan " Dalihan Na Tolu " ( Dalihan Na Tolu juga akan saya tuliskan lengkap pada kesempatan mendatang ). Adapun isi :&lt;br /&gt;§ Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu&lt;br /&gt;§ Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih&lt;br /&gt;§ Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :&lt;br /&gt;1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung&lt;br /&gt;2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda&lt;br /&gt;3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung&lt;br /&gt;4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh&lt;br /&gt;5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga&lt;br /&gt;6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu&lt;br /&gt;7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan 'Padan na buruk' = sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :&lt;br /&gt;§ Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho&lt;br /&gt;§ Tampulon aek do na mardongan sabutuha&lt;br /&gt;§ Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan boru :&lt;br /&gt;1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita&lt;br /&gt;2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita&lt;br /&gt;3. Namboru ni suhut&lt;br /&gt;4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita&lt;br /&gt;5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula&lt;br /&gt;6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan&lt;br /&gt;7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).&lt;br /&gt;8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita 'Amang'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :&lt;br /&gt;§ Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang&lt;br /&gt;§ Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )&lt;br /&gt;§ Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula&lt;br /&gt;§ Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri&lt;br /&gt;§ Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bijak perihal bere :&lt;br /&gt;Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang&lt;br /&gt;Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan hulahula :&lt;br /&gt;§ Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua&lt;br /&gt;§ Tulang&lt;br /&gt;§ Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung&lt;br /&gt;§ Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit :P ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.&lt;br /&gt;§ Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.&lt;br /&gt;§ Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( ya ampunnn )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :&lt;br /&gt;§ Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan hati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.&lt;br /&gt;§ Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.&lt;br /&gt;§ Hulahula i do debata na tarida&lt;br /&gt;§ Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri ( hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan, selengkapnya baca di 'Ruma Gorga' )&lt;br /&gt;§ Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara&lt;br /&gt;§ Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) ( sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dalam keluarga satu generasi :&lt;br /&gt;(1) Amang/Among : kepada bapak kandung&lt;br /&gt;(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil 'Amang' saja&lt;br /&gt;(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan 'Amang' atau 'Uda'&lt;br /&gt;(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga&lt;br /&gt;(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga 'Anggia'&lt;br /&gt;(6) Hahadoli : atau 'Angkangdoli', ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita&lt;br /&gt;(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut :P )&lt;br /&gt;(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan 'Amang', maka bapak-bapak mereka adalah 'Ompung' kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.&lt;br /&gt;(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya 'Amang'&lt;br /&gt;(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita&lt;br /&gt;(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita&lt;br /&gt;(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua&lt;br /&gt;(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda&lt;br /&gt;(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti 'angkang'&lt;br /&gt;(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan 'Inang'&lt;br /&gt;(16) Ompungboru : lihat ke atas&lt;br /&gt;(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas&lt;br /&gt;(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dalam hubungan par-hulahula on&lt;br /&gt;(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan 'Amang'&lt;br /&gt;(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya 'Inang'&lt;br /&gt;(c) Tunggane : disebut juga 'Lae', yakni kepada semua ito dari isteri kita&lt;br /&gt;(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil 'Tulang'&lt;br /&gt;(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil 'Nantulang'&lt;br /&gt;(f) Tulang : kepada ito ibu kita&lt;br /&gt;(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita&lt;br /&gt;(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil 'Ompung'&lt;br /&gt;(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi...borat na i )&lt;br /&gt;(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil 'Ompung'&lt;br /&gt;(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil 'Amang', dan generasi di atasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dalam hubungan par-boru on&lt;br /&gt;(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya 'Amanghela'&lt;br /&gt;(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita&lt;br /&gt;(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita&lt;br /&gt;(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita&lt;br /&gt;(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita&lt;br /&gt;(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita&lt;br /&gt;(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita&lt;br /&gt;(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita&lt;br /&gt;(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita&lt;br /&gt;(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita&lt;br /&gt;(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita&lt;br /&gt;(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )&lt;br /&gt;Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:&lt;br /&gt;amang, amangtua, amanguda amang&lt;br /&gt;inang, inangtua, inanguda amang&lt;br /&gt;angkang anggi(a)&lt;br /&gt;ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) anggi(a)&lt;br /&gt;ompungboru ( suhut ) anggi(a)&lt;br /&gt;ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) lae&lt;br /&gt;ompungboru ( bao ) amangbao&lt;br /&gt;inang ( anggiboru ) amang&lt;br /&gt;anggia angkang&lt;br /&gt;anggia ( pahompu ) ompung&lt;br /&gt;inang ( bao ) amang&lt;br /&gt;inang ( parumaen ) amang&lt;br /&gt;amang ( simatua ) amanghela&lt;br /&gt;inang ( simatua ) amanghela&lt;br /&gt;tunggane lae&lt;br /&gt;tulang bere&lt;br /&gt;nantulang bere&lt;br /&gt;tulang na poso amangboru&lt;br /&gt;nantulang na poso amangboru&lt;br /&gt;bere tulang&lt;br /&gt;ito ito&lt;br /&gt;parumaen/maen amangboru&lt;br /&gt;amang ( na mambuat maen ni iba ) amang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:&lt;br /&gt;amang, amangtua, amanguda inang&lt;br /&gt;inang, inangtua, inanguda inang&lt;br /&gt;angkang anggi(a)&lt;br /&gt;ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) ito&lt;br /&gt;ompungboru ( suhut ) eda&lt;br /&gt;ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) ito&lt;br /&gt;ompungboru ( bao ) eda&lt;br /&gt;inang ( anggiboru ) #####&lt;br /&gt;anggia angkang&lt;br /&gt;anggia ( pahompu ) #####&lt;br /&gt;inang ( bao ) #####&lt;br /&gt;inang ( parumaen ) inang&lt;br /&gt;amang ( simatua ) inang&lt;br /&gt;inang ( simatua ) inang&lt;br /&gt;tunggane #####&lt;br /&gt;tulang bere&lt;br /&gt;nantulang bere&lt;br /&gt;tulang na poso #####&lt;br /&gt;nantulang na poso #####&lt;br /&gt;bere nantulang&lt;br /&gt;ito ito&lt;br /&gt;parumaen/maen nanmboru&lt;br /&gt;amang ( na mambuat maen ni iba ) inang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu di ingat :&lt;br /&gt;§ Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso&lt;br /&gt;§ Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso&lt;br /&gt;§ Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya 'Amang' karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya 'Tulang rorobot' karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya. Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya 'Tulang' dan si laki-laki harus tetap memanggil saya 'Bapatua/bapauda'.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106137763140577639?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106137763140577639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106137763140577639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106137763140577639' title='Paratur ni Parhundulon '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106136170511976946</id><published>2003-08-20T13:41:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:42:01.813+07:00</updated><title type='text'>Pesta Unjuk</title><content type='html'>Pesta Unjuk terbagi dalam 2 kategori : dialap jual dan ditaruhon jual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dialap Jual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengantin pria datang beserta dengan keluarga menjemput pengantin wanita dari rumah orangtuanya dengan membawa bakul berisi makanan daging dan ditutup dengan ulos.&lt;br /&gt;Pelaksana pesta adalah pihak parboru (keluarga wanita). Pihak paranak (keluarga pria) menjadi tamu yang dilayani oleh pihak parboru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ditaruhon jual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengantin wanita diantar keluarganya kepada pengantin pria di rumah orangtua pria. Pelaksana pesta adalah pihak paranak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak paranak melayani tamunya, yaitu pihak parboru&lt;br /&gt;Pesta Unjuk ini dilakukan pada hari yang sama dengan perberkatan pernikahan. Setelah selesai pemberkatan dilanjutkan dengan Pesta Unjuk di tempat pesta dengan kegiatan :&lt;br /&gt;Kedua belah pihak (paranak dan parboru) masing-masing menerima dan menyambut kedatangan hula-hula (keluarga laki-laki dari Ibu). Undangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai Penyampaian hantaran makanan setelah undangan telah lengkap (masing-masing pihak telah hadir). Berdoa dan makan bersama. Pada saat makan bersama keluarga pengantin pria dan wanita datang menemui undangan yang sedang makan sambil mengucapkan selamat datang, selamat makan dan mohon maaflah atas kekurangan-kekurangan pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian jambar, yang dimulai dengan keluarga wanita dan keluarga pria, dilanjutkan dengan pembagian diantara keluarga masing-masing pihak keluarga.&lt;br /&gt;Pasahathon Tumpak. Tumpak (dibaca tuppak) adalah sumbangan para undangan dari keluarga pengantin pria kepada orangtua pengantin pria dalam bentuk uang yang dimasukkan ke dalam amplop, kemudian dimasukkan dalam baskom yang diletakkan di depan orangtua pria. Pengantin wanita harus mengambil amplop-amplop yang ada dalam baskom, namun hanya boleh mengambil sekali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasahathon hata (Marhata), dimulai dengan keluarga pria melalui "spokeman" atau juru bicara (dalam batak disebut Parsinabung) menyampaikan pinggan panungkunan (satu piring yang berisi beras, sirih dan uang) kepada keluarga wanita. Pihak keluarga wanita melalui juru bicaranya kemudian menerimanya, dan mengajukan pertanyaan apa maksud dan tujuan kedatangan ke tempat keluarga wanita dalam bentuk penyampaian umpasa. Juru bicara pihak laki-laki tentunya menjawab pertanyaan tersebut dengan umpasa juga. Setelah tanya jawab berlangsung, kedua belah pihak sepakat melaksanakan seluruh percakapan yang disepakati pada waktu marhusip dan melaksanakannya]. Hula-hula kedua belah pihak merestui kesepakatan kedua keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga pria menyampaikan sinamot kepada keluarga wanita melalui juru bicaranya (parsinabung). Keluarga pria menyampaikan "Todoan" kepada orang yang termasuk "Suhi Ni Ampang na opat" keluarga wanita. Todoan itu merupakan presentase tertentu dari jumlah sinamot. Yang termasuk dalam Suhi Ni Ampang Na Opat adalah :&lt;br /&gt;Keluarga saudara laki-laki Bapak pengantin wanita terdekat&lt;br /&gt;Keluarga saudara laki-laki pengantin wanita terdekat.&lt;br /&gt;Keluarga saudara perempuan pengantin wanita terdekat.&lt;br /&gt;Keluarga saudara laki-laki ibu pengantin wanita terdekat.&lt;br /&gt;Keluarga pengantin perempuan bersama keluarga pria memberikan Tintin Marangkup kepada keluarga saudara laki-laki ibu pengantin pria yang terdekat.&lt;br /&gt;Keluarga pengantin wanita membagikan pinggan panganan kepada beberapa undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga wanita menyampaikan ulos imbalan sinamot dengan urutan :&lt;br /&gt;Ulos Pansamot kepada orangtua pengantin&lt;br /&gt;Ulos Hela kepada keluarga mempelai ditambah dengan 1 sarung kepada pengantin pria.&lt;br /&gt;Ulos Pamarai kepada saudara Bapak pengantin pria atau saudara pengantin pengantin pria terdekat yang telah berkeluarga&lt;br /&gt;Ulos Sihunti jual kepada keluarga saudara perempuan pengantin pria yang terdekat&lt;br /&gt;Ulos-ulos lainnya dengan jumlah yang telah ditentukan dan disepakati bersama.&lt;br /&gt;Setelah penyampaian ulos Sihunti jual maka keluarga pengantin pria membagikan amplop berisi uang kepada beberapa undangan.&lt;br /&gt;Penyampaian ulos holong kepada kedua mempelai dengan urutan :&lt;br /&gt;Dongan tubu diikuti boru&lt;br /&gt;Hula-hula keluarga pengantin wanita&lt;br /&gt;Hula-hula pengantin pria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak keluarga wanita memberikan restu kepada keluarga pria yang didahului oleh hula-hula. Pihak keluarga pengantin pria mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga pengantin wanita dan semua undangan Orangtua pengantin laki-laki mengucapkan terima kasih kepada semua undangan. Pembagian olop-olop (uang ratusan/ribuan rupiah) yang berasal dari keluarga pengantin wanita dan pria keapda undangan yang masih ada Penutup (Bernyanyi bersama dan berdoa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumit ? Itulah seni dari adat batak itu. Ini hanya satu bagian saja, belum bagian yang lain. Mudah-mudahan bisa bermanfaat, terutama bagi para naposo yang hendak melaksanakan dan melangsungkan pernikahan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber : milis Gen-B posted by Eewin P &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:winrap@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;winrap@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106136170511976946?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106136170511976946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106136170511976946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106136170511976946' title='Pesta Unjuk'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-106129387696151083</id><published>2003-08-19T18:51:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:39:08.290+07:00</updated><title type='text'>Naniura</title><content type='html'>oleh : Bondan Winarno [kolom : Jalansutra]&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis rubrik &lt;strong&gt;Asal Usul&lt;/strong&gt; di Kompas Minggu yang telah menyinggahi banyak tempat di dunia dan mencicipi hidangan khas tempat-tempat yang disinggahinya. (e-mail: &lt;a href="mailto:bwinarno@xxxxxxx.net.id"&gt;bwinarno@xxxxxxx.net.id&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang jurumasak (chef) yang bekerja di sebuah hotel di London, menulis surat dalam bahasa Indonesia yang cukup bagus. Katanya, dia selalu membaca "Jalansutra" di Kompas Cyber Media. Suratnya itu sekaligus memprotes. Potret Anda di situ memakai topi chef, tetapi kok artikel tentang makanan dan kuliner sangat sedikit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, "peringatan" itu membuat saya harus menulis tentang makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menyukai makanan etnis. Apa saja yang berbau etnis, pasti saya lahap. Salah satunya adalah masakan Batak atau Tapanuli. Persis seperti masakan Bali yang sering dicurigai selalu mengandung bahan yang tidak halal, masakan Tapanuli pun menderita persoalan yang sama. Bahkan, karena masakan Batak mengenal adanya resep tertentu yang dibuat dari daging anjing, maka semuanya dianggap mengandung daging anjing. Padahal, masakan dari daging anjing bukanlah makanan yang paling populer dalam kuliner Tapanuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Medan, ada sebuah restoran yang sengaja memisahkan bagian yang menyajikan daging anjing. Bukan saja dipisah dengan sekat, melainkan dipisah dalam dua bangunan. Bagian restoran yang menyajikan masakan dengan daging anjing di satu sisi jalan. Lalu, berseberangan jalan dengan rumah makan itu terdapat sebuah restoran lain yang menyajikan masakan-masakan yang tidak mengandung daging anjing. Di kalangan penggemar masakan Batak dikenal istilah B2 untuk daging babi, dan B1 untuk daging anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan kita bicarakan di sini adalah justru makanan halal yang disajikan di rumah makan masakan Tapanuli. Di jaringan rumah makan Lapo Ni Tondongta di Jakarta, selalu tersedia ayam goreng dan ikan goreng untuk mereka yang menghendaki masakan halal. Tetapi, itu 'kan tidak khas Tapanuli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada masakan ikan yang khas Tapanuli, disebut arsik. Ada sedikit perbedaan antara arsik Karo dan Tapanuli. Biasanya arsik Karo lebih kering, sedangkan arsik Tapanuli lebih berkuah dan encer. Jenis bumbunya pun sedikit berbeda. Kebanyakan arsik dibuat dari ikan mas, direbus atau dikukus dalam kuah bumbu kuning. Kawan-kawan Batak, sama seperti kawan-kawan dari Makassar, paling suka bagian perut ikan. (Orang Tionghoa menganggap bagian ikan yang paling enak adalah di bagian pipi. Padahal, daging pipi itu sangat sedikit). Bagian perut ikan paling berlemak dan kurang banyak durinya. Tidak heran bila kita datang kesiangan ke rumah makan Tapanuli, kita tidak akan kebagian arsik bagian perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi masakan ikan yang khas Tapanuli, tetapi tidak sepopuler arsik. Kadang-kadang orang Batak sendiri terkejut kalau mendengar orang non-Batak menyebut hidangan ikan yang satu ini. Namanya naniura. Hidangan ini pun biasanya dibuat dari ikan mas. Bedanya, bila arsik direbus atau dikukus, maka naniura justru tidak dimasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan mas utuh - atau dipotong-potong bila besar - direndam selama semalam dalam bumbu-bumbu yang terutama terdiri atas jeruk nipis dan asam jawa (tamarin). Konon, rendaman jeruk nipis dan asam jawa itulah yang secara kimiawi membuat ikan mentah itu tidak terasa amis dan alot seperti laiknya ikan mentah. Hampir setiap rumah mempunyai resep naniura sendiri, sehingga agak sulit mencari standar baku naniura. Naniura bikinan Lapo Ni Tondongta, misalnya, berbeda dengan naniura bikinan ibu teman saya yang sungguh lezat. (Khususnya karena tidak usah bayar!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda percaya bahwa sebetulnya orang-orang Filipina itu bernenek-moyang orang Tapanuli, maka mungkin bukti itu bisa ditemukan secara kuliner. Di daerah sekitar General Santos City (Gensan City), di Filipina Selatan, dikenal masakan yang disebut kinilauw. Kinilauw biasanya dibuat dari ikan tuna, sesuai dengan letak Gensan City yang di tepi pantai dan merupakan tempat pendaratan nelayan yang memancing tuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging ikan tuna yang merah itu dipotong dadu kecil-kecil lalu dicampur dengan bawang merah dan timun yang dirajang sangat halus. Semua ini direndam selama semalam dalam larutan cuka (wine vinegar atau rice vinegarkinilauw pada satu acara potluck brunch di rumah teman. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang dimakannya adalah ikan mentah. Saya juga pernah membuat kinilauw dari ikan mas karena sebagai penderita asam urat tidak boleh makan terlalu banyak tuna. Hasilnya ?E enak tenaaaan. Kinilauw dari ikan kakap juga membuat lidah bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hawaii juga ada hidangan yang mirip kinilauw maupun naniura. Di Hawaii hidangan ikan mentah itu disebut lomi-lomi. Anehnya, sekalipun Hawaii jauh dari kawasan laut yang menghasilkan salmon, lomi-lomi yang paling populer di Hawaii adalah lomi-lomi salmon. Cara pembuatannya sangat mirip dengan kinilauw - dalam arti tidak memakai asam jawa seperti naniura - tetapi ditambah irisan tomat yang membuatnya lebih segar. Berbagai daging ikan lain yang cocok untuk membuat lomi-lomi adalah: tuna, opakapaka (kakap putih), mahi-mahi (lemadang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati bila membuat lomi-lomi dari tuna atau lemadang. Perendaman selama semalam harus dilakukan di dalam lemari es. Soalnya, tuna dan lemadang adalah jenis ikan yang mengandung histamin alamiah. Bila terlalu lama berada pada suhu di atas nol derajat, maka histaminnya akan berkembang dan membuat pemakannya menjadi gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinilauw dan naniura pun sebaiknya direndam semalam di dalam lemari es. Kalau mengikuti aturan FDA (Food and Drugs Administration) di Amerika Serikat, penanganan ikan mentah itu harus mengikuti rumus: keep it cold, keep it clean, keep it moving.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sudah ngiler, 'kan? Ayo, buruan ke pasar beli ikan!&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kalo mau tau resepnya ada nich :&lt;br /&gt;bumbu :&lt;br /&gt;- asam jeruk (saya ga tau namanya asam apa, tapi kaya' jeruk purut modelnya) kalau pake' jeruk nipis katanya agak pahit,&lt;br /&gt;- kunyit diparut, terus disaring, jadi yang dipake cuma airnya,&lt;br /&gt;- kacang tanah disangrai &amp; ditumbuk kasar bisa diganti dengan kemiri dibakar kemudian digiling halus&lt;br /&gt;- bawang 'batak', bawang merah + bawang putih + 'rias' == disangrai, kemudian dihaluskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;caranya :&lt;br /&gt;Satu ekor ikan mas (sebaiknya paling kecil ukurannya lebih dari 1/2 kg) dibersihkan, dibelah. Semua tulang, duri lunak &amp;amp; sisiknya harus benar-benar&lt;br /&gt;bersih, dagingnya dikerat. Siram dengan air panas, kemudian rendam dengan air asam &amp; garam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah warna ikan berubah (karena direndam garam &amp;amp; asam), semua bumbu dimasukkan. Untuk kunyit sedikit saja, supaya rasanya nggak seperti jamu.&lt;br /&gt;Diamkan beberapa jam (supaya bumbu benar-benar meresap). Kalau mau rasanya lebih khas pakailah 'andaliman' tapi warnanya jadi tidak cerah.&lt;br /&gt;sumber : &lt;b&gt;Gen_B@yahoogroups.com&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-106129387696151083?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106129387696151083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/106129387696151083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106129387696151083' title='Naniura'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-105953639737514247</id><published>2003-07-30T10:39:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:37:05.876+07:00</updated><title type='text'>Silahisabungan</title><content type='html'>Keturunan Raja Silahisabungan adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sihaloho&lt;br /&gt;2.Situngkir&lt;br /&gt;3.Sondi&lt;br /&gt;4.Sinabutar&lt;br /&gt;5.Sidabariba&lt;br /&gt;6.Sidebang(Sinabang)&lt;br /&gt;7.Pintu Batu.&lt;br /&gt;8.Tambun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Raja Silahisabungan dari no:1 Sampai no 7 lahir dari Isteri Pertama,Sedangkan no:8 (Tambun lahir dari Ina kedua).Menurut Sejarah Raja Silahisabungan mempunyai seorang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu Ketika Raja Silahisabungan memberi nasehat(Poda )kepada kesembilan keturunannya. Isi dari nasehat tsb.Terkenal dengan Nama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PODA SAGU-SAGU MARLANGAN. OMPU RAJA SILAHISABUNGAN.&lt;br /&gt;Tujuan dp Poda ini adalah untuk mempersatukan seluruh Keturunan Silahisabungan di seluruh Dunia.Konon Ikrar ini diucapkan di Silalahi nabolak dimana disana terdapat dua buah batu. satunya berdiri tegak dan satunya tergeletak ketanah.Barangsiapa yang&lt;br /&gt;mematuhi petuah ini,maka keturunannya akan berdiri kokoh,tetapi barang siapa yang mengingkari,maka dia akan seperti batu yang rebah ketanah.(Batu ini disebut Batu jongjong dan batu nagadap)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuahnya kepada anak-anaknya dan kita semua keturunannya adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.INGKON MASIHAHOLONGAN HAMU SAMA HAMU DOHOT RODI POMPARAN MUNA BE.&lt;br /&gt;( HENDAKLAH KAMU SALING MENGASIHI SATU SAMA LAIN HINGGA KEPADA SELURUH KETURUNANMU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.NASO TUPA DOHONON MUNA NASO SAAMA -SAINA HAMU NAPITU DOHOT SI TAMBUN RAJA. JALA INGKON SISADA BORU DO HAMU.&lt;br /&gt;(JANGANLAH MENYEBUT BAHWA KALIAN BERTUJUH TIDAK MEMPUNYAI SATU IBU DENGAN ADIKMU TAMBUN RAJA.DAN HARUS SISADA BORU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.HAMU NAPITU DOHOT ANGKA PINOMPARMU,INGKON HUMOLONG ROHAMU DI BORU NI ANGGIMUNA SI TAMBUN RAJA RODI POMPARANNA.JALA HOPE TAMBUN RAJA DOHOT SANDOK POMPARANMU INGKON HUMOLONG ROHAM DI BORU NI ANGKA HAHAM RODI POMPARANNA.&lt;br /&gt;(KALIAN BERTUJUH BESERTA KETURUNANMU,HARUS LEBIH SAYANG KEPADA PUTRI ADIKMU TAMBUN RAJA DAN KETURUNANNYA.DAN KAMU PUN TAMBUN RAJA DAN BESERTA SELURUH KETURUNANMU HARUS LEBIH SAYANG KEPADA PUTRI ABANGMU BESERTA KETURUNANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.NASO JADI OLION NI NAPITU POMPARANNI ANGGIMMU SI TAMBUN RAJA ON.JALA NASO JADI OLION NI POMPARAN NI TAMBUN RAJA POMPARAN NI SUDE HAHAM NAPITU ON.&lt;br /&gt;(KALIAN BERTUJUH DAN SELURUH KETURUNANMU TIDAK BOLEH MENIKAH DENGAN SELURUH KETURUNAN ADIKMU TAMBUN RAJA,DEMIKIAN JUGA KAMU TAMBUN RAJA BESERTA SELURUH KETURUNANMU TIDAK BOLEH MENIKAH DENGAN SELURUH KETURUNAN ABANGMU YANG TUJUH INI.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.NASO TUPA PUNGKAONMU BADA MANANG SALISI.IA ADONG PARBADAAN DIHAMU NAPITU SAHAT RODI POMPARAN MUNA,SANDOK INGKON ANGGIMUNA MA MANANG POMPARANNA SIBAHEN DAME DIHAMU,MAMBAHEN UHUM NA TINGKOS JALA NASO BOI MARDINGKAN.INGKON OLOAN JALA TUNG SO JADI JUAON MUNA.LAOS SONGONI HO TAMBUN RAJA,IA ADONG PARBADAAN DI POMPARAN MUNA,SANDOK INGKON SIAN POMPARAN NI HAHAM NAPITU ON MA SIBAHEN DAME JALA SIDABU UHUM NATINGKOS,NASO TUPA MARDINGKAN,JALA NASO JADI JUAON MUNA.JALA MOLO ADONG PARBADAAN DIHAMU NASO&lt;br /&gt;TUPA DOHOT HALAK NAASING LAHO PASAEHON,&lt;br /&gt;(TIDAK BOLEH MEMULAI PERTENGKARAN DAN PERSELISIHAN.BILA ADA PERSELISIHAN DIANTARA KALIAN BERTUJUH DAN SELURUH KETURUNANMU,YANG MENJADI JURU DAMAI ADALAH DARI TAMBUN RAJA DAN DARI KETURUNANNYA.MEMBUAT SUATU HUKUM YANG ADIL DAN TIDAK MEMIHAK DAN HARUS KALIAN PATUHI.DEMIKIAN JUGA KAMU TAMBUN RAJA ,BILA ADA PERSELISIHAN DIANTARA KETURUNANMU ,DAN SEBAGAI JURU DAMAI HARUSLAH DARI KETUJUH ABANGMU INI ATAU DARI KETURUNANNYA YANG MEMBERIKAN HUKUM YANG ADIL DAN TIDAK MEMIHAK DAN HARUS KAMU PATUHI.dAN BILA ADA&lt;br /&gt;PERSELISIHAN DIANTARA KALIAN DAN KETURUNAN MU,TIDAK BOLEH MARGA LAIN IKUT CAMPUR UNTUK MENYELESAIKANNYA.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMIKIANLAH PETUAH LELUHUR KITA SILAHISABUNGAN UNTUK KITA JALANKAN DALAM KEHIDUPAN KEKELUARGAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting oleh : Walsinur Silalahi pada : Tuesday, July 29, 2003 9:03 PM&lt;br /&gt;di : Gen_B@Yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-105953639737514247?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105953639737514247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105953639737514247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_07_01_archive.html#105953639737514247' title='Silahisabungan'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-105912355288966780</id><published>2003-07-25T15:59:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:37:56.040+07:00</updated><title type='text'>Samosir</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peninggalan Raja di Samosir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DI Pulau Samosir yang dikelilingi air Danau Toba ternyata ada tempat bersejarah bekas kerajaan Samosir tempo doeloe. Tepatnya di daerah Ambarita terdapat istana yang pernah dipimpin tiga raja Samosir yaitu, Raja Sialagan, Sidabutar dan Raja Sidauruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalam raja-raja kuna yang hingga tahun 1916 mengakhiri pemerintahannya itu, bukti sejarah secara fisik masih dipelihara dan dipertahankan masyarakat Ambarita. Ternyata sisa peninggalannya mampu menarik kunjungan wisata bagi wisatawan dari berbagai penjuru yang datang ke Pulau Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Areal bekas Kerajaan Samosir di Ambarita cukup luas. Di sekelilingnya dibenteng tembok permanen setinggi 3 meteran yang di atas temboknya terpasang bambu runcing. Masuk ke kawasan kerajaan terlihat sebuah patung manusia setinggi 6 meteran. Sekitar 50 meter dari bangunan patung pintu masuk kerajaan dijaga ketat petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk di dalam kawasan bekas kerajaan Samosir itu, membuat ingatan seakan berada di masa silam. Betapa tidak, pepohonan rindang tumbuh mengelilingi istana. Istana raja yang konon dibangun 350 tahun silam. Istana raja terbuat dari kayu jati, dicat tiga warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga warna menandakan, merah artinya berani, hijau artinya singa dan warna hitam artinya simbol mati. Simbol warna menandakan bahwa di kerajaan Samosir siap menerima tantangan dengan keberanian perlawanan seperti singa. Dan siap mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pintu depan Istana Raja yang terukir arsitek Batak terpasang sebuah kepala kerbau sebagai lambang kerajaan Samosir. Di bawah bangunan istana (kolong) yang dikelilingi kayu jati rapat, dan di pintu masuk rapat terkunci. Konon di kolong Istana dulunya dipakai para tahanan yang melanggar aturan adat Samosir. Atau dijadikan tempat para tawanan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman istana terdapat puluhan kursi dan meja yang terbuat dari batu. Konon tempat itu untuk tempat rapat-rapat raja dengan para pemimpin adat Samosir. Di sampingnya berdiri sebuah batu datar berukuran 2 x 1 x 0,8 meter. Konon batu itu tempat untuk menghukum pesakitan-pesakitan yang sudah tak jera melakukan pelanggaran adat. Seperti mencuri, menyerobot tanah milik orang lain, berzinah, atau membunuh nyawa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu masuk kawasan kerajaan yang luas itu terdapat tiga makam raja, Raja Sialagan, Sidabutar dan Raja Sidauruk. Ketiga makam raja berada di dalam batu yang dibentuk sebuah kotak. Konon saban tahun mayat para raja di dalam batu itu sering dipertontonkan kepada masyarakat Ambarita atau para keluarga kerajaan yang datang dari berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada sebuah bangunan luas bertingkat. Rumah yang terbuat dari rangkaian kayu berukir itu tempat disyahkannya pernikahan masyara-kat Samosir pada masa pemerintahan Raja Samosir. Sesuai adat Samosir, seorang laki-laki yang akan menikah harus memilih wanita yang berusia minimal 17 tahun. Calon pengantin pria sebelum menikah harus punya pekerjaan seperti bertani atau beternak kerbau, babi atau pandai mencari ikan di Samosir. Jika tak memiliki persyaratan itu Raja tak merestui perkawinan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah disyahkannya perkawinan itu maka bagi kedua pengantin wajib mematuhi segala peraturan kerajaan," kata SP Matondang pemandu wisata yang mengaku masih keturunan raja Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum pancung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Samosir sewaktu berdirinya kerajaan, tergolong kerajaan yang adil, gemah ripah, aman tentram. Masyarakatnya selalu mematuhi peraturan adat kerajaan. Jika tidak hukuman dan ancaman yang dibebankan kepada si pelanggar adat begitu berat, sampai-sampai harus menjalani hukum pancung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum pancung dilakukan seandainya si pelanggar adat sudah tiga kali melakukan pelanggaran. Cara menghukumnya terkesan sadis. Pesakitan ditidurkan di atas batu yang diberi nama batu hukuman. Sambil disaksikan masyarakat Samosir dan melakukan doa-doa, perut pesakitan ditoreh dengan pedang tajam algojo. Lantas ulu hati pesakitan diambil dan ramai-ramai dimakan para penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melakukan hukuman pancung bisa dilakukan itu berdasarkan keputusan musyawarah Raja, pemimpin adat dan para ponggawa kerajaan," kata SP Matondang yang pada waktu itu secara simbolis praktek hukum pancung didemonstrasikan untuk disaksikan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dikenal dengan amannya situasi di kerajaan Samosir, membuat kaum penjajah merasa penasaran ingin memporak-porandakan kerajaan. Pada abad ke 20 beberapa kali rakyat Samosir melakukan perlawanan perang fisik terhadap kaum penjajah yang mau mennghancurkan kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti sejarah di sekitar makam raja terdapat makam para pahlawan Samosir yang gugur dalam peperangan itu. Dan tak sedikit pula kaum penjajah tewas di Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya karena sering peperangan dibuatlah benteng pertahanan yang di atasnya dipasang bambu runcing. Maksudnya jangan sampai lawan perang masuk ke kawasan istana," kata SP Matondang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarah, runtuhnya kerajaan Samosir yang pada waktu itu dipimpin Raja Sidauruk, dihancurkan Belanda pada tahun 1916. Dan pada waktu itu kerajaan dibubarkan Belanda. Meski kerajaan Samosir sudah dibubarkan Belanda, kenyataannya hukum pancung yang dikenakan bagi para pelanggar peraturan di Samosir masih dilanjutkan dan diberlakukan oleh para pemimpin adat. Namun pada tahun 1961 berkat prakarsa pihak gereja, hukum pancung dilarang sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian tor-tor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju ke persinggahan bekas istana kerajaan Samosir harus mengalami proses perjalanan jauh dan melelahkan. Dari kota Prapat menuju penginapan Hotel Sidolog di Tomok berlayar dengan perahu motor di danau Toba memakan waktu sekitar tiga jam. Selama di permukaan Toba, terlihat bangunan adat rumah Batak "Huta Gakasi" yang berjejer berdiri sepanjang mulut Toba. Sebagian lagi terlihat rumah adat Batak gaya Siap Porik di Pantai Simaminto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat di pinggiran Toba giat mencari ikan di danau. Sebagian lagi bertani dan bertanam palawija. Selama rombongan diperjalanan masyarakat banyak yang melambaikan tangan, seolah tahu penumpang di kapal motor yang memuat sekitar 70 penumpang itu tamu kehormatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singgah di Tomok disambut tiga wanita muda berkulit hitam dengan berbusana khas Samosir. Rombongan dipersilahkan untuk beristirahat di Hotel Sidolig yang Refresentatif. Tomok merupakan suatu daerah pusat pertokoan di Samosir. Di sini terdapat pasar tradisional yang penuh dengan berbagai barang souvenir, seperti pakaian, ukir-ukiran, buah durian dan makanan khas Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginap semalaman di hotel, rombongan segera menuju ke Ambarita menggunakan perahu motor selama dua jam di Toba. Ketika mendarat puluhan pria wanita berpakaian adat Samosir menyambut kedatangan tamu. Pada kesempatan itu rombongan sempat menyaksikan sebuah tarian tor-tor. (H Undang Sunaryo/Galura)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take from : &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com"&gt;Harian Pikiran Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;posted by : &lt;a href="mailto:goland_mail.yahoo.com"&gt;goland&lt;/a&gt; at &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/lapotuak/"&gt;Lapotuak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-105912355288966780?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105912355288966780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105912355288966780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_07_01_archive.html#105912355288966780' title='Samosir'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-105904769925642721</id><published>2003-07-24T18:54:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:35:57.533+07:00</updated><title type='text'>Si Opat Pisoran [Panggabean]</title><content type='html'>From : Apul P Simorangkir (13)/br.Sitanggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simorangkir itu adalah Panggabean...&lt;br /&gt;Panggabean terdiri dari Panggabean Lumbanratus, Panggabean Simorangkir &amp;amp; Panggabean Lumbansiagian. Menurut sejarah yang ada...pernah terjadi incest antara Panggabean Lumbanratus atau Panggabean Lumbansiagian dengan Panggabean Simorangkir. Maka Panggabean Simorangkir menyebut dirinya Simorangkir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sampai sekarang Panggabean Simorangkir menyebut dirinya Simorangkir. Tetapi dalam adat Panggabean itu adalah satu yang sama-sama berdiri yakni Panggabean Lumbanratus, Panggabean Simorangkir Dan Panggabean Lumbansiagian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Gen_B/"&gt;milis gen-b&lt;/a&gt; : sent : Tuesday, May 07, 2002 8:16 AM&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-105904769925642721?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105904769925642721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/105904769925642721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_07_01_archive.html#105904769925642721' title='Si Opat Pisoran [Panggabean]'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-92256773</id><published>2003-04-09T07:59:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:46:34.813+07:00</updated><title type='text'>soal Akta Kelahiran</title><content type='html'>Warga Keluhkan Pembuatan Akta&lt;br /&gt;BANDUNG, (PR).-&lt;br /&gt;Sejumlah warga keluhkan aturan pembuatan akta kelahiran yang tidak memperbolehkan memasukkan nama marga atau fam di dalamnya. Pasalnya aturan itu dikhawatirkan bisa memutuskan nama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bikin akta kelahiran anak via rumah sakit. Menurut petugas memang ada peraturannya. Alhasil, anak saya yang papanya orang Batak, ngga bisa menyandang nama marga di dalam akta kelahirannya. Kalau memang ada peraturannya, menurut saya sih ngga ada gunanya. Malah bisa memutuskan nama keluarga," keluh seorang ibu yang tengah mengurus akta anaknya lewat RS Limijati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang warga, Juanto Sitorus menilai, peraturan ini sudah merupakan kejahatan yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya yaitu berniat melenyapkan jati diri suku tertentu yang berarti melenyapkan beberapa suku bangsa dari negeri ini. Diketahui, pemakaian marga atau fam sudah menjadi tradisi suku-suku yang berasal dari Sumatera Utara, seperti Batak Toba, Nias, Simalungun, Karo, PakPak, dan Mandailing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga yang berasal dari Indonesia bagian timur seperti Manado, Ambon, Timor, Flores, dan Irian. Bagi suku-suku ini, marga atau fam adalah jati diri dan juga harga diri yang melekat di belakang nama keturunannya. Pemakaian marga atau fam itu bahkan ada yang sudah berlangsung selama 30 generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi mereka, marga atau fam adalah identitas yang melekat dan utuh pada budaya itu sendiri yang tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, memisahkan marga dari nama berarti memisahkan keturunan dari jati diri suku bangsa ini dan memisahkan mereka dari generasi sebelumnya," tutur Juanto Sitorus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pemakaian nama keluarga juga lazim di luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan ada yang mengharuskan pencantuman nama keluarga dalam paspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kependudukan Kota Bandung, Siti Djuariah mengakui adanya aturan itu. Menurutnya, aturan itu sudah menjadi aturan catatan sipil seluruh Indonesia dan sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir ini. Kota Bandung sendiri memang menerapkan aturan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, kita bikin aturan lain. Dalam akta memang tidak boleh mencantumkan nama marga atau fam. Tapi kita bikin lampiran tambahan. Nah, penempatan nama marga atau fam itu ditempatkan dalam lampiran. Terobosan itu kini sudah diadopsi daerah-daerah lain," tandasnya. (A-63/A-95)***&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-92256773?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/92256773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/92256773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_04_01_archive.html#92256773' title='soal Akta Kelahiran'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-90911228</id><published>2003-03-18T15:12:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T12:00:33.206+07:00</updated><title type='text'>Adat dalam cara Meninggal Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ADAT UNTUK WARGA YANG MENINGGAL DUNIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oleh : Tumpal Siahaan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi. Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersendiri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama (dapat dijelaskan secara singkat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian ULOS SAPUT&lt;br /&gt;Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian ULOS TUJUNG&lt;br /&gt;Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian ULOS HOLONG&lt;br /&gt;Dari semua pihak Hula-hula, Tulang Rerobot bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni Anak Manjae/Hula-hula ni na Marhaha Maranggi, berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya :&lt;br /&gt;Babi/Kambing, disebut Siparmiak-miak&lt;br /&gt;Sapi, disebut Lombu Sitio-tio&lt;br /&gt;Kerbau, disebut Gajah Toba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubunngan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/stuak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : Milis Generasi Batak, diposting oleh : Moderator [genbatak@yahoo.ca] pada hari Rabu, 13 Maret 2002 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-90911228?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/90911228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/90911228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_03_01_archive.html#90911228' title='Adat dalam cara Meninggal Dunia'/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-89826197</id><published>2003-02-27T14:58:00.000+07:00</published><updated>2003-02-28T09:57:19.420+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Batak on Web !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng, aku ketik '&lt;b&gt;batak&lt;/b&gt;' dan '&lt;b&gt;tano batak&lt;/b&gt;' di &lt;a href="http://www.google.com" target="_blank"&gt;google&lt;/a&gt;. Sekedar pengen tau aja. Ternyata ada beberapa temuan menarik. Berikut ini adalah beberapa diantaranya yang aku urutkan dari yang &lt;i&gt;ketemu&lt;/i&gt; paling awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada situs soal &lt;a href="http://www.batakweb.com/" target="_blank"&gt;batak&lt;/a&gt; yang sepertinya diharapkan menjadi portal orang Batak. Mirip dengan ini ada juga yang disebut &lt;a href="http://trans-batak.tripod.com/" target="_blank"&gt;trans-batak&lt;/a&gt;. Hanya yang terakhir kelihatannya kurang 'dirawat' dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada situs 'regional' yang ditujukan untuk marga tertentu saja. contohnya adalah aya yang dikembangkan oleh marga &lt;a href="http://www.gultomnet.com/" target="_blank"&gt;Gultom&lt;/a&gt; ini. Mereka merancang satu situs khusus untuk Gultom dan keturunannya. Coba semua &lt;a href="http://members.tripod.com/~Simbolon/marga.htm" target="_blank"&gt;marga&lt;/a&gt; yang ada di tanah batak membuat seperti ini :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://207.21.204.121/marsada/toba.asp" target="_blank"&gt;Marsada.com&lt;/a&gt; adalah situs tentang satu group band Batak [boleh juga mereka ini]. Ada lagi yang disebut dengan &lt;a href="http://www.geocities.com/Tokyo/Flats/2443/" target="_blank"&gt;batak.net&lt;/a&gt;. Isinya sekilas soal tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang aksara, ada beberapa situs. Ada soal &lt;a href="http://www.omniglot.com/writing/batak.htm" target="_blank"&gt;tulisan batak&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.hawaii.edu/indolang/surat/" target="_blank"&gt;aksara batak&lt;/a&gt;, bahkan font untuk komputer yang disebut &lt;a href="http://www.newfonts.com/View/BatakBC.html" target="_blank"&gt;ITC Batak Bold Cond&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain urusan aksara, &lt;a href="http://members.tripod.com/~sitogol/" target="_blank"&gt;orang batak&lt;/a&gt; dikenal juga dengan keragaman &lt;a href="http://www.ethnologue.com/show_family.asp?subid=1330" target="_blank"&gt;etnologi&lt;/a&gt; [benar gak ya, aku pake istilah ini ?] seperti halnya &lt;a href="http://joewono.tripod.com/moch_djoko_yuwono/id22.html" target="_blank"&gt;hikmah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://philtar.ucsm.ac.uk/encyclopedia/indon/batak.html" target="_blank"&gt;religi&lt;/a&gt; dan aneka kerajinan. Dua diantara kerajinan yang dijual di dunia maya adalah : &lt;a href="http://www.importu.com/acun-sedh01.html" target="_blank"&gt;tempat naskah&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.importu.com/acun-semc01.html" target="_blank"&gt;tempat obat&lt;/a&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula cerita soal &lt;a href="http://www.tanahkaro.com/" target="_blank"&gt;tanah karo&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://takasima.web.com/" target="_blank"&gt;tanah karo simalem&lt;/a&gt; atau 'tanah karo yang indah' serta &lt;a href="http://www.expat.or.id/info/karobatakwedding.html" target="_blank"&gt;pernikahan antar etnis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika rindu dengan suasana &lt;a href="http://web.inter.nl.net/users/projection3/EDSINDOCHESS.html" target="_blank"&gt;lapo&lt;/a&gt;, di sini ada gambarnya :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-89826197?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89826197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89826197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_02_01_archive.html#89826197' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-89685800</id><published>2003-02-25T10:08:00.000+07:00</published><updated>2004-08-30T11:58:35.950+07:00</updated><title type='text'>Dalihan Na Tolu </title><content type='html'>&lt;strong&gt;A.Pengertian Dalihan Na Tolu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalihan artinya tungku yang dibuat dari batu. Na artinya yang, Tolu artinya tiga. Dalihan Na Tolu artinya tiang tiga tungku. Dalihan dibuat dari batu yang ditata sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi bulat panjang, ujungnya yang satu agak tumpul dan ujung yang lain agak bersegi empat sebagai kaki dalihan, kakinya lebih kurang 10 cm, panjangnya lebih kurang 30 cm dan diameter lebih kurang 12 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dalihan yang ditanam berdekatan ini berfungsi sebagai tungku tempat memasak. Dalihan harus dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain serta tingginya sama dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selamanya periuk atau belanga sebagai alat tempat memasak cocok di atas tungku, mungkin alat masak terlalu kecil. Supaya alat masak tidak lolos atau jatuh harus dibantu dengan batu-batu kecil yang pipih yang cocok untuk dalihan sehingga alat masak dapat ditempatkan kokoh. Batu pembantu demikian disebut sihal-sihal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tungku yang terbuat dari batu tidak selamanya disebut dalihan. Misalnya dua batu diatasnya dibuat dua besi sejajar dan dipakai sebagai tungku untuk memasak, tungku yang demikian tidak boleh disebut dalihan. Jelasnya semua tungku yang dibuat dari batu, seperti tungku-tungku alat modern atau keluaran pabrik, tidak boleh dinamai dalihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalihan Na Tolu bukan sekedar tungku nan tiga untuk prasarana memasak, tetapi menyangkut seluruh kehidupan yang bersumber dari dapur. Istilah dalihan bagi sub-sub Suku Batak (Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pak-pak, Batak Angkola) tidak sama tetapi prinsipnya adalah sama. Misalnya Batak Karo dan Pak-Pak Dairi adalah daliken, sedangkan bagi Batak Toba, Batak Simalungun, Angkola Padang Lawas, Sipirok Mandailing istilahnya adalah dalihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kekerabatan Suku Batak dan pandangan hidupnya diibaratkan sama dengan Dalihan Na Tolu ini. Suhut, Hula-hula dan boru masing-masing mempunyai pribadi dan harga diri, tahu akan hak dan kewajiban sebagai pelaksana tanggung jawab pada kedudukannya pada suatu saat. Pada suatu saat kejadian, seseorang dikatakan boru tetapi pada kejadian lain ia dapat menjadi suhut atau hula-hula. Tergantung pada saat kejadian, yang penting diingat adalah siapa yang menjadi pusat kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan masing-masing elemen sama seperti Dalihan Na Tolu. Kedudukan boru bukan lebih rendah dari hula-hula. Dan hula-hula tidak sewenang-wenang memerintah pihak boru.Yang paling pokok adalah hikmah kewajiban dalam hubungan kegiatan tadi. Orang mengambil satu rumusan hikmat hubungan kegiatan tadi yaitu hula-hula hendaklah elek marboru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan hula-hula tersebut harus dipandang hormat oleh boru, sebab itu setiap boru dalam hikmatnya harus selalu somba marhula-hula. Sedangkan pusat kejadian yaitu suhut dengan teman semarganya disebut dongan tubu, hendaklah manat mardongan tubu maksudnya agar sesama semarga hendaklah bersikap perhatian dan hati-hati terhadap terjadinya perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merujuk contoh sederhana dari Dalihan Na Tolu ini, nenek moyang Suku Batak melihat kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai keluarga tidak ada ubahnya seperti keadaaan Dalihan Na Tolu.Bahwa segala sesuatu yang perlu demi kebutuhan manusia dan keluarga yang menjadi sumber perilaku seseorang dalam kehidupan sosial budaya haruslah bersumber dari tiga unsur kekerabatan ibarat tiga tiang tungku yang berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dalam bentuk kerjasama atau sama-sama saling mendukung. Ketiga unsur yang berdiri sendiri ini tidak akan berarti jika tidak saling kerjasama dan saling menopang. Unsur pertama adalah suhut dengan saudara laki-laki (teman semarga) disebut dongan dongan tubu. Unsur kedua adalah keluarga saudara suhut yang perempuan disebut boru, dan unsur ketiga adalah saudara laki-laki dari istri suhut disebut hula-hula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.Dalihan Na Tolu Sistem Kemasyarakatan Suku Batak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalihan Na Tolu adalah nilai budaya, gagasan prima dari penciptanya yang menjadi sumber atau orientasi sikap dan tingkah laku Suku Batak dalam kehidupannya pada hubungan bersosial budaya. Dalam hubungan sosial budaya tersebut Dalihan Na Tolu itu adalah sistem kemasyarakatan Suku Batak atau dalam hubungannya yang lebih khusus disebut sistem kekerabatan Pengertian Dalihan Na Tolu itu bukan hanya sistem kekerabatan saja bagi Suku Batak malahan lebih jauh daripada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menjadi menjadi inti kegiatan atau penanggung utama horja/kegiatan dinamakan suhut. Suhut ini dengan saudara-saudaranya laki-laki seibu-seayah dinamai dongan sabutuha atau dongan tubu. Dalam perkembangan selanjutnya yang menjadi kelompok kekerabatan dongan sabutuha/dongan tubu ini adalah saudara-saudara laki-laki seayah, saudara-saudara laki-laki yang memiliki nenek moyang yang sama, saudara laki-laki semarga berdasarkan sistem keturunan kekeluargaan garis laki-laki atau patrilineal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sekali si suhut tadi mempunyai istri. Orang tua dari pihak istri suhut atau mertua dari suhut dinamai hula-hula. Dalam hubungan yang lebih luas, saudara laki-laki semarga dari hula-hula berdasarkan sistem kekeluargaan patrilineal adalah menjadi hula-hula dari suhut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara perempuan suhut yang kawin dengan sesorang disebut dengan boru. Atau lebih jelasnya suami dari saudara perempuan suhut dinamai boru. Dalam hubungan lebih lanjut bahwa semua saudara-saudara laki-laki dari boru, kelompok kekerabatan dari boru, saudara laki-laki semarga dari boru menjadi boru dari suhut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sistem kekerabatan Suku Batak berdasarkan Dalihan Natolu, tiga kelompok kekerabatan yaitu dongan tubu/dongan sabutuha, hula-hula, boru yang berkaitan dalam usaha melaksanakan kegiatan. Segala kegiatan masyarakat Batak dalam hubungan sosial budaya baru dikatakan sempurna apabila talah didukung ketiga kelompok kekerabatan tadi, ibarat tiga dalihan tungku tempat memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya periuk atau belanga itu dapat ditempatkan setimbang pada dalihan maka tungku itu harus dibantu dengan batu lain sebagai penyela atau didampingi batu lain untuk menambah kekuatan tungku untuk menahan periuk atau belanga. Batu pembantu tungku tadi disebut sihal-sihal dan di dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu itu disebut ale-ale atau sahabat. Ale-ale ini pengertiannya sangat luas karena di dalamnya terdapat sistem kekerabatan rantai berkait dalam sistem kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kelompok dalam sistem Dalihan Na tolu tersebut mempunyai kewajiban masing-masing. Kelompok kekerabatan namardongan tubu berkewajiban untuk memberitahukan masalahnya atau suatu kegiatan kepada saudara-saudara seayah, senenek moyang, dan semarganya apabila ada masalah atau kegiatan. Dan saudara-saudaranya tadi merasa berkewajiban membantu secara material, moral, dan spiritual sehingga kegiatan itu dapat dilaksanakan dengan teratur dan lancar serta dapat menyelesaikan setiap masalah yang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hula-hula merasa berhak dihormati dan bekewajiban memberikan restu atas penghormatan itu. Hula-hula juga merasa berkewajiban memberikan bimbingan, pengarahan, nasihat. Bimbingan dan nasehat dari hula-hula sangat mengikat karena ia merupakan wakil Tuhan di dalam keluarga itu. Disamping itu hula-hula juga turut membantu suhut dengan material maupun spiritual apabila ada masalah. Jika ada perselisihan dalam kekerabatan keluarga maka hula-hula merasa berkewajiban mendamaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boru merasa berhak untuk dibujuk secara persuasif. Kewajibannya sangat berat. Apabila terdapat suatu kegiatan maka borulah yang bertanggung jawab penuh akan keamanan dan terselenggaranya kegiatan tersebut. Disamping kegiatan yang sangat berat, boru juga membrikan bantuan spritual, sebab itulah hati boru tetap dibujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatlah dikatakan jika dongan tubu membuat rencana dan program, maka borulah sebagai pelaksana program tadi dan hula-hula sebagai penasehat dan pembimbing, baik sebelum pekerjaan dilaksanakan maupun waktu pekerjaan itu dann setelah selesai tetap diadakan musyawarah antara tiga kelompok kekerabatan tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposting di milis Generasi Batak oleh Erikson Simanjorang [ericsson@s.ee.itb.ac.id]&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-89685800?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89685800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89685800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_02_01_archive.html#89685800' title='Dalihan Na Tolu '/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5095671.post-89682478</id><published>2003-02-25T09:13:00.000+07:00</published><updated>2003-02-28T11:21:26.000+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Proklamasi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini, Selasa 25 Februari 2003, aku resmikan satu weblog yang aku cita-citakan bisa menampung segala sesuatu yang berhubungan dengan adat istiadat dan kejadian di tanah Batak. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5095671-89682478?l=tanobatak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89682478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5095671/posts/default/89682478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanobatak.blogspot.com/2003_02_01_archive.html#89682478' title=''/><author><name>goklas-tambunan.net</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01183212441373091528</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_7OHkIJLrIzQ/ShAx6ovCEPI/AAAAAAAABO8/XjuRfGkpH94/S220/21112008-color-web.JPG'/></author></entry></feed>
